Banyak yang Lakukan, Tapi Berbahaya! 5 Perawatan Motor Ini Harus Dihindari

Banyak yang Lakukan, Tapi Berbahaya! 5 Perawatan Motor Ini Harus Dihindari

Lima Kebiasaan Perawatan Motor yang Tidak Disarankan

Perawatan motor adalah hal penting untuk menjaga performa dan keawetan kendaraan. Namun, tidak semua cara perawatan yang beredar di media sosial benar-benar aman bagi mesin. Beberapa kebiasaan yang sering dilakukan justru bisa merusak komponen mesin jika dilakukan secara keliru dan berulang. Berikut lima jenis “perawatan” motor yang sering dianggap benar, padahal sebaiknya dihindari.

  • Membersihkan Throttle Body dengan Cara Disemprot Saat Mesin Digeber
    Servis throttle body memang penting, namun ada prosedurnya. Dalam buku panduan pabrikan, pembersihan throttle body umumnya direkomendasikan setiap 10.000–15.000 km dan harus dilakukan dengan membongkar komponen terkait.
    Masalahnya, masih banyak bengkel yang menawarkan cara instan: mesin digeber, lalu cairan injector cleaner disemprotkan langsung ke throttle body. Memang terlihat bersih, tetapi kotoran yang luruh justru masuk ke ruang bakar.
    Jika dilakukan berulang, residu kotoran dapat menumpuk, memicu knocking, pembakaran tidak sempurna, hingga berujung turun mesin. Cara paling aman tetap dengan melepas throttle body dan membersihkannya secara menyeluruh.

  • Menggeber Mesin Setelah Mencuci Motor
    Mencuci motor adalah perawatan wajib, terutama untuk mencegah kotoran merusak suspensi dan komponen bergerak. Namun, kebiasaan menggeber mesin hingga limiter setelah motor dicuci justru berbahaya.
    Saat selesai dicuci, suhu mesin berada dalam kondisi dingin. Ketika mesin dingin langsung dipaksa bekerja pada putaran tinggi, komponen internal bisa mengalami stres termal. Mesin motor modern memang dirancang tahan air, jadi cukup nyalakan motor dan gunakan secara normal untuk mengeringkannya—tanpa perlu digeber berlebihan.

  • Mengganti Busi Standar dengan Busi Racing untuk Dongkrak Performa
    Banyak yang mengira busi racing otomatis membuat motor standar jadi lebih kencang. Faktanya, busi racing dirancang untuk mesin berkompresi tinggi seperti motor balap.
    Busi racing memiliki karakter panas yang lebih dingin. Jika dipasang di mesin standar, pembakaran justru bisa kurang optimal. Akibatnya, akselerasi tidak stabil dan busi cepat menghitam. Inilah alasan mengapa busi racing sering dianggap “cepat rusak” saat dipakai di motor harian.
    Untuk motor standar, busi rekomendasi pabrikan tetap menjadi pilihan terbaik.

  • Menggunakan Oli Diesel atau Cairan Tidak Wajar untuk “Membersihkan” Mesin
    Penggunaan oli diesel atau cairan ekstrem seperti minyak goreng untuk membersihkan mesin masih dipercaya sebagian orang. Padahal, praktik ini sangat berisiko.
    Oli diesel memang memiliki kandungan deterjen tinggi, tetapi viskositasnya tidak dirancang untuk mesin motor, terutama motor matic modern yang memiliki celah mesin sangat rapat. Akibatnya, pelumasan terlambat saat mesin dingin dan gesekan meningkat.
    Jika mesin terasa kotor atau mengalami sludge, solusi paling aman adalah servis menyeluruh—bukan eksperimen dengan pelumas yang tidak sesuai spesifikasi.

  • Menyemprotkan Angin Kompresor ke Lubang Oli Saat Ganti Oli
    Di beberapa bengkel umum, lubang oli sering disemprot angin kompresor dengan tujuan mengeluarkan sisa oli lama. Praktik ini justru berpotensi berbahaya.
    Angin kompresor mengandung uap air yang bisa bercampur dengan oli baru dan menurunkan daya pelumasan. Selain itu, tekanan angin bisa mendorong partikel kotoran kembali masuk ke jalur oli.
    Waktu terbaik mengganti oli adalah pagi hari saat mesin dingin, karena oli sudah mengendap di bawah dan dapat keluar lebih maksimal tanpa bantuan kompresor.





Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan