
nurulamin.pro.CO.ID - JAKARTA.
Pada akhir tahun 2025, kinerja saham bank besar atau big banks menunjukkan peningkatan yang signifikan. Beberapa saham dari bank utama mencatatkan pergerakan positif, sementara beberapa lainnya mengalami penurunan.
Pergerakan Saham Bank Besar pada Akhir Tahun 2025
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan peningkatan sebesar 0,62% dengan harga penutupan Rp 8.075. Dalam seminggu terakhir, saham ini juga naik 0,62%. Namun, dalam setahun terakhir, saham BBCA mengalami penurunan sebesar 16,54%.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) ditutup menguat 0,49% ke level Rp 5.100. Selama seminggu, saham BMRI naik 0,99%, tetapi dalam setahun terakhir, saham ini turun 10,53%.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mengalami kenaikan sebesar 2,58% menjadi Rp 4.370 per saham. Dalam seminggu, saham BBNI naik 2,34%. Dibandingkan satu tahun lalu, saham BBNI hanya naik tipis 0,46%.
Berbeda dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), yang turun 3,17% ke level Rp 3.660. Dalam seminggu, saham BBRI turun 2,92%, dan dalam setahun terakhir, saham ini anjlok sebesar 10,29%.
Proyeksi Pemulihan Sektor Perbankan di Tahun 2026
Setelah mengalami masa lesu sepanjang tahun 2025, saham perbankan diproyeksikan memasuki fase pemulihan pada 2026. Sejumlah analis menyatakan bahwa penurunan suku bunga akan menjadi sentimen utama yang mendorong perbaikan kinerja saham maupun fundamental bank pada tahun depan.
Muhammad Wafi, analis dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), menjelaskan bahwa 2026 berpotensi menjadi fase turnaround bagi saham perbankan. Menurutnya, tekanan kinerja saham bank selama 2025 terutama disebabkan oleh tingginya cost of fund (CoF) yang menekan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM).
“Sentimen utama tahun depan adalah penurunan suku bunga. Ketika suku bunga turun, NIM bank justru bisa naik karena penurunan CoF biasanya lebih cepat dibandingkan penyesuaian bunga kredit,” ujar Wafi.
Dari sisi fundamental, Wafi menilai industri perbankan akan bergeser dari fase bertahan menuju ekspansi. Penurunan suku bunga diperkirakan akan mendorong permintaan kredit baru, sekaligus memperbaiki kualitas aset. Dengan membaiknya kualitas kredit, beban provisi diperkirakan menurun sehingga laba bersih bank berpeluang tumbuh lebih signifikan.
Strategi Investasi untuk Tahun 2026
Wafi menyarankan investor untuk melakukan front-running, yaitu masuk lebih awal sebelum sentimen penurunan suku bunga benar-benar terealisasi.
“Investor bisa mulai akumulasi sekarang ketika valuasi masih diskon. Jangan menunggu BI rate turun, karena pasar biasanya bergerak lebih dulu sebelum berita resmi keluar,” jelasnya.
Untuk saham bank besar, Wafi merekomendasikan target harga saham pada 2026 sebagai berikut: BBRI di level Rp 5.800, BMRI Rp 7.800, BBCA Rp 11.200, dan BBNI Rp 5.200.
Pandangan Analis Lain
Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, juga melihat 2026 sebagai tahun pemulihan bagi sektor perbankan. Ia memperkirakan adanya perbaikan penyaluran kredit, likuiditas yang lebih longgar, serta suku bunga yang cenderung stabil, sehingga mendukung peningkatan profitabilitas bank.
“Harapannya juga ada dukungan pemerintah dalam penyaluran kredit, terutama ke sektor-sektor produktif. Dengan kondisi tersebut, NIM bank bisa tetap terjaga di tengah pertumbuhan kredit yang moderat hingga agresif,” ujar Indy.
Indy merekomendasikan investor untuk melakukan akumulasi bertahap dengan horizon jangka panjang, khususnya ketika harga saham masih berada di level rendah. Target harga jangka panjang yang ia tetapkan antara lain BBCA di level Rp 9.800, BBRI Rp 5.025, dan BMRI Rp 5.200.
Kesimpulan
Dengan kombinasi sentimen penurunan suku bunga, perbaikan fundamental, serta valuasi yang relatif menarik, sektor perbankan dinilai masih menjadi salah satu pilihan utama bagi investor pada 2026.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar