Ringkasan Berita:
- Warga di sepanjang aliran Sungai Batang Kuranji, tepatnya di kawasan Kampung Chaniago cemas ancaman banjir berulang
- Mereka mengaku sudah lama meminta pemerintah untuk segera merealisasikan program pengendalian banjir di Sungai Batang Kuranji dan rencana pengendalian tersebut bukan hal baru
- Setiap hujan deras mengguyur wilayah hulu, warga langsung meningkatkan kewaspadaan dengan memantau debit dan aliran Sungai Batang Kuranji
nurulamin.pro, PADANG-Warga yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Batang Kuranji, tepatnya di kawasan Kampung Chaniago, Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat, kembali menyuarakan keresahan mereka akibat banjir yang terus berulang.
Warga mendesak pemerintah dan pihak terkait agar segera mengambil langkah konkret untuk mengendalikan aliran sungai yang kian mengancam permukiman.
Sejak terjadinya banjir bandang atau galodo pada akhir November 2025 lalu, kondisi di kawasan tersebut disebut semakin memprihatinkan.
Puluhan rumah warga dilaporkan kerap terendam banjir, bahkan sebagian di antaranya mengalami kerusakan berat hingga hanyut terseret derasnya arus Sungai Batang Kuranji.
Dulu Aliran Sungai Jauh
Salah seorang warga, Feby (34), mengatakan bahwa sebelum banjir bandang melanda, posisi aliran sungai masih cukup jauh dari kawasan permukiman.
Bahkan, aliran sungai saat itu tidak terlihat dari rumah warga karena tertutup oleh area perkebunan masyarakat.
“Dulu aliran sungai jauh dari rumah, sekitar 100 sampai 200 meter. Dari sini saja tidak kelihatan karena masih tertutup kebun masyarakat,” ujar Feby saat ditemui, Sabtu (3/1/2026).
Namun, kondisi tersebut berubah drastis pasca banjir bandang. Menurut Feby, sejak saat itu banjir terus berulang dan air sungai secara perlahan menggerus tanah di bantaran sungai hingga mendekati rumah-rumah warga.
“Sejak banjir bandang kemarin, banjir terus berulang-ulang. Bahkan, banjir yang terakhir kemarin masih ada rumah warga yang hanyut,” katanya.
Warga Cemas Ancaman Banjir
Ancaman tersebut membuat warga hidup dalam kecemasan.
Setiap hujan deras mengguyur wilayah hulu, warga langsung meningkatkan kewaspadaan dengan memantau debit dan aliran Sungai Batang Kuranji.
“Kalau air sudah mulai besar, kami langsung waspada. Kami pantau terus aliran sungai, takut tiba-tiba meluap,” ungkapnya.
Ia menambahkan, setiap hari aliran sungai terus mengikis tanah sedikit demi sedikit.
Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan serius, warga khawatir rumah mereka akan mengalami nasib serupa dengan rumah-rumah lain yang sudah lebih dulu hanyut.
“Sekarang aliran sungai terus mengarah ke sini, mengikis tanah sedikit demi sedikit. Kalau tidak ditangani, ujung-ujungnya rumah bisa hancur, rubuh, dan hanyut,” ujar Feby.
"Semoga saja pemerintah kota maupun provinsi segera melihat ini, karena sejak awal kejadian sampai sekarang belum ada mereka yang datang melihat keadaan kami," sambungnya.
Warga Sudah Lama Minta Pemerintah
Keluhan serupa juga disampaikan Rudi (56), warga setempat lainnya.
Ia menyebutkan bahwa warga sebenarnya sudah lama meminta pemerintah untuk segera merealisasikan program pengendalian banjir di Sungai Batang Kuranji.
Menurut Rudi, rencana pengendalian tersebut bukan hal baru.
Bahkan, proses pembebasan lahan untuk mendukung program itu disebut telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu.
Namun hingga kini, realisasinya belum juga terlihat di lapangan.
“Dari dulu sudah sering kami sampaikan. Kami minta program pengendalian banjir segera dijalankan. Lahannya sudah diganti rugi, tapi sampai sekarang belum juga jalan,” kata Rudi.
Ia menilai keterlambatan pelaksanaan program tersebut memperparah dampak banjir yang dirasakan warga.
Setiap kali banjir datang, kerugian warga terus bertambah, sementara ancaman keselamatan juga semakin besar.
“Ini sudah terlanjur banjir bandang, rumah orang sudah banyak rusak, sudah banyak yang hanyut. Tapi program belum juga jalan, air sungai terus saja mengikis,” ujarnya.
Rudi dan warga lainnya berharap pemerintah segera turun tangan secara serius dengan melakukan normalisasi sungai, pembangunan tanggul, atau langkah teknis lainnya guna mengendalikan aliran Sungai Batang Kuranji.
Warga berharap, dengan adanya penanganan yang cepat dan tepat, banjir yang selama ini menghantui kehidupan mereka dapat diminimalkan, sehingga masyarakat bisa kembali tinggal dengan aman tanpa rasa cemas setiap kali hujan turun.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar