
Bank Keliling: Solusi Cepat Namun Banyak Dampak Negatif
Bank keliling masih eksis di kota-kota besar seperti Jakarta. Layanan ini menawarkan pinjaman uang dengan proses yang cepat dan syarat yang tidak rumit. Nasabah hanya perlu membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk mengajukan pinjaman. Kecepatan pencairan membuat bank keliling tetap diminati meski saat ini banyak bermunculan layanan pinjaman online (pinjol).
Namun, target pasar bank keliling adalah masyarakat kelas menengah bawah yang tinggal di pemukiman padat dan kurang melek teknologi. Mereka cenderung enggan menggunakan pinjol karena prosesnya dinilai lebih sulit dibandingkan bank keliling. Salah satu warga Koja, Jakarta Utara, bernama Darto (47), mengatakan bahwa pinjaman dari bank keliling lebih mudah karena hanya memerlukan KTP dan tanda tangan.
Terpaksa Meminjam Karena Kebutuhan Ekonomi
Darto mengaku terpaksa meminjam uang dari bank keliling karena seringkali terdesak kebutuhan ekonomi, seperti biaya makan dan sekolah anaknya. Ia harus menghidupi istri dan tiga orang anak, sementara pendapatannya sebagai tukang servis jam seringkali tidak cukup. Hal ini membuat Darto menganggap bank keliling sebagai "dewa penolong" dalam situasi ekonominya yang sering kali terjepit.
Di sisi lain, ketika utangnya hendak lunas, Darto selalu dibujuk untuk mengambil pinjaman lagi oleh petugas bank keliling. "Kadang saya udah lunas, tapi dibujuk suruh ambil lagi karena udah langganan," jelas Darto.
Sama seperti Darto, warga Manggarai, Jakarta Selatan, bernama Ria (58) juga mengaku sering termakan bujuk rayu bank keliling. "Dia sih bujuk rayu mulu, karena dia kadang maksa bilang udah bayarnya enggak setiap hari enggak apa-apa," ujar Ria. Akhirnya, ia memutuskan untuk meminjam lagi meski hanya sekitar Rp 500.000.
Gaji Petugas Bank Keliling Bergantung pada Jumlah Nasabah
Petugas bank keliling mengaku bahwa mencari nasabah sebanyak-banyaknya merupakan tugas utama mereka. Semakin banyak nasabah, maka gaji yang diterima semakin besar. Salah satu petugas bernama Carlos (38) mengatakan bahwa gajinya tergantung dari jumlah nasabah dan besaran pinjaman yang diberikan.
Carlos menjalani bisnis bank keliling dengan modal sendiri. Saat ini, ia memiliki sekitar 90 nasabah di beberapa wilayah Jakarta Pusat dan Timur. Ia memberikan pinjaman kepada para ibu rumah tangga dan pedagang yang membutuhkan modal. Keuntungan yang ia dapatkan bisa mencapai Rp 25 juta hingga Rp 30 juta per bulan.
Perkembangan Bank Keliling di Berbagai Daerah
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, mengatakan bahwa maraknya praktik bank keliling tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan juga di Jawa Barat. Fenomena ini sudah lama terjadi sejak tahun 1990-an dengan adanya KOSIPA Koperasi Simpan dan Pinjam. Meskipun bunga dari pinjaman KOSIPA cukup besar, koperasi ini bertahan cukup lama di Jawa Barat.
Selain itu, di Jawa Barat juga ada Bank EMOK, yang merupakan istilah untuk bank keliling atau layanan pinjaman instan yang mencekik. Kondisi ekonomi yang semakin sulit membuat bank keliling semakin dibutuhkan, terutama oleh warga Jakarta yang terdesak ekonomi.
Penyebab Masyarakat Mudah Terbujuk
Rakhmat mengatakan bahwa kebutuhan ekonomi mendesak menjadi penyebab mudahnya masyarakat terbujuk dengan rayuan bank keliling. Sistem beroperasi secara jemput bola juga menjadi salah satu alasan masyarakat tergiur meminjam uang di bank keliling. Berbeda dengan bank konvensional yang memiliki proses birokrasi rumit, bank keliling hadir sebagai solusi instan bagi masyarakat yang membutuhkan uang cepat.
Lingkaran Kemiskinan yang Dihasilkan
Meski bank keliling seolah menjadi solusi, kehadirannya justru menciptakan lingkaran kemiskinan. Bunga yang sangat tinggi membuat masyarakat kesulitan melunasi utang. Jika tidak sesuai jatuh tempo, tagihan akan semakin besar. Ini menekan psikologis dan sosial masyarakat yang tidak mampu membayar utang.
Belum lagi, potensi masyarakat gagal membayar cicilan akan dikucilkan di lingkungan tempat tinggalnya karena terus ditagih ke rumah. Alhasil, banyak warga terpaksa gali lubang, tutup lubang, untuk melunasi utang bank kelilingnya yang membuat mereka semakin terbelenggu di rantai kemiskinan.
Pemerintah Diminta Turun Tangan
Oleh sebab itu, Rakhmat meminta pemerintah segera turun tangan mengatasi persoalan bank keliling. Pemerintah tidak boleh tinggal diam karena ini menyangkut faktor ekonomi masyarakat. Upaya yang bisa dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan edukasi atau peningkatan literasi finansial dari kampung ke kampung.
Bank Indonesia bisa lebih aktif mengambil peran dalam pencegahan agar masyarakat tidak lagi bergantung dengan sistem layanan perbankan informal. Selain itu, pemerintah disarankan mencari lembaga lain yang bisa dijadikan alternatif jasa pinjaman uang pengganti bank keliling.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar