
Eskalasi Konflik: Operasi Militer AS terhadap Venezuela
Pada dini hari Sabtu, Amerika Serikat (AS) melakukan operasi militer besar-besaran terhadap Venezuela. Tindakan ini menandai peningkatan signifikan dalam hubungan antara kedua negara dan langsung memengaruhi stabilitas kawasan Amerika Latin. Operasi yang dilakukan mencakup serangan udara dan darat yang menyasar beberapa titik strategis, termasuk fasilitas militer dan infrastruktur keamanan. Pada saat yang sama, laporan ledakan di Caracas dan wilayah lainnya juga muncul.
Operasi militer ini terjadi setelah periode panjang peningkatan kehadiran militer AS di kawasan Karibia. Sebelumnya, pemerintah AS telah mengirimkan kapal induk USS Gerald R. Ford beserta armada pendukungnya ke perairan sekitar Venezuela. Tindakan ini dianggap sebagai sinyal tekanan terbuka terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro, yang selama ini diduga terlibat dalam kejahatan lintas negara.
Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa operasi tersebut tidak hanya berupa serangan militer, tetapi juga berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menulis bahwa Amerika Serikat telah melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya. Ia menambahkan bahwa Maduro telah "ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu."
Menurut informasi dari pejabat AS, penangkapan Maduro dilakukan oleh Delta Force, unit pasukan khusus elite Angkatan Darat AS yang menangani misi berisiko tinggi. Sumber tersebut menyebut bahwa operasi penangkapan melibatkan koordinasi dengan aparat penegak hukum Amerika, meski detail teknis dan lokasi penahanan Maduro tidak diungkapkan secara terbuka.
Trump juga mengaitkan operasi ini dengan tuduhan lama terhadap Maduro terkait perdagangan narkotika dan kerja sama dengan kelompok kriminal bersenjata. Ia menulis bahwa AS menghadapi rezim yang telah lama terlibat dalam terorisme narkotika, merujuk pada dakwaan pengadilan AS pada 2020 yang menuduh Maduro terlibat jaringan penyelundupan kokain internasional—tuduhan yang secara konsisten dibantah pemerintah Venezuela.
Reaksi Keras dari Venezuela
Merespons serangan militer tersebut, reaksi keras segera datang dari Caracas. Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez, dalam wawancara dengan televisi pemerintah, meminta kejelasan mengenai keberadaan dan kondisi Presiden Nicolás Maduro. Ia menyebut klaim penangkapan itu sebagai bagian dari "operasi agresi politik dan militer" yang dinilainya melanggar kedaulatan Venezuela.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López mengumumkan pengerahan militer nasional dan menyatakan status darurat keamanan. Dalam pernyataannya, ia menyerukan persatuan nasional menghadapi apa yang disebutnya sebagai "agresi terburuk yang pernah dialami Venezuela," seraya mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi kepanikan.
Pemerintah Venezuela juga mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menggelar pertemuan darurat guna membahas serangan tersebut. Caracas menilai operasi AS sebagai tindakan agresi militer yang berpotensi melanggar hukum internasional dan memperburuk ketegangan geopolitik global.
Respons Internasional
Di tingkat internasional, respons beragam bermunculan. Kuba secara terbuka mengecam langkah AS sebagai tindakan kriminal dan menyerukan kecaman global, sementara sejumlah negara lain menyatakan kekhawatiran atas dampak konflik terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Perkembangan ini menempatkan Amerika Serikat dan Venezuela pada fase konfrontasi paling serius dalam beberapa dekade terakhir. Di tengah klaim penangkapan Presiden Maduro oleh Washington, dunia kini menunggu konfirmasi independen mengenai keberadaan dan kondisi pemimpin Venezuela tersebut, serta arah lanjutan dari krisis yang berpotensi mengubah peta geopolitik regional dan global.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar