Kebingungan di Benin Setelah Kudeta Gagal

Benin mengalami kebingungan pada hari Minggu setelah sekelompok tentara memasuki stasiun penyiaran negara dan mengklaim telah menggulingkan Presiden Patrice Talon. Mereka mengumumkan pembentukan “Komite Militer untuk Pembaruan.” Dalam waktu singkat, pemerintah menyatakan bahwa upaya kudeta tersebut telah ditumpas. Namun, peristiwa dramatis ini menunjukkan adanya ketegangan politik yang semakin memuncak menjelang pemilihan presiden pada April mendatang.
Tembakan senjata api terdengar pada pagi hari di Cotonou, pusat perdagangan Benin, yang memicu peringatan dari beberapa kedutaan asing. Kedutaan Prancis, Amerika Serikat, dan Rusia memberi peringatan kepada warga untuk tetap berada di dalam rumah setelah tembakan terdengar di dekat Camp Guezo, yang berdekatan dengan kediaman presiden.
Di televisi negara, sekelompok tentara muncul dan mengumumkan penangguhan konstitusi, pembubaran semua lembaga dan partai politik, serta penutupan perbatasan. Mereka juga menyatakan Letnan Kolonel Pascal Tigri sebagai kepala komite militer baru. Namun, pihak kepresidenan segera merespons dengan menyatakan bahwa Talon "aman" dan bahwa para pemberontak hanya mengendalikan stasiun televisi.
Upaya Kudeta Terjadi di Tengah Momentum Politik yang Sensitif
Upaya kudeta terjadi saat Benin mendekati momen politik yang sensitif. Pemilu April diharapkan akan mengakhiri masa jabatan kedua dan terakhir Talon. Koalisi berkuasa telah menominasikan Menteri Keuangan Romuald Wadagni sebagai penggantinya. Konstitusi baru yang disahkan pada November memperpanjang masa jabatan presiden dari lima menjadi tujuh tahun, yang memicu tuduhan perebutan kekuasaan.
Menteri Dalam Negeri Alassane Seidou mengumumkan di televisi nasional bahwa upaya kudeta telah "digagalkan oleh sekelompok kecil tentara" dan bahwa angkatan bersenjata "tetap setia" pada sumpah mereka. Ia menyerukan kepada warga untuk kembali beraktivitas seperti biasa. Presiden Talon juga mengulang pesan tersebut beberapa jam kemudian, menyatakan bahwa pasukan setia telah "merebut kembali posisi kami dan membersihkan sisa-sisa perlawanan." Ia mengecam para pemberontak sebagai "petualang" dan berjanji akan memberikan hukuman.
Menurut laporan, sekitar selusin tentara ditangkap pada malam Minggu, sementara sumber lain menyebutkan 13 penangkapan, termasuk semua tentara aktif kecuali satu mantan figur militer. Juru bicara pemerintah Wilfried Houngbedji menyatakan singkat bahwa "Semua baik-baik saja."
Pemberontakan dan Tanggapan Pemerintah
Para tentara yang tampil di televisi negara menyebut diri mereka Komite Militer untuk Pembaruan (CMR). Pernyataan mereka menuduh pemerintah mengabaikan situasi keamanan yang semakin memburuk di utara Benin dan gagal menghormati para prajurit yang gugur. Mereka juga menjanjikan "era baru" yang didasarkan pada persaudaraan dan keadilan.
Pembaruan halaman langsung melaporkan bahwa mereka mengklaim telah menggulingkan Talon, menunjuk Tigri sebagai pemimpin, menutup perbatasan, dan menangguhkan partai-partai politik. Namun, kepresidenan membantah klaim tersebut, mengatakan bahwa "Ini adalah kelompok kecil orang yang hanya mengendalikan televisi."
Tanggapan Regional dan Internasional
Salah satu perkembangan paling mencolok datang dari Nigeria, yang menyatakan telah mengirimkan pesawat tempur dan pasukan darat ke Benin atas permintaan Talon. Menurut laporan, Presiden Bola Tinubu memerintahkan jet tempur untuk menguasai ruang udara Benin dan "mengusir para pelaku kudeta" dari stasiun TV nasional dan kamp militer. Pasukan darat kemudian dikerahkan untuk membantu "melindungi institusi konstitusional."
Tinubu memuji pasukan Nigeria atas bantuan mereka dalam "menstabilkan negara tetangga." Economic Community of West African States (ECOWAS) dan Uni Afrika segera mengeluarkan kecaman keras. ECOWAS kemudian memerintahkan pengerahan unsur-unsur pasukan cadangannya, termasuk pasukan dari Nigeria, Sierra Leone, Pantai Gading, dan Ghana, untuk mendukung pemerintah Benin.
Ketegangan Apa yang Terjadi Jelang Pemilihan Umum?
Benin selama ini dianggap sebagai salah satu negara demokrasi yang lebih stabil di Afrika Barat. Namun, masa jabatan Talon sejak 2016 ditandai dengan peningkatan sentralisasi kekuasaan. Pemerintah telah menahan anggota oposisi. Talon dituduh mengesampingkan lawan-lawan politik utamanya, termasuk mantan Presiden Boni Yayi.
Calon presiden yang dipilih oleh koalisi berkuasa untuk pemilu 2026 adalah Menteri Keuangan Talon, Wadagni. Sementara calon dari oposisi, Renaud Agbodjo, ditolak oleh komisi pemilu karena kurangnya sponsor. Upaya kudeta juga terjadi di tengah meningkatnya ketidakamanan di utara Benin, di mana serangan oleh kelompok bersenjata yang terkait dengan al-Qaeda dan ISIL semakin meningkat. Pada April, 54 tentara Benin tewas dalam serangan.
Dua rekan Talon dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada Januari 2024 atas rencana kudeta 2024 yang melibatkan suap kepala pengawal presiden dengan enam kantong uang tunai. Pentingnya geopolitik Benin juga menjadi dasar kekhawatiran regional. Negara ini merupakan pusat maritim kunci di Afrika Barat yang menghubungkan perdagangan vital ke Nigeria dan sekitarnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar