
aiotrade, JAKARTA — Kota Bandung kini memiliki dua akses penting dari luar daerah yaitu Bandara Internasional Kertajati di Majalengka dan Stasiun Whoosh Tegalluar, titik akhir kereta cepat Jakarta–Bandung alias Whoosh. Keduanya menjadi pintu bagi para pelancong, pebisnis, maupun warga yang beraktivitas keluar-masuk Bandung. Namun, perbedaan jarak keduanya menuju pusat kota cukup signifikan dan berdampak langsung pada kenyamanan perjalanan.
Bandara Internasional Kertajati, yang berada di wilayah Majalengka, berjarak sekitar 98 kilometer dari pusat Kota Bandung. Dalam sejumlah rute lain, jaraknya bisa berada pada kisaran sekitar 68 kilometer tergantung jalur tol yang digunakan. Namun rute terumum yang terhubung dengan Tol Cisumdawu menempatkan jarak hampir mencapai 100 kilometer. Dengan kondisi normal, waktu tempuh dari Kertajati menuju Bandung berada pada kisaran 1 hingga 1,5 jam melalui tol. Meskipun relatif jauh, kehadiran Tol Cisumdawu setidaknya membuat akses lebih mulus dibandingkan sebelum tol tersebut beroperasi.
Berbeda dengan Kertajati, Stasiun Whoosh Tegalluar yang terletak di wilayah Bandung Timur menawarkan jarak yang jauh lebih dekat. Dari Tegalluar ke pusat Kota Bandung, jaraknya hanya sekitar 20 hingga 25 kilometer. Dengan jarak yang relatif pendek, perjalanan dari Tegalluar menuju pusat kota dapat ditempuh hanya dalam 30–45 menit, baik menggunakan mobil pribadi, shuttle resmi Whoosh, maupun layanan DAMRI. Perbedaan jarak ini memberikan gambaran jelas bahwa akses dari dan menuju Stasiun Tegalluar jauh lebih praktis dibandingkan dari Bandara Kertajati.
Namun demikian, Bandara Kertajati menawarkan keunggulan lain, terutama bagi penumpang pesawat yang membutuhkan penerbangan domestik maupun internasional yang tidak tersedia di Bandung. Dengan berkembangnya konektivitas baik melalui udara maupun kereta cepat, Bandung kini berada dalam posisi strategis. Warga dan wisatawan dapat memilih moda transportasi sesuai kebutuhan.
Bandara Kertajati Kalah Pamor
Data pariwisata di Jawa Barat menunjukkan tren peralihan penggunaan transportasi menuju Jawa Barat oleh wisatawan mancanegara (Wisman) pada Oktober 2025. Hal itu ditunjukkan oleh kunjungan wisman melalui Bandara Kertajati yang turun tajam di tengah meningkatnya kunjungan warga negara asing (WNA) ke Jawa Barat, namun terjadi peningkatan penggunaan kereta cepat Whoosh. Selain itu, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) juga mencatatkan kenaikan yang sama.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat, kunjungan wisman melalui pintu masuk Bandara Kertajati hanya mencatatkan 151 kunjungan pada Oktober 2025. Angka ini mengalami penurunan sebesar 42,59% dibandingkan bulan sebelumnya, September 2025, yang mencapai 263 kunjungan. Secara kumulatif, kunjungan wisman melalui bandara tersebut sepanjang Januari–Oktober 2025 anjlok drastis jika dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yakni 2.717 kunjungan dari sebelumnya 9.237 kunjungan.
Wisman yang masuk ke Jawa Barat melalui Kertajati masih didominasi dari Singapura 30,46% diikuti Malaysia 15,23%. Fungsional Ahli Madya BPS Provinsi Jawa Barat, Ninik Anisah, menjelaskan bahwa penurunan di Kertajati bukan berarti total kunjungan WNA ke Jawa Barat menjadi sedikit. Hal ini mengindikasikan adanya peralihan pintu masuk WNA, yakni melalui kereta cepat Whoosh.
Berdasarkan rilis BPS Jawa Barat, jumlah kunjungan WNA melalui Whoosh mencapai 16.431 kunjungan pada Oktober 2025. Meskipun angka ini turun 17,30% secara bulanan (MoM) dibandingkan September 2025 (19.867 kunjungan), secara tahunan (YoY) kunjungan WNA pada Oktober 2025 tercatat naik 20,33% dibandingkan Oktober 2024. Secara kumulatif, data Januari–Oktober 2025 menunjukkan jumlah WNA yang masuk ke Jawa Barat menggunakan Whoosh mencapai 160.648 kunjungan. Angka ini melonjak 48,18% dibandingkan periode serupa tahun 2024 yang hanya mencapai 115.170 kunjungan.
Kenaikan signifikan juga dicapai sektor domestik. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada Oktober 2025 mencapai 17,04 juta perjalanan, naik tipis 0,10% secara month to month dan naik 24,03% secara year on year. “Secara kumulatif jumlah perjalanan wisnus Januari-Oktober 2025 mencapai 175,57 juta perjalanan atau naik 28,73% dibandingkan periode yang sama 2024 yang hanya mencapai 136,39 juta perjalanan,” ungkap dia.
Sementara itu, sepanjang Januari–Oktober 2025, daerah tujuan wisnus masih terpusat di Bodebek dan Bandung Raya, yang menyumbang 51,71% dari total perjalanan. “Perjalanan ke Kabupaten Bogor masih yang tertinggi sebesar 14,85 persen, diikuti perjalanan ke Kota Bandung sebesar 11,30%,” ungkap dia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar