
Dampak Bencana Alam pada Rantai Pasok Pangan di Sumatera Utara
Bencana alam yang melanda wilayah Sumatera Utara hingga Aceh tidak hanya meninggalkan duka kemanusiaan, tetapi juga mengganggu stabilitas ekonomi regional. Salah satu sektor yang terkena dampak adalah rantai distribusi pangan, khususnya di pasar-pasar grosir yang menjadi pusat suplai bahan pangan.
Salah satu contohnya adalah Pasar Induk Lau Chi di Tuntungan, Kota Medan. Pasar ini berperan penting sebagai pusat pasokan berbagai komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, tomat, kol, kentang, dan aneka sayuran lainnya. Wilayah-wilayah seperti Kota Langsa, Kuala Simpang, Besitang, Tanjung Pura, dan Pangkalan Berandan biasanya menjadi pembeli rutin dalam skala besar.
Berdasarkan data kebutuhan harian, Kota Langsa saja rata-rata menyerap: * Kentang: 35 ton per hari * Cabai merah: 34 ton per hari * Kol: 700 kilogram hingga 2 ton * Bawang merah: 300600 kilogram * Wortel: 500 kilogram hingga 1 ton * Tomat: 400 kilogram hingga 1 ton
Jika dikalkulasi, kontribusi belanja hortikultura dari Kota Langsa ke Pasar Induk Lau Chi mencapai sedikitnya Rp356 juta per hari. Angka tersebut bahkan belum termasuk komoditas lain seperti bawang putih, terong, labu, dan sayuran pendukung lainnya.
Penurunan pembelian dari Langsa, ditambah melemahnya transaksi dari Kuala Simpang dan Besitang, membuat potensi kehilangan omzet pasar diperkirakan menyentuh Rp610 juta per hari. Kondisi ini sempat memburuk pada pekan pertama pascabencana, ketika Tanjung Pura dan Pangkalan Brandan juga menghentikan aktivitas belanja. Saat itu, potensi kerugian diperkirakan menembus Rp1 miliar per hari.
Kini, menurut pengakuan sejumlah pedagang di Pasar Induk Lau Chi, wilayah Tanjung Pura dan Brandan mulai kembali melakukan transaksi. Namun, aktivitas belanja dari Aceh Tamiang dan Kota Langsa masih sangat minim, bahkan nyaris tidak terlihat. Situasi ini menjadi indikator bahwa pemulihan ekonomi di wilayah terdampak belum sepenuhnya berjalan.
Kondisi tersebut memperlihatkan satu hal penting. Bencana tidak pernah berdampak tunggal. Ketika satu wilayah lumpuh, efeknya merambat ke daerah lain yang secara geografis aman, tetapi terikat oleh mata rantai ekonomi. Hal ini menunjukkan betapa saling ketergantungan antar wilayah dalam menjaga kelancaran distribusi pangan.
Harapannya, proses pemulihan di Aceh Tamiang, Langsa, dan sekitarnya dapat segera dipercepat. Sebab, lesunya aktivitas belanja bukan berarti pasokan pangan terhenti. Solidaritas dan bantuan lintas wilayah diharapkan mampu memastikan bahwa penurunan omzet di Pasar Induk Lau Chi bukan cermin kelangkaan pangan, melainkan konsekuensi sementara dari duka yang tengah dipulihkan bersama.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar