
Penjelasan tentang Lonjakan Utang Luar Negeri Jangka Pendek Indonesia
Peningkatan utang luar negeri (ULN) jangka pendek di Indonesia mencapai 29,1% pada akhir tahun 2024, dengan total sebesar US$65,1 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan bersih sebesar US$14,3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini dinilai memiliki potensi risiko terhadap volatilitas nilai tukar Rupiah, meskipun risiko gagal bayar tetap rendah.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., Josua Pardede menjelaskan bahwa lonjakan tersebut berkaitan erat dengan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen ini mulai dirilis sejak Agustus 2023 dan menarik minat investor asing, sehingga kepemilikannya tercatat sebagai ULN dalam statistik Bank Dunia.
"Kenaikan ULN jangka pendek lebih mencerminkan pilihan instrumen kebijakan moneter yang diminati investor asing, bukan lonjakan baru kredit valuta asing jangka pendek seperti pola sebelum krisis Asia dahulu," ujarnya.
Risiko dan Kebijakan Moneter yang Terkait
Meski demikian, Josua mengingatkan adanya peningkatan kerentanan dari sisi risiko pembiayaan kembali (refinancing risk). Mengingat tenor SRBI yang pendek (6, 9, dan 12 bulan), instrumen ini harus terus ditebus atau digulirkan.
Jika sentimen global memburuk akibat gejolak suku bunga atau geopolitik, maka investor asing dapat mengurangi kepemilikan SRBI secara cepat. Arus keluar portofolio semacam ini tidak langsung menimbulkan gagal bayar karena kewajiban SRBI adalah dalam rupiah, tetapi dapat menekan neraca pembayaran melalui pelemahan rupiah dan meningkatnya kebutuhan intervensi devisa oleh Bank Indonesia.
Selain itu, risiko lainnya adalah sensitivitas kebijakan moneter. Jika terjadi tekanan jual pada SRBI, Bank Indonesia berpotensi menahan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan demi menjaga daya tarik imbal hasil (yield), yang dikhawatirkan dapat menghambat penurunan biaya dana perbankan dan penyaluran kredit ke sektor riil.
Perbandingan dengan Negara Lain
Dalam hal rasio utang, Bank Dunia mencatat rasio stok ULN Indonesia terhadap ekspor berada di level 135%, sedangkan rasio terhadap Pendapatan Nasional Bruto (GNI) terjaga di level 31%. Josua menilai posisi tersebut masih tergolong moderat atau zona menengah apabila dibandingkan dengan rata-rata negara berkembang lainnya. Sebagai pembanding, negara-negara yang sangat rentan memiliki rasio utang terhadap ekspor di atas 200%.
Namun, Josua menekankan bahwa lonjakan utang jangka pendek akibat SRBI ini tetap menjadi "lampu kuning". Data tersebut bisa dibaca secara dangkal oleh pasar sebagai memburuknya kualitas utang apabila tidak dikomunikasikan dengan baik.
Dia meyakini bahwa struktur utang Indonesia secara keseluruhan masih sehat karena didominasi tenor jangka panjang. Porsi utang jangka pendek tercatat hanya sekitar seperenam dari total ULN Indonesia yang mencapai US$421,1 miliar.
Tantangan Masa Depan
Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa pertumbuhan ekspor dan pendapatan nasional mampu melampaui pertumbuhan utang, sambil secara bertahap mengurangi ketergantungan pada pembiayaan jangka pendek dari investor luar negeri.
Sorotan dari Bank Dunia
Dalam laporan terbaru bertajuk International Debt Report 2025, Bank Dunia mencatat stok utang luar negeri jangka pendek Indonesia menyentuh level US$65,1 miliar pada akhir 2024. Padahal, pada akhir 2023, utang luar negeri jangka pendek Indonesia masih sebesar US$50,45 miliar.
Lonjakan tajam ini mencerminkan penerbitan sekuritas jangka pendek oleh Bank Indonesia [SRBI] yang diperkenalkan pada Agustus 2023 sebagai langkah untuk mendukung kebijakan moneter, mempertahankan nilai rupiah selama periode volatilitas pasar, dan menarik modal asing.
Utang jangka pendek Indonesia sebesar US$65,1 miliar setara Rp1.052,1 triliun (kurs akhir 2024 yaitu Rp16.162 per dolar AS). Angka itu setara dengan 15,5% dari total utang luar negeri Indonesia sebesar US$421,05 miliar.
Bank Dunia bahkan mengungkapkan dampak dari kenaikan kebijakan moneter Indonesia itu bahkan memengaruhi neraca utang di tingkat regional. Di kawasan Asia Timur dan Pasifik (tidak termasuk China), stok utang jangka pendek tercatat naik 12,7% menjadi US$201,7 miliar, yang utamanya didorong oleh kenaikan posisi utang Indonesia tersebut.
Dari sisi arus masuk utang bersih (net debt inflows), kawasan Asia Timur dan Pasifik (selain China) mencatatkan angka US$29,4 miliar pada 2024. Bank Dunia menyoroti bahwa hampir separuh dari arus masuk tersebut merupakan arus masuk utang jangka pendek ke Indonesia yang nilainya melonjak menjadi US$14,3 miliar pada 2024.
Padahal, kenaikan rata-rata utang jangka pendek Indonesia periode 2022 dan 2023 hanya sebesar US$1,6 miliar.
Secara agregat, posisi utang luar negeri Indonesia pada 2024 tercatat sebesar US$421,05 miliar atau setara Rp6.806,3 triliun. Berdasarkan catatan Bank Dunia, rasio utang luar negeri terhadap ekspor berada di level 135%, sementara rasio terhadap Pendapatan Nasional Bruto (GNI) terjaga di level 31%.
Meski terjadi peningkatan pada komponen jangka pendek, Indonesia dinilai memiliki akses pasar modal yang mapan (well-established). Laporan tersebut mencatat bahwa investor non-residen bersedia memberikan pinjaman dalam mata uang domestik, yang mengindikasikan kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar