Belajar pergi, pulang, dan meraih cita-cita

Perjalanan Seorang Ayah dan Anak


Aku selalu percaya bahwa hidup tidak pernah bergerak lurus. Ia berkelok, kadang kembali ke titik yang sama, lalu pelan-pelan menjauh—seolah ingin memastikan kita benar-benar siap sebelum melangkah lebih jauh.

Naufal adalah anak pertamaku. Dan seperti kebanyakan anak pertama, ia tumbuh bersamaan dengan kegagalan-kegagalan pertamaku sebagai seorang ayah. Kami tinggal di Jabodetabek, kota yang tidak memberi ruang bagi orang yang datang tanpa daya tahan. Kami bukan keluarga yang kekurangan cinta, tapi sering kekurangan pilihan. Hidup dijalani setapak demi setapak—kadang maju, kadang berhenti, sering kali menunggu.

Sejak kecil, Naufal menyukai komputer. Ketertarikannya tidak lahir dari fasilitas, melainkan dari rasa ingin tahu yang keras kepala. Ia bisa duduk berjam-jam di depan layar, menekan tombol-tombol yang belum ia pahami sepenuhnya, salah, lalu mengulanginya lagi. Aku sering mengamatinya diam-diam, sambil bertanya dalam hati: ke mana rasa ingin tahu ini akan membawanya kelak?

Aku masih ingat hari ia dikhitan. Hari itu tidak ada perayaan. Tidak ada hadiah yang layak disebut hadiah. Ekonomi keluarga sedang berada di titik rendah. Yang ada hanya saweran keluarga—uang yang bagi sebagian orang mungkin kecil, tapi bagi kami cukup berarti.

Beberapa hari kemudian, ia menghampiriku. Wajahnya ragu, suaranya tertahan.
"Yah... aku mau beli laptop."
Aku refleks bertanya, "Yang baru?"
Ia menggeleng. Pelan, tapi mantap.
"Bekas juga nggak apa-apa."

Kami pergi ke Mangga Dua. Lorong-lorong sempit, etalase yang penuh barang, suara pedagang yang saling bersahutan. Di sana, kami memilih sebuah laptop yang tidak istimewa—bukan yang tercepat, bukan yang tercantik. Tapi malam itu, ketika ia menyalakannya dengan hati-hati, aku tahu: itulah benda pertama yang benar-benar ia pilih sendiri dalam hidupnya.

Dari laptop bekas itu, ia belajar satu hal penting: bahwa hidup tidak selalu memberi yang terbaik, tetapi selalu memberi yang cukup bagi mereka yang mau bertahan.

Waktu mengalir tanpa banyak tanda. Di SMA, ia mulai bicara tentang masa depan. Ilmu Komputer. Kampus negeri. Jalur yang terdengar masuk akal. Kami mencobanya. Ia mengikuti tes. Beberapa kali. Dan semuanya gagal.

Aku tidak pernah melihatnya menangis hari itu. Tapi aku melihat caranya duduk lebih lama di ruang tamu, menatap lantai, seolah mencari sesuatu yang jatuh dan belum ia temukan kembali. Hari-hari berikutnya sunyi. Namun ia tidak pergi. Ia tetap di situ—di antara kegagalan dan harapan yang belum sepenuhnya padam.

Kuliah ke luar negeri bukan mimpinya. Bahasa Inggris bukan kekuatannya. Setiap kali harus berbicara, ada ragu yang menyelinap di matanya. Tapi hidup, pada titik tertentu, tidak lagi bertanya apa yang kita inginkan—melainkan apa yang perlu kita lakukan.

Syarat itu datang sederhana dan dingin: IELTS 6.0. Ia berangkat ke Pare. Dua minggu. Waktu yang singkat untuk mengubah apa pun, kecuali satu hal: cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Ketika hasil tes keluar dan angkanya melewati 6.0, ia tidak melonjak gembira. Ia hanya tersenyum kecil. Seolah akhirnya berkata pada dirinya sendiri, aku bisa.

Langkah pertamanya membawanya ke Universiti Putra Malaysia. Tidak ada rasa heroik. Hanya keputusan tenang untuk melangkah sejauh yang sanggup ia pijak. Aku mengantarnya ke Malaysia. Aku menunggu sampai ia benar-benar mendapat mess kampus. Kami berdiri sebentar di depan gedung itu. Tidak ada pelukan panjang. Tidak ada nasihat yang belum pernah diucapkan. Aku hanya berkata hal yang selalu sama—tentang bekerja jujur, menjaga integritas, tidak menjadi manusia korup, dan tetap mencintai Indonesia meski hidup jauh darinya.

Ketika mobil membawaku kembali ke bandara, barulah dadaku runtuh. Air mata jatuh tanpa aba-aba. Sopir Grab menatapku lewat kaca spion.
"Bapak sedih, ya?"
Aku mengangguk.
"Wajar," katanya pelan. "Orang tua memang begitu."

Ia tidak tahu, tapi kalimat itu menyelamatkanku. Karena di saat itulah aku mengerti: menjadi orang tua adalah belajar menahan diri untuk tidak memanggil anak yang sedang belajar pergi.

Naufal lulus. Ia bekerja di perusahaan entitas Google di Malaysia—pekerjaan yang tidak tampak gemerlap, tapi menuntut disiplin dan ketelitian. Dua tahun ia bekerja. Dua tahun ia belajar bahwa teknologi bukan tentang kecepatan, melainkan tentang ketepatan dan tanggung jawab.

Lalu suatu hari ia berkata ingin belajar lagi. Aku tidak bertanya mengapa. Aku tahu, ia tidak sedang lari. Ia sedang menaiki anak tangga berikutnya. Manchester menjadi tujuannya.

Beberapa hari sebelum wisuda, kami menyusuri jalan raya Inggris. Di bundaran, ia memperlambat mobil. Menunggu. Memberi jalan.
"Yang di dalam dulu," katanya singkat.
Aku tersenyum.

Pelajaran hidup ternyata tidak selalu datang dari nasihat panjang—kadang ia hadir dalam keheningan sebuah persimpangan.

Jumat, 12 Desember, ia diwisuda. Gelar Master of Science disematkan. Aku berdiri di antara kerumunan, tidak mencari wajahnya di panggung. Yang kulihat justru perjalanan panjang: laptop bekas, kegagalan, air mata di bandara, tahun-tahun bekerja, dan keberanian untuk terus belajar.

Malam itu aku mengerti satu hal yang selama ini luput kupahami. Belajar pergi bukan tentang sejauh apa seseorang melangkah. Belajar pulang bukan tentang kembali ke tempat asal. Belajar pulang adalah menjaga nilai—agar ke mana pun seseorang pergi, ia tidak kehilangan dirinya sendiri.

Dan mungkin, itulah satu-satunya cita-cita yang layak diperjuangkan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan