
Rupiah Tertekan di Zona Merah Akibat Kekhawatiran Pasar
Nilai tukar rupiah pada hari ini, Senin (8/12/2025), mengakhiri perdagangan di zona merah. Penurunan terjadi akibat kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan geopolitik global.
Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah terdepresiasi sebesar 0,28% atau 47 poin ke level Rp16.695 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS melemah sebesar 0,07% ke angka 98,92.
Pada pembukaan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah sudah turun sebesar 0,20% ke Rp16.682 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan tekanan yang terus berlangsung terhadap rupiah.
Pergerakan Nilai Tukar Negara Asia Lainnya
Menilik pergerakan nilai tukar negara-negara Asia lainnya, beberapa mata uang mengalami penguatan terhadap dolar AS. Contohnya, baht Thailand menguat 0,22%, sementara yuan China juga menguat 0,02%. Di sisi lain, won Korea Selatan menguat sebesar 0,39%.
Sementara itu, beberapa negara Asia lainnya seperti Filipina, India, dan Malaysia mengalami pelemahan. Peso Filipina melemah 0,02%, rupe India melemah 0,18%, dan ringgit Malaysia melemah tipis sebesar 0,01%.
Sentimen Global yang Mempengaruhi Rupiah
Sejumlah sentimen global memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember 2025. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tanda-tanda perlambatan ekonomi di AS baru-baru ini, termasuk indikator ketenagakerjaan yang lebih lemah, telah mendorong kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi sekitar 85%.
Namun, meskipun ada harapan akan pelonggaran moneter, pasar tetap bersikap wait and see karena beberapa pejabat The Fed masih mengisyaratkan bahwa pemangkasan suku bunga pada bulan Desember masih jauh dari pasti. Ketua Federal Reserve Jerome Powell sebelumnya juga menekankan bahwa keputusan yang akan datang bukanlah suatu kepastian.
Selain itu, perkembangan konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina juga memberikan dampak terhadap rupiah. Ibrahim menjelaskan bahwa pandangan yang berbeda antara pejabat AS dan Rusia terkait proposal perdamaian yang diajukan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump membuat perundingan damai dengan Ukraina berjalan lambat.
Sentimen Dalam Negeri
Di dalam negeri, sentimen positif datang dari sejumlah data ekonomi yang dirilis pemerintah. Misalnya, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur pada November 2025 berada di level ekspansif sebesar 53,3, sementara inflasi mampu dijaga stabil di 2,7%. Kombinasi keduanya menjadi sinyal awal bahwa perekonomian Indonesia tetap tangguh memasuki 2026.
Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satu tugas baru yang diberikan kepada Bank Indonesia adalah memperkuat sektor riil melalui sejumlah kebijakan yang diatur di dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
Tugas Bank Indonesia
Dalam pasal 7 UU P2SK, Bank Indonesia (BI) ditegaskan bertugas menjaga stabilitas rupiah, sistem pembayaran, dan stabilitas keuangan untuk menopang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Ibrahim menjelaskan bahwa BI merancang bauran kebijakan yang diarahkan untuk menciptakan iklim ekonomi kondusif bagi pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Atas sejumlah sentimen yang menyertai nilai tukar tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah pada perdagangan besok, Selasa (9/12/2025), akan bergerak fluktuatif namun akan ditutup melemah di rentang Rp16.690 sampai Rp16.730 per dolar AS.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar