
Kunjungan Gubernur Jawa Barat ke Aceh dan Sumatera
Beberapa waktu lalu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan kunjungan ke lokasi bencana banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera. Dalam kunjungannya tersebut, ia memberikan bantuan senilai Rp 7 miliar, termasuk mengakomodir warga Jawa Barat yang terisolir akibat bencana.
Setelah kembali dari lokasi bencana, Dedi Mulyadi menyatakan bahwa ia mendapat pelajaran berharga. Ia mengaku mempelajari dahsyatnya bencana serta cara penanggulangan dan pencegahan bencana tersebut. Menurutnya, bencana banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera disebabkan oleh kerusakan sistem lingkungan hidup dan ekologi.
Penyebab Bencana Banjir dan Longsor
Dedi menjelaskan bahwa maraknya alihfungsi lahan menjadi perkebunan sawit menjadi penyebab utama bencana tersebut. Ia menegaskan bahwa karakteristik pohon sawit berbeda dengan pohon di hutan. Pohon sawit tidak tahan terhadap gelombang air dan lumpur, sehingga tidak bisa melindungi lingkungan seperti pohon di hutan.
Perkebunan sawit identik dengan tumbuhan yang manja, membutuhkan air dan pupuk. Berbeda dengan pohon di hutan yang mampu menahan air sekaligus menghasilkan pupuk sendiri. Dedi menilai bahwa perkebunan sawit merupakan tumbuhan homogen yang tidak memiliki variasi seperti hutan. Hal ini dinilainya berbahaya bagi Indonesia, terutama dalam hal kebinekaan.
Kondisi Lingkungan di Lokasi Bencana
Menurut Dedi, masyarakat di lokasi bencana Aceh dan Sumatera telah kehilangan lahan pangan dan lingkungan hidup yang rusak. Sungai-sungai tercemar, sementara lahan kebutuhan pokok seperti padi hampir tiada. Dari pengalaman tersebut, Dedi Mulyadi merencanakan pembangunan di Jawa Barat yang lebih berbasis ekologi.
Pencegahan Bencana di Jawa Barat
Jawa Barat sebagai wilayah yang rawan bencana, Dedi Mulyadi menegaskan akan melakukan berbagai pencegahan. Ia menjelaskan bahwa sejak menjabat 10 bulan lalu, fokusnya adalah memperbaiki tata kelola lingkungan di Jawa Barat. Beberapa upaya dilakukan, seperti mengembalikan fungsi sungai, bendungan, dan lahan di daerah rawan bencana seperti Bekasi, Bogor, dan Bandung.
Dedi menilai bahwa selama 10 bulan memperbaiki tata kelola lingkungan tersebut cukup berhasil. “Kita bisa melihat dalam 10 bulan terakhir ini waktu saya menjabat saya melakukan penanganan di Bogor, di hulu, melakukan penanganan di Bekasi. Sampai saat ini arealnya relatif sangat baik.”
Upaya Mitigasi Bencana
Dedi ingin memitigasi atau melakukan pencegahan sejak dini. Ia berencana untuk menghijaukan gunung dan lereng, mengembalikan fungsi pesawahan dan sungai. Ia menegaskan bahwa biaya pencegahan lebih murah dibandingkan pemulihan bencana.
Untuk menindaklanjuti rencananya tersebut, Dedi Mulyadi berencana membuat pembangunan di Jawa Barat berbasis ekologi. Ekologi adalah ilmu biologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Dengan memperhatikan ekologi, setiap pembangunan turut memperhatikan keseimbangan kehidupan.
Komitmen Mengembalikan Fungsi Lingkungan
Dedi menjelaskan bahwa Pemprov Jabar berkomitmen mengembalikan fungsi hutan, perkebunan, dan sungai. Ia menegaskan bahwa pihaknya ingin mengembalikan fungsi hutan dan perkebunan ke fungsinya, serta mengembalikan fungsi sungai yang dikelola BWWS maupun PJT agar kembali ke fungsinya.
Selama ini, lahan seperti pinggiran sungai di Jawa Barat sering dialihfungsi menjadi pemukiman warga atau kuasai orang lain. Untuk melancarkan kebijakan tersebut, akan dilakukan penertiban sebagaimana yang sudah dilakukannya dalam 10 bulan menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.
Penataan Aset Lahan
Selain itu, Dedi Mulyadi melakukan langkah dengan penataan aset lahan BUMN, serta lahan yang tersertifikasi. Ia menyatakan bahwa pihaknya ingin mendorong segera dilakukan sertifikasi dan kelengkapan administrasi, seperti izin lokasi dan Hak Guna Usaha (HGU) yang bertahun-tahun habis masa berlakunya, agar segera berproses.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar