Australia melarang anak di bawah 16 tahun gunakan media sosial, ini 7 manfaat positifnya


aiotrade
Australia resmi mulai menerapkan larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun pada Rabu (10/12/2025). Aturan ini diberlakukan setelah pemerintah mengesahkan Online Safety Amendment (Social Media Minimum Age) Act 2024, yaitu undang-undang yang menetapkan batas usia minimum untuk mengakses platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan Snapchat. Kendati begitu, penerapan larangan baru berjalan penuh pada akhir 2025. Australia menjadi negara pertama yang melarang remaja di bawah 16 tahun untuk menggunakan media sosial.

Selama ini sebagian besar platform media sosial telah menetapkan usia minimal 13 tahun untuk membuat akun. Ketentuan tersebut merujuk pada Children’s Online Privacy Protection Act (COPPA) di Amerika Serikat, yang melarang perusahaan mengumpulkan data pribadi anak di bawah 13 tahun tanpa persetujuan orangtua. Namun di Australia, pemerintah mewajibkan seluruh platform media sosial untuk menaikkan batas usia minimal menjadi 16 tahun bagi pengguna anak.

Salah satu tujuan kebijakan ini ialah melindungi kesehatan mental remaja dari berbagai risiko penggunaan media sosial, mulai dari paparan konten tidak sesuai usia hingga tekanan sosial di dunia maya. Lalu, apa saja ya dampak positif jika remaja tidak menggunakan media sosial? Berikut rangkumannya.

Dampak positif remaja tidak menggunakan media sosial

  1. Membangun relasi nyata yang sehat
    Tanpa media sosial, anak-anak hingga remaja mampu membangun hubungan yang lebih sehat dengan teman-temannya, bukan hanya sekadar interaksi virtual. "Dengan begitu, mereka memiliki teman yang nyata, bukan hanya teman di dunia maya," jelas Psikolog Ratih Ibrahim. Hubungan tatap muka semacam ini membantu anak belajar bersosialisasi dengan lebih baik sekaligus memperluas jaringan pertemanan di lingkungan nyata.

  2. Mengurangi tekanan perbandingan sosial
    Media sosial cenderung membuat anak mudah membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis. Tanpa paparan konstan, anak dapat tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih stabil. "Buat saya tidak masalah, malah benar. Supaya apa? Agar anak-anak tumbuh sebagai anak-anak, fokus bertumbuh, dan belajar secara wajar," kata Psikolog Ratih.

  3. Menjaga kesehatan mental remaja
    Psikolog Ratih menyebut, dengan pembatasan penggunaan media sosial, anak diharapkan mampu membuat keputusan lebih bijak serta membedakan mana yang positif dan negatif. "Dengan perhitungan orangtua yang peduli, anak-anak ini tidak menjadi seperti tanpa orangtua. Harus ada bonding dengan orangtua," ujar Psikolog Ratih. Selain itu, riset dari The Lancet Child & Adolescent Health (2022) juga mencatat bahwa remaja yang intens menggunakan media sosial memiliki gejala depresi dan kecemasan lebih tinggi. Pembatasan membantu mencegah masalah mental sejak dini.

  4. Kualitas tidur lebih baik
    Dikutip dari BMC Public Health, pada anak usia 6–12 tahun hingga remaja, penggunaan media elektronik termasuk smartphone/telepon dan media sosial dikaitkan dengan masalah tidur seperti tertidur lebih lambat dan kualitas tidur menurun. Pembatasan medsos membantu anak memiliki tidur yang lebih teratur sehingga suasana hati dan fokus harian meningkat.

  5. Konflik pertemanan lebih rendah
    Studi Journal of Early Adolescence (2020) menemukan bahwa anak yang tidak aktif di media sosial mengalami konflik sosial lebih sedikit dan interaksi tatap muka yang lebih hangat. Hal ini mendukung perkembangan hubungan yang sehat.

  6. Risiko cyberbullying menurun
    Penelitian di JAMA Pediatrics (2021) menunjukkan bahwa paparan media sosial berkaitan dengan meningkatnya risiko perundungan digital. Pembatasan akses dapat mengurangi peluang anak menjadi korban.

  7. Anak lebih aktif dan eksploratif
    Tanpa terpaku pada layar, anak lebih banyak bergerak, bermain, serta mengeksplorasi lingkungan sekitar. "Saya yakin akan lebih sehat saja, tumbuh kembangnya akan lebih optimal. Karena dia belajar dan bergaul, tidak terikat pada gadget," ungkap Psikolog. Hal ini akan meningkatkan kreativitas, koordinasi motorik, dan rasa ingin tahu.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan