
nurulamin.pro, JAKARTA — Perbankan mencermati strategi penempatan dana di Surat Berharga Negara (SBN) pada 2026. Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan kepemilikan perbankan nasional di SBN terus meningkat pada awal 2026.
Hingga 8 Januari 2026, total kepemilikan bank di SBN mencapai Rp1.397,68 triliun, naik dari Rp1.326,33 triliun pada 2 Januari 2026. Nilai tersebut setara 21,11% dari total SBN yang dapat diperdagangkan, terdiri atas Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp1.131,38 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar Rp266,30 triliun.
Adapun, kepemilikan terbesar berasal dari bank konvensional senilai Rp1.310,82 triliun, sementara bank syariah memegang Rp86,87 triliun seluruhnya dalam bentuk SBSN.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat kepemilikan bank di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp618 triliun per November 2025. Selain itu, BI mencatat undisbursed loan perbankan mencapai Rp2.509,4 triliun atau setara 23,18% dari total plafon kredit tersedia, mengindikasikan masih adanya ruang likuiditas yang belum sepenuhnya terserap ke penyaluran kredit.
Direktur Utama CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan perseroan saat ini masih memantau kebutuhan kredit sesuai dengan permintaan nasabah dan kondisi likuiditas.
“Kami monitor saja kebutuhan kredit sesuai dengan permintaan dari nasabah dan likuiditas. Saat ini likuiditas cukup baik dan kami lebih banyak fokus untuk mengarahkan kelebihan likuiditas selain kredit juga ke produk fee income wealth management,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Minggu (11/1/2026).
Sementara itu, EVP Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Hera F. Haryn menyatakan bahwa fungsi utama perbankan tetap sebagai lembaga intermediasi melalui penyaluran kredit. Hingga November 2025, kredit BCA secara bank only tumbuh sehat mencapai Rp921 triliun.
Pada saat yang sama, per November 2025 total dana yang ditempatkan BCA pada instrumen surat berharga tercatat Rp436 triliun, dengan komposisi terbesar pada obligasi pemerintah. Selain itu, BCA juga menempatkan dana pada SRBI dan surat berharga lainnya.
Menurut Hera, penempatan dana pada surat berharga merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas sekaligus mendukung perekonomian nasional.
“BCA senantiasa menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat serta mengelola likuiditas secara pruden dengan prinsip kehati-hatian dalam manajemen risiko,” jelasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar