Bank Neo (BBYB) Konsentrasi pada Penguatan Dasar di Tengah Isu Penghapusan KBMI I

Pernyataan Bank Neo Commerce Mengenai Perubahan Klasifikasi Bank

PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) memberikan respons terkait wacana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berencana menghapus klasifikasi bank berdasarkan Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) I. Direktur Utama Bank Neo, Eri Budiono, menegaskan bahwa perseroan lebih fokus pada penguatan kinerja fundamental daripada berspekulasi terhadap kebijakan yang masih dalam tahap wacana.

Eri menyampaikan bahwa saat ini, Bank Neo menitikberatkan perbaikan profitabilitas, tata kelola, serta komunikasi kinerja ke pasar. Menurutnya, fokus utama adalah mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, termasuk meningkatkan profitabilitas dan memperkuat tata kelola perusahaan.

Kondisi Permodalan dan Rasio Kecukupan Modal

Dari sisi permodalan, Bank Neo masih mengandalkan laba ritel dengan modal inti yang saat ini berada di kisaran Rp4 triliun. Eri menilai kondisi permodalan perseroan masih memadai jika dilihat dari rasio kecukupan modal (CAR).

Berdasarkan data yang dipaparkan, modal inti Bank Neo menguat menjadi Rp4 triliun, naik 1,52% dibandingkan September 2025 sebesar Rp3,94 triliun, serta tumbuh 20,06% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp3,33 triliun pada Oktober 2024. Sebagai informasi, KBMI I merupakan kelompok bank dengan modal inti hingga Rp6 triliun.

Sementara itu, CAR Bank Neo pada Oktober 2025 tercatat meningkat signifikan menjadi 47,77%, dibandingkan 35,89% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peluang Naik Kelas ke KBMI II

Menanggapi peluang naik kelas ke KBMI II, Eri menyatakan bahwa perseroan tidak semata-mata mengejar status tersebut. Meski demikian, dia mengakui bahwa menjadi bank dengan skala yang lebih besar akan membuka ruang bagi pengembangan produk baru.

“Kalau dari sisi kecukupan modal, sebenarnya jauh lebih dari cukup. Tapi tentunya kita ingin menjadi bank yang lebih besar, supaya bisa menawarkan produk lain, misalnya layanan valas untuk nasabah yang suka travel,” jelasnya.

Konsolidasi atau Merger

Terkait rencana konsolidasi atau merger seiring dorongan OJK terhadap penguatan struktur perbankan nasional, Eri menegaskan belum ada rencana konkret. Saat ini, Bank Neo masih menunggu arahan lebih lanjut dari regulator.

Dia menambahkan, isu ini juga menjadi perhatian di internal Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas). Menurut Eri, sejumlah anggota mempertanyakan mekanisme dan tahapan kebijakan tersebut.

Menurutnya, agar kebijakan kenaikan kelas harus ada kehati-hatian karena jika seluruh bank pada saat yang sama mencari pendanaan dan likuiditas di pasar keuangan, hal tersebut berpotensi menimbulkan tekanan likuiditas.

Kinerja Bank Neo Commerce

Bank Neo Commerce mencatatkan total laba hingga Oktober 2025 senilai Rp517,20 miliar dibandingkan laba pada Oktober 2024 sebesar Rp6,95 miliar.

Per Oktober 2025, total aset BNC mencapai Rp18,49 triliun, naik 0,34% dibandingkan September 2025 yang sebesar Rp18,43 triliun, dan tumbuh 3,01 persen secara tahunan dari Oktober 2024 dengan Rp17,95 triliun.

Modal inti juga menguat menjadi Rp4 triliun, meningkat 1,52% dibandingkan September 2025 sebesar Rp3,94 triliun, dan naik signifikan 20,06% yoy dari Rp3,33 triliun dari Oktober 2024.

Eri menyampaikan kinerja hingga Oktober 2025 hasil dari pengendalian risiko yang disiplin serta inovasi layanan yang terus diperluas. Dia bilang pencapaian ini menegaskan transformasi digital BNC telah memasuki fase yang mencerminkan fondasi yang lebih stabil dan berkelanjutan untuk pertumbuhan bisnis perseroan.

Rasio kredit bermasalah (NPL Gross) membaik signifikan menjadi 2,89% pada Oktober 2025 dibandingkan dengan Oktober 2024 yang tercatat 3,74%.

Capital Adequacy Ratio (CAR) pada Oktober 2025 meningkat menjadi 47,77%, dibandingkan dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar 35,89%, atau tumbuh kuat 11,88% YoY.

Penyaluran kredit per Oktober 2025 tercatat Rp7,40 triliun, turun 14,16% dibandingkan Oktober 2024 yang sebesar Rp8,62 triliun. Salah satu produk kredit yang menjadi fokus BNC pada 2025, yaitu Neo Loan atau Neo Pinjam yang tersedia di aplikasi neobank, mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 139% secara tahunan.

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) berada pada posisi stabil di Rp13,60 triliun, relatif tidak berubah dibandingkan September 2025 Rp13,62 triliun.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan