
Penipuan Wedding Organizer Ayu Puspita yang Menyebabkan Ratusan Pasangan Pengantin Kehilangan Dana
Seorang pemilik wedding organizer (WO) bernama Ayu Puspita ditangkap oleh Polres Metro Jakarta Utara karena dugaan penipuan terhadap 230 calon pasangan pengantin. Kasus ini terungkap setelah beberapa korban menyampaikan keluhan mereka melalui media sosial, khususnya TikTok. Peristiwa ini memicu kekacauan dalam acara pernikahan yang diadakan oleh para korban.
Keluhan Korban dan Kerugian yang Dialami
Salah satu korban, Nana, mengungkapkan bahwa pernikahan saudaranya berjalan tidak sesuai harapan. Acara pernikahan yang seharusnya meriah justru kacau karena katering yang sudah dipesan tidak hadir sama sekali. "Acara sudah mulai katering nggak ada sama sekali," ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa saat pihak keluarga mencoba menghubungi katering, respons yang diterima tidak jelas. "Saat dihubungi bilangnya sudah dekat tapi minta share location enggak dikasih."
Warganet yang mengaku sebagai korban kemudian membanjiri kolom komentar. Para korban pun saling berkomunikasi melalui grup WhatsApp untuk mengecek informasi dan mengumpulkan bukti. Dari diskusi tersebut, terungkap bahwa WO Ayu Puspita memberikan penawaran yang menarik kepada pelanggan, meskipun akhirnya tidak dapat memenuhi janji-janji tersebut.
Penangkapan dan Penyelidikan
Polres Metro Jakarta Utara telah menangkap Ayu Puspita bersama empat pegawainya. Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Erick Frendriz, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan dari para korban terkait dugaan penipuan dan penggelapan. Modus yang digunakan adalah WO menerima pembayaran penuh untuk penyelenggaraan acara pernikahan, termasuk catering. Namun, layanan tersebut tidak diberikan pada hari H.
Erick menyebutkan bahwa sebagian korban mengaku telah membayar hingga puluhan juta rupiah. Saat ini, lima orang dari PT APS telah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif di Polres Metro Jakarta Utara. Ayu Puspita dan para pegawainya sebelumnya diamankan di wilayah Jakarta Timur setelah warga memberikan informasi kepada polisi.
Pengakuan Ayu Puspita dan Penggunaan Dana
Dalam pemeriksaan awal, Ayu Puspita mengakui adanya masalah keuangan dalam usahanya. Penyidik menanyakan kesanggupannya untuk menyelenggarakan pernikahan kliennya yang sudah membayar lunas. Sayangnya, Ayu Puspita mengaku belum sanggup. Ia juga mengakui bahwa sebagian dana yang diterimanya digunakan untuk kepentingan pribadi, seperti pembelian rumah mewah serta kegiatan bepergian ke luar negeri.
Ayu Puspita menyatakan bahwa ia sedang berusaha menjual rumah tersebut untuk mengembalikan uang klien. "Saya menggunakan sebagian dana untuk membayar uang muka rumah, tapi saya sedang berusaha menjual rumah tersebut untuk mengembalikan uang klien," ucapnya.
Korban Tergiur Harga Murah
Seorang korban, Satrio Yuda, mengungkapkan bahwa dirinya tergiur oleh paket pernikahan yang ditawarkan WO Ayu Puspita. Menurutnya, paket tersebut memiliki harga miring dibanding WO lain. "Kita diiming-imingi bonus-bonus yang lumayan banyak lah gitu." Ia mengaku telah membayar sekitar Rp 147 juta dari total paket Rp 170 juta.
Satrio dan pasangannya yang merupakan customer WO Ayu Puspita sedianya menikah pada 24 Januari 2026 di salah satu gedung di Depok, Jawa Barat. Ia mengaku pertama kali mengetahui adanya masalah dari pihak gedung yang mengabarkan kasus viral WO Ayu Puspita pada akhir pekan kemarin.
Tabiat Ayu Puspita yang Tidak Terduga
Terpisah, Ketua RT 01/RW 05 Kelurahan Ceger, Azli, membongkar tabiat Ayu Puspita. Menurut Azli, Ayu dikenal dermawan di lingkungan tempat usahanya. Ia kerap memberikan bantuan kepada warga di sekitar tempat usahanya, mulai dari bantuan gerobak sampah hingga memberikan makanan setiap ada kegiatan warga.
Namun, warga tidak mengenal Ayu dan suaminya karena tidak pernah berkomunikasi secara langsung. Bahkan, pengurus lingkungan dan warga sekitar hanya berkomunikasi dengan para pegawai yang tinggal pada empat unit rumah disewa Ayu sebagai kantor usaha WO dijalankan.
Tuntutan Korban dan Harapan Masa Depan
Saat ini, Satrio bersama para korban lain sudah membentuk grup komunikasi dan tengah melapor resmi ke Polres Metro Jakarta Utara. Mereka berharap ada penyelesaian yang jelas dari pihak berwajib. "Harapan saya sih semoga uang kami bisa kembali. Kalau nggak bisa kembali, minimal gimana caranya acara kami tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya," kata Satrio.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar