Bel Pembuka Bursa 2026 Ditabuh, OJK Pasang Arah Baru Pasar Modal Berintegritas hingga Ekonomi Hijau

Bel Pembuka Bursa 2026 Ditabuh, OJK Pasang Arah Baru Pasar Modal Berintegritas hingga Ekonomi Hijau

Laporan Reporter nurulamin.pro, Tari Rahmaniar

nurulamin.pro,KUPANG– Awal Tahun 2026 dibuka dengan sinyal optimisme kuat dari lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Di tengah pemulihan ekonomi nasional dan derasnya arus investor muda, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan arah baru pasar modal Indonesia lebih berintegritas, makin likuid, dan siap menjadi motor ekonomi hijau.

Pesan tersebut mengemuka dalam acara Pembukaan Perdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia Tahun 2026 yang telah diselenggarakan di Gedung BEI, Jumat (2/1/2026).

 Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menegaskan pasar modal tidak lagi sekadar arena transaksi saham, melainkan instrumen strategis untuk mendukung agenda prioritas pemerintah dan pembiayaan pembangunan berkelanjutan.

“Penguatan integritas pasar, pendalaman likuiditas, dan pembangunan ekosistem bursa karbon yang kredibel menjadi fokus utama kami,” ujar Mahendra dalam siaran pers, Selasa (3/1/2026). 

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, jajaran Dewan Komisioner OJK, serta Direktur Utama BEI Iman Rachman.

Mahendra menyoroti peran investor ritel yang kian dominan dalam menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Sepanjang 2025, porsi transaksi investor ritel melonjak dari 38 persen menjadi 50 persen, dengan mayoritas investor berusia di bawah 40 tahun.

Namun, di balik tren positif itu, OJK menilai penguatan perlindungan investor menjadi kebutuhan mendesak. Salah satu fokusnya adalah pengawasan terhadap influencer keuangan atau finfluencer.

“OJK tengah memfinalisasi aturan baru bagi finfluencer yang menekankan kapabilitas, transparansi, dan kepatuhan perizinan,” ujar Mahendra. 

Aturan tersebut ditargetkan terbit pada pertengahan 2026 untuk mendorong literasi investasi yang sehat dan bertanggung jawab.

IHSG Cetak Rekor, Asing Kembali Percaya 

Dari sisi kinerja, pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan catatan impresif. 

IHSG bertengger di level 8.646,94 poin, menguat 22,13 persen secara year to date dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Kepercayaan investor asing juga kembali pulih. Setelah sempat mencatatkan net sell di awal 2025, investor non-residen membukukan net buy sebesar Rp36,23 triliun pada Semester II-2025.

Penghimpunan dana di pasar modal pun terus menggeliat. Hingga akhir 2025, tercatat 215 penawaran umum dengan total nilai Rp275 triliun, termasuk 18 emiten baru dengan nilai IPO Rp14,41 triliun. 

Nilai transaksi harian melonjak menjadi Rp18,1 triliun, seiring pertumbuhan Single Investor Identification (SID) yang menembus 20,2 juta.

Meski demikian, OJK menilai masih terdapat ruang penguatan. Kinerja indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2,41 persen serta rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB sebesar 72 persen dinilai masih tertinggal dibandingkan negara kawasan.

Direktur Utama BEI Iman Rachman mengungkapkan bahwa BEI telah menyiapkan masterplan pengembangan pasar modal 2026–2030.

 Targetnya ambisius: membangun pasar modal yang inovatif, transparan, inklusif, dan berdaya saing global pada 2030.

“Penguatan infrastruktur pasar, peningkatan kualitas emiten dan investor, serta perluasan partisipasi publik menjadi fondasi utama,” ungkap Iman. 

BEI juga mendorong inovasi produk agar pasar modal berperan lebih besar dalam pembiayaan jangka panjang ekonomi nasional.

Transparansi Emiten hingga Bursa Karbon

Memasuki 2026, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) akan menjalankan sejumlah program strategis. Di antaranya peningkatan kualitas perusahaan tercatat, penguatan free float, transparansi ultimate beneficial owner, serta reformasi tata kelola pasar saham.

Di sisi lain, OJK juga mempercepat pengembangan ekonomi hijau melalui pembangunan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan BEI. 

Langkah ini merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025, guna menghadirkan perdagangan karbon yang kredibel dan terhubung dengan standar global.

“Pasar modal Indonesia harus menjadi pilar pembiayaan pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau nasional,” ungkap Mahendra.

Dengan bel pembuka perdagangan yang ditabuh di awal 2026, OJK optimistis pasar modal Indonesia akan melangkah lebih jauh: tidak hanya tumbuh dari sisi angka, tetapi juga kokoh dari sisi integritas, perlindungan investor, dan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional. (Iar

Ikuti berita nurulamin.prolainnya di GOOGLE NEWS

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan