
Kekuatan Ekonomi Sumatra yang Tercemar oleh Bencana
BANJIR besar yang melanda Aceh, Tapanuli Selatan, dan Padang Pariaman pada akhir 2025 kembali menunjukkan betapa rapuhnya ketahanan ekonomi Sumatra. Wilayah yang selama dua dekade terakhir menjadi salah satu pilar pertumbuhan Indonesia ini ternyata masih sangat rentan terhadap gangguan iklim ekstrem.
Dalam kegiatan Forum Sumatra Economic Dialogue (SED) di Medan, 5-6 Desember 2025, memperlihatkan bahwa sebagian besar provinsi di Sumatra sudah mengalami perlambatan ekonomi, bahkan sebelum banjir terjadi. Pada Triwulan III2025, hanya Kepulauan Riau dan Riau yang bertahan di zona ekspansi, sementara Sumut, Sumbar, Aceh, Jambi, Sumsel, dan Babel berada dalam tren melemah. Ketika fondasi ekonomi mencair seperti ini, bencana alam yang menghantam pada akhir tahun menjadi pukulan ganda yang memperdalam tekanan di hampir semua sektor.
Banjir memutus jalan nasional, merusak sentra hortikultura, mematikan usaha kecil, dan mengganggu arus distribusi pangan. Dampaknya terlihat langsung pada inflasi pangan: Sumatra mencatat angka 3,80 persen (yoy), lebih tinggi dari rata-rata nasional 2,86 persen. Cabai merah, bawang, dan komoditas bumbu mencetak lonjakan paling tajam akibat putusnya pasokan.
Ekonom nasional seperti Faisal Basri (2016) berulang kali menegaskan bahwa inflasi pangan adalah inflasi kemiskinan, karena kelompok termiskin selalu menjadi korban pertama ketika rantai pasok terputus. Banjir akhir 2025 membuktikan hal itu dengan sangat jelas guncangan iklim berubah menjadi guncangan kesejahteraan.
Peringatan Para Ekonom Dunia tentang Risiko Iklim
Peringatan para ekonom dunia tentang risiko iklim makin relevan. Nicholas Stern dalam The Stern Review (2006) menyatakan bahwa negara atau wilayah yang tidak berinvestasi pada infrastruktur tahan iklim akan menghadapi kerugian ekonomi permanen. Hal ini juga diperkuat oleh William Nordhaus melalui model DICE (1992; 2017) menunjukkan bahwa bencana berulang dapat menekan produktivitas regional dalam jangka panjang jika kapasitas adaptasi tidak dibangun.
Partha Dasgupta dalam The Economics of Biodiversity (2021) menekankan bahwa ekonomi daerah akan runtuh apabila jasa ekosistem DAS, hutan, tata air rusak dan dibiarkan tanpa pemulihan. Sumatra adalah contoh nyata dari semua peringatan itu.
Jeffrey Sachs dalam The Age of Sustainable Development (2015) juga mengingatkan bahwa wilayah yang terlalu bertumpu pada komoditas primer tidak akan pernah resilien terhadap krisis iklim. Sumatra dengan CPO, karet, batu bara, perikanan, dan komoditas hortikultura persis berada dalam perangkap tersebut. Ketika banjir menghentikan distribusi dan merusak infrastruktur, seluruh rantai nilai komoditas ikut terpuruk.
Strategi Pemulihan Ekonomi Sumatra
Sementara itu, Michael Porter melalui The Competitive Advantage of Nations (1990) menegaskan bahwa daya saing regional hanya terbentuk jika klaster industri terhubung dengan baik. Peta SED Medan (2025) menunjukkan bahwa integrasi logistik Sumatra masih lemah: jalan lintas belum standar, pelabuhan belum saling terkoneksi, dan jalur kereta barang masih terbatas.
Oleh karena itu, pemulihan ekonomi Sumatra harus dilakukan dengan strategi yang jauh lebih struktural. Pertama, pembangunan infrastruktur tahan iklim harus menjadi prioritas: jalan elevasi pada titik rawan banjir, tanggul modern, normalisasi sungai, bluegreen infrastructure di kota-kota pesisir, dan retarding basin di wilayah banjir berulang. Stern (2006) menekankan bahwa investasi mitigasi adalah investasi produktivitas jangka panjang, karena biaya kerusakan jauh lebih mahal dibanding pencegahan.
Kedua, percepatan hilirisasi dan industrialisasi nilai tambah. Dani Rodrik (2008;2022) menjelaskan bahwa ekonomi berbasis komoditas mentah tidak mungkin resilien dalam jangka panjang. Sumatra harus mengembangkan rantai nilai terintegrasi untuk CPO, perikanan, kopi, karet, dan industri kreatif. SED Medan juga menegaskan bahwa investasi Sumatra harus tumbuh double digit agar mampu menopang target pertumbuhan nasional 2030.
Ketiga, penguatan ketahanan pangan regional. Inflasi pangan yang lebih tinggi dari nasional mengindikasikan perlunya cold-chain yang menyambungkan sentra produksi di Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi, dan Lampung. Lumbung pangan modern, irigasi yang diperkuat, serta tata ruang yang adaptif banjir harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Dasgupta (2021) mengingatkan bahwa kebijakan pangan tanpa perlindungan ekosistem hanya akan menunda krisis berikutnya.
Keempat, pemberdayaan UMKM dan ekonomi lokal. Data BI menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menyumbang porsi terbesar PDRB Sumatra. Program digitalisasi pembayaran, perluasan QRIS, dan pembiayaan terjangkau bukan hanya inisiatif keuangan, namun juga strategi ketahanan ekonomi. UMKM yang memiliki akses teknologi dan modal lebih cepat pulih setelah banjir dibandingkan usaha informal yang tidak terhubung ke ekosistem digital.
Kelima, perbaikan tata kelola berbasis komunitas. Elinor Ostrom (2009) membuktikan bahwa pengelolaan risiko sumber daya alam paling efektif ketika masyarakat lokal menjadi aktor utama. Sumatra harus memperkuat peran desa, nagari, gampong, dan komunitas adat dalam pengawasan DAS, pengendalian alih fungsi lahan, serta peringatan dini banjir.
Momentum untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Rangkaian banjir 20252026 harus menjadi momentum penting untuk keluar dari siklus kerentanan berkepanjangan. Sumatra berada pada persimpangan sejarah: terus berada dalam lingkaran bencanapemulihanbencana, atau membangun masa depan yang lebih tangguh dan berdaya saing tinggi. Seperti kata Chatib Basri (2020), Kita tidak bisa menghindari guncangan, tetapi kita bisa membangun ketahanan. Dan hari ini, membangun ketahanan itu bukan sekadar pilihan, namun juga kebutuhan mendesak bagi masa depan ekonomi Sumatra.
Bangkitlah, Sumatraku. Perlihatkan bahwa kontribusimu bagi Indonesia makin signifikan, menjadi mitra strategis bagi Jawa dalam mewujudkan negeri yang lebih berdaya. Kepada para korban banjir, jangan biarkan duka mematahkan semangat. Ujian justru meneguhkan langkah kita; kebersamaanlah yang akan menuntun Sumatra menuju pemulihan dan kekuatan baru.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar