AS serang Venezuela dan tangkap Maduro, haruskah Asia merasa terancam?

nurulamin.proMantan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong memperingatkan bahwa intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang yang serius terhadap tatanan internasional, terutama bagi negara-negara kecil.

Peringatan tersebut disampaikan Lee dalam forum prospek regional yang digelar ISEAS Yusof Ishak Institute pada Kamis (8/1/2026), tak lama setelah AS melancarkan operasi militer yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Sebagaimana dilaporkan South China Morning Post (SCMP), Lee, yang kini menjabat sebagai Menteri Senior Singapura setelah mundur dari kursi perdana menteri pada Mei 2024, menegaskan kondisi domestik suatu negara tidak bisa dijadikan pembenaran bagi intervensi militer sepihak oleh negara lain.

Menurut Lee, dalih krisis internal kerap disalahgunakan untuk membenarkan penggunaan kekuatan tanpa otorisasi internasional yang sah.

Ia mengingatkan bahwa operasi militer semacam itu memang dapat terlihat sebagai keberhasilan cepat, tetapi berisiko merusak tatanan global dalam jangka panjang.

“Dari sudut pandang negara kecil, jika begitulah cara kerja dunia, kita punya masalah,” ujar Lee.

Ia menambahkan, AS telah berulang kali melakukan intervensi serupa di berbagai belahan dunia, sebagaimana juga dilakukan kekuatan besar lainnya.

Namun, Lee menilai dampak dari praktik tersebut lebih banyak membawa ketidakstabilan dibanding manfaat.

Serangan AS ke Venezuela dan respons Asia

Operasi militer Amerika Serikat di Venezuela berlangsung pada Sabtu (3/1/2026), ketika pasukan AS menggerebek negara tersebut dan menangkap Maduro bersama istrinya, Cilia Flores.

Keduanya kemudian diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan terorisme narkoba dan sejumlah tuduhan pidana lainnya.

Maduro dan Flores menyatakan tidak bersalah dalam sidang awal pada Senin (5/1/2026).

Pasca-operasi itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan mengambil alih kendali sementara Venezuela.

Pernyataan tersebut memicu kritik luas, terutama dari negara-negara Asia yang menilai langkah itu sebagai pelanggaran terhadap prinsip kedaulatan negara.

Komentar Lee menempatkan Singapura sebagai negara Asia terbaru yang menyuarakan keprihatinan, menyusul Indonesia, Malaysia, India, dan China.

Di Venezuela sendiri, penangkapan Maduro memicu gelombang protes. Warga dilaporkan merobek bendera Amerika Serikat di jalan-jalan Caracas sebagai simbol penolakan terhadap campur tangan Washington.

Lee menegaskan bahwa Singapura selama ini konsisten mengkritik tindakan yang melanggar hukum internasional, termasuk invasi Rusia ke Ukraina dan invasi AS ke Grenada pada 1983.

Dampak geopolitik dan persaingan AS–China

Penggulingan Maduro juga memperdalam ketegangan geopolitik global, khususnya dalam konteks rivalitas Amerika Serikat dan China di Amerika Latin.

Lee menyebut hubungan AS–China sebagai tantangan utama dunia saat ini. Banyak negara Asia, kata dia, masih memandang Amerika Serikat sebagai mitra strategis penting, tetapi pada saat yang sama mengakui China sebagai kekuatan ekonomi global yang kian dominan.

Ketika Washington dinilai mulai mengurangi perannya di sejumlah kawasan, Beijing justru tampil dengan narasi multilateralisme. China secara terbuka mengecam tindakan AS di Venezuela sebagai bentuk intimidasi.

Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa semua negara harus menghormati pilihan jalur pembangunan negara lain serta mematuhi hukum internasional dan Piagam PBB.

Indonesia turut menyampaikan keprihatinan mendalam atas penggunaan kekerasan yang dinilai bertentangan dengan hukum internasional.

Malaysia bahkan menyebut serangan AS sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, dengan Perdana Menteri Anwar Ibrahim menuntut pembebasan segera Maduro dan istrinya.

Sementara itu, India menyatakan kekhawatiran atas eskalasi situasi di Venezuela. Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menyerukan dialog dan penyelesaian damai demi keselamatan rakyat Venezuela.

Intervensi AS di Venezuela pun kini tak hanya menjadi krisis kawasan Amerika Latin, tetapi juga ujian besar bagi stabilitas tatanan internasional dan posisi negara-negara kecil di tengah persaingan kekuatan global.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan