
Kembalinya Laskar Antasari ke Rumah
Pada tanggal 1 Januari 2026, sebuah kabar baik datang dan menjadi titik balik yang sangat emosional bagi publik sepak bola Kalimantan Selatan. Sebuah unggahan singkat dari akun resmi PS Barito Putera dengan judul “Welcome Home, 17 Mei Banjarmasin!” pada 2 Januari 2026 berhasil memicu gelombang euforia yang sudah tertahan selama hampir delapan tahun.
Bagi penggemar sepak bola khususnya Barito Putera di Banua, ini bukan sekadar berita pindah kandang, melainkan kembalinya jiwa Laskar Antasari ke rumah yang membesarkan namanya. Berbeda dengan kejayaan masa lalu di kasta tertinggi, saat ini Barito Putera sedang berjuang di Pegadaian Championship (Liga 2). Misi pulang kali ini adalah misi suci mengembalikan Barito Putera ke Liga 1 atau kini disebut Super League.
Stadion 17 Mei Banjarmasin bukan tempat asing untuk sejarah kebangkitan. Publik tentu masih ingat tahun 2011/2012, di mana stadion ini menjadi saksi bisu keperkasaan Laskar Antasari saat berhasil promosi kembali ke kasta tertinggi (saat itu Divisi Utama/ISL) setelah menumbangkan lawan-lawannya di Banjarmasin dengan meraih gelar juara.
Kehadiran sosok Stefano Cugurra (Teco) sebagai nakhoda saat ini memberikan warna baru. Teco, yang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin dengan koleksi gelar juara, kini memikul beban untuk meramu semangat Waja Sampai Kaputing di tengah tekanan publik Banjarmasin yang haus akan kemenangan.
Bermain di jantung kota berjuluk Seribu Sungai ini berarti tidak ada lagi jarak antara ekspektasi suporter dan performa di lapangan. Kepulangan ini juga menjadi momentum emas bagi manajemen. Sejak menjadi tim musafir pada 2019 hingga 2025 mulai dari Martapura Kabupaten Banjar hingga Bantul, okupansi penonton fluktuatif tajam dan pendapatan tiket merosot.
Kembalinya ke 17 Mei diprediksi akan mendongkrak pendapatan tiket sebesar 40-60 persen, sebuah suntikan dana segar yang sangat krusial untuk operasional tim di liga yang kompetitif.
Sejarah dan Makna Stadion 17 Mei
Diketahui nama 17 Mei sendiri diambil dari Proklamasi 17 Mei 1949 (ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan), sebuah simbol perjuangan rakyat Kalsel. Dengan tetap memegang teguh nilai-nilai religiusitas yang ditanamkan pemilik klub almarhum H Abdussamad Sulaiman HB, Barito Putera kembali ke Banjarmasin bukan hanya sebagai klub bola, tapi sebagai representasi martabat Banua.
Beberapa hal penting terkait kembalinya Barito Putera ke Banjarmasin:
-
Ekspektasi Tinggi dari Suporter
Kehadiran Barito Putera di Banjarmasin kembali membuka harapan besar dari para suporter. Mereka ingin melihat tim kesayangan mereka kembali berlaga di kandang sendiri dan meraih prestasi yang membanggakan. -
Dampak Ekonomi yang Signifikan
Kembalinya Barito Putera ke Stadion 17 Mei diharapkan mampu meningkatkan pendapatan tiket dan sponsor. Ini akan menjadi langkah penting dalam menjaga kelangsungan operasional klub di Liga 2. -
Momentum untuk Kembalinya Kejayaan
Dengan kembalinya Barito Putera ke kandang sendiri, publik berharap bisa melihat kembali kejayaan masa lalu. Ini menjadi kesempatan emas untuk mengangkat kembali reputasi klub di kancah sepak bola nasional.
Visi dan Misi Barito Putera
Barito Putera kembali ke Banjarmasin dengan visi dan misi yang jelas. Mereka ingin menjadikan klub ini sebagai wajah dari budaya dan identitas Kalsel. Dengan dukungan penuh dari suporter dan manajemen, Barito Putera berkomitmen untuk terus berkembang dan menciptakan prestasi yang membanggakan.
Dalam beberapa bulan ke depan, Barito Putera akan melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi kompetisi Liga 2. Hal ini termasuk pembenahan strategi, peningkatan kualitas pemain, serta penguatan infrastruktur klub.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar