
berita, JAKARTA - Sejumlah bank besar di Wall Street seperti Deutsche Bank AG dan Goldman Sachs Group Inc. memprediksi bahwa pelemahan dolar AS akan terus berlanjut hingga tahun 2026. Prediksi ini didasarkan pada kebijakan moneter yang mulai melonggarkan dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), yang telah menurunkan suku bunga secara bertahap.
Berdasarkan data dari Bloomberg, dolar AS mengalami penurunan terbesar sejak awal 1970-an pada semester pertama tahun 2025. Tekanan terhadap greenback pada paruh pertama tahun ini berasal dari perang dagang yang diinisiasi oleh tarif yang diterapkan Presiden AS Donald Trump.
Meskipun kini dolar AS sedikit stabil, para analis memperkirakan bahwa pelemahan akan terus berlangsung pada 2026. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan pelonggaran The Fed, sementara bank sentral lainnya cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Perbedaan kebijakan antar bank sentral tersebut membuat investor lebih cenderung menjual obligasi AS dan beralih ke negara-negara dengan imbal hasil lebih tinggi. Akibatnya, dolar AS diperkirakan akan melemah terhadap mata uang utama dunia seperti yen, euro, dan pound. Menurut estimasi konsensus dari Bloomberg, indeks dolar diperkirakan akan turun sekitar 3% pada akhir 2026.
David Adams, Kepala Strategi Valuta G-10 di Morgan Stanley, menyatakan bahwa ada ruang yang cukup bagi pasar untuk memproyeksikan siklus penurunan suku bunga yang lebih dalam. Ia memperkirakan dolar AS akan turun sebesar 5% pada paruh pertama tahun depan.
Hal-hal itu memberi banyak ruang bagi pelemahan dolar lebih lanjut, katanya, dikutip dari laporan Bloomberg pada Jumat (12/12/2025).
Namun, penurunan dolar diperkirakan tidak akan sebesar dan sebaris seperti tahun ini, ketika pelemahan indeks dolar AS membawa Indeks Spot Dolar Bloomberg turun hampir 8%, yaitu penurunan terdalam sejak 2017.
Prospek pelemahan terbatas dolar AS juga sangat bergantung pada ekspektasi bahwa pasar tenaga kerja AS akan terus melemah, sesuatu yang masih tidak pasti mengingat ketahanan ekonomi pascapandemi.
Saat ini, prognosa kekuatan dolar AS disebut sangat sulit. Ketika dolar melonjak akhir tahun lalu saat investor memburu Trump trade dengan bertaruh bahwa kebijakannya akan memacu pertumbuhan, para analis memperkirakan reli tersebut akan berbalik pada pertengahan 2025. Namun, justru yang terjadi adalah penurunan besar-besaran pada paruh pertama tahun ini.
Untuk tahun depan, pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga dua kali lagi atau seperempat poin oleh The Fed. Ada kemungkinan pula bahwa siapa pun yang dipilih Trump untuk menggantikan Ketua Jerome Powell dapat tunduk pada tekanan Gedung Putih untuk menurunkan suku bunga lebih jauh.
Di sisi lain, Bank Sentral Eropa diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, sementara Bank of Japan diperkirakan akan perlahan menaikkannya.
Kami melihat risiko lebih besar menekan dolar ketimbang mendukungnya, kata Luis Oganes, kepala riset makro global JPMorgan yang berbasis di London, dalam sebuah konferensi pers pada Selasa.
Dolar yang lebih lemah akan memiliki efek berantai bagi perekonomian, seperti mendorong biaya impor, meningkatkan nilai laba perusahaan dari luar negeri, dan memperkuat ekspor. Pelemahan dolar juga dapat memperpanjang reli di pasar negara berkembang karena investor mengalihkan dana untuk memanfaatkan suku bunga yang lebih tinggi.
Di Goldman Sachs, analis yang dipimpin Kamakshya Trivedi bulan ini mencatat bahwa pasar mulai memasukkan prospek ekonomi yang lebih optimistis ke dalam mata uang G-10 lainnya, seperti dolar Kanada dan dolar Australia. Mereka juga menyoroti ada kecenderungan dolar untuk terdepresiasi ketika ekonomi global membaik.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar