Bapanas kembangkan sorgum di Karawang dan Bandung


nurulamin.pro.CO.ID, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) sedang mempercepat pengembangan sorgum di Kabupaten Karawang dan Kota Bandung, Jawa Barat. Fokus utama dari pengembangan ini adalah penguatan teknologi pengolahan. Tujuannya adalah agar pangan lokal tidak hanya berhenti sebagai bahan mentah, tetapi mampu masuk ke rantai pasok bernilai tambah hingga menjadi produk siap konsumsi.

Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto, menjelaskan bahwa pengembangan sorgum di dua wilayah tersebut dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir melalui pemanfaatan teknologi. “Di wilayah ini, sorgum dikembangkan sebagai komoditas adaptif yang mampu diolah menjadi beragam produk pangan dengan nilai ekonomi lebih tinggi,” ujar Andriko, Sabtu (3/1/2026).

Andriko menambahkan bahwa penguatan pangan lokal harus didukung oleh teknologi agar memberikan dampak langsung bagi petani dan UMKM. Bapanas memfasilitasi pengolahan pascapanen melalui penyediaan alat perontok, penyosoh, penepung, pengering, hingga peralatan pendukung lainnya guna memperkuat kapasitas produksi.

“Kita baru saja mengunjungi dua tempat pengolahan sorgum di Karawang dan Bandung. Pengembangan sorgum ini akan kita bangun dari hulu sampai hilir. Petani memproduksi, hasilnya diserap oleh UMKM, lalu diolah menjadi produk pangan siap konsumsi yang bernilai tambah,” jelas Andriko.

Dukungan tersebut telah mendorong UMKM sorgum di Karawang untuk menghasilkan berbagai olahan, mulai dari bubur, kerupuk, tepung sorgum, hingga cookies. Salah satu produk, yaitu cookies sorgum, telah masuk ke Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di kawasan Karawang.

Menurut Andriko, masuknya produk sorgum ke MBG menunjukkan bahwa pangan lokal olahan memiliki peluang nyata dalam sistem penyediaan pangan bergizi skala nasional. “Ketika produk pangan lokal sudah bisa masuk ke MBG, itu artinya kualitas, keamanan, dan kontinuitasnya sudah memenuhi kebutuhan,” katanya.

Penguatan juga dilakukan melalui pemanfaatan teknologi lanjutan seperti freeze dryer untuk produk berbasis sorgum. Teknologi ini memungkinkan nasi sorgum, bubur, dan sari sorgum memiliki masa simpan lebih panjang dengan kandungan gizi tetap terjaga.

Selain pasar komersial, produk olahan sorgum dan singkong disiapkan untuk mendukung suplai pangan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam Program MBG. Kebijakan ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.

“Anda tahu, ini tentang ekonomi kerakyatan dan kedaulatan pangan. Seluruh rantai dikerjakan di dalam negeri dengan memaksimalkan potensi lokal dan teknologi yang sesuai kebutuhan masyarakat,” ujar Andriko.

Strategi Pengembangan Sorgum

Berikut beberapa strategi yang digunakan dalam pengembangan sorgum:

  • Penggunaan teknologi modern: Bapanas menyediakan alat perontok, penyosoh, penepung, dan pengering untuk meningkatkan kapasitas produksi.
  • Pengembangan rantai pasok: Dari hulu hingga hilir, petani memproduksi, UMKM mengolah, dan produk akhir siap konsumsi.
  • Peningkatan nilai ekonomi: Produk olahan sorgum seperti bubur, kerupuk, tepung, dan cookies memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
  • Keterlibatan UMKM: UMKM di Karawang aktif menghasilkan berbagai olahan sorgum yang dipasarkan secara luas.
  • Masuk ke program nasional: Produk sorgum telah masuk ke Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menunjukkan kualitas dan keamanan yang memenuhi standar.

Manfaat Pengembangan Sorgum

Pengembangan sorgum memberikan berbagai manfaat, antara lain:

  • Meningkatkan kesejahteraan petani: Dengan akses ke teknologi dan pasar, petani dapat meningkatkan pendapatan mereka.
  • Mendorong pertumbuhan UMKM: UMKM dapat memperluas usaha dengan mengolah sorgum menjadi berbagai produk.
  • Meningkatkan ketersediaan pangan bergizi: Produk sorgum membantu memenuhi kebutuhan pangan bergizi masyarakat.
  • Mempertahankan kedaulatan pangan: Dengan memaksimalkan potensi lokal, Indonesia dapat lebih mandiri dalam penyediaan pangan.
  • Mendorong inovasi teknologi: Penggunaan teknologi seperti freeze dryer meningkatkan daya tahan produk dan menjaga kualitas nutrisi.

Tantangan dan Solusi

Meskipun ada banyak manfaat, pengembangan sorgum juga menghadapi beberapa tantangan, seperti:

  • Kurangnya akses ke teknologi: Banyak petani masih kesulitan mengakses alat pengolahan modern.
  • Kurangnya pemahaman tentang pemasaran: Beberapa petani belum memahami cara memasarkan produk mereka.
  • Keterbatasan modal: UMKM sering menghadapi kendala finansial dalam pengembangan produk.
  • Perubahan iklim: Cuaca yang tidak menentu dapat memengaruhi hasil panen sorgum.

Untuk mengatasi tantangan ini, Bapanas dan pihak terkait terus berupaya memberikan pelatihan, dukungan teknis, dan akses ke modal usaha. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat juga diperlukan untuk memastikan keberlanjutan pengembangan sorgum.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan