Bertani di samping JIS, petani sayur bergulat dengan tanah asin dan banjir

JAKARTA, nurulamin.pro– Di tengah dominasi beton dan megahnya Jakarta International Stadium (JIS) di Tanjung Priok, Jakarta Utara, lahan pertanian milik warga masih bertahan dan menjadi sumber penghidupan belasan petani.

Di sekitar stadion bertaraf internasional itu, hamparan sayur-mayur tumbuh berdampingan dengan rel kereta, rusunawa, hingga danau, menghadirkan oase hijau di jantung kota.

Di sisi kiri JIS, tepatnya di dekat rel kereta api dan Jalan RE Martadinata, warga memanfaatkan area depan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Kampung Bayam untuk bertani aneka sayuran dan buah-buahan.

Sementara itu, di sisi kanan JIS arah Danau Cincin, terdapat lahan milik perusahaan swasta yang juga digarap warga dari berbagai daerah sebagai area pertanian.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, memastikan pemanfaatan lahan pertanian di sekitar JIS telah mendapatkan izin dari pemilik lahan.

"Lahan pertanian yang terletak di samping Jakarta International Stadium (JIS) merupakan lahan milik PT Permata Hijau yang saat ini dimanfaatkan oleh Kelompok Tani Sayur Berkah untuk menanam komoditas hortikultura berupa sayuran daun dan buah," ucap Hasudungan dalam keterangan tertulisnya yang diterimanurulamin.pro, Jumat (9/1/2026).

Menurut Hasudungan, hingga kini lahan tersebut belum digunakan oleh pengembang sehingga para petani diperbolehkan melakukan budidaya sayuran.

Aktivitas pertanian itu diizinkan sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan harian warga sekitar sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi kelompok tani.

Meski berada di atas lahan milik swasta, para petani tetap berada dalam pembinaan Dinas KPKP DKI Jakarta.

Berbagai bantuan telah diberikan untuk mendukung aktivitas pertanian tersebut, mulai dari benih sayuran daun dan buah, pupuk, media tanam, hingga sarana produksi pertanian seperti cangkul.

Belasan petani menggantungkan hidup

Salah satu petani yang menggantungkan hidup di lahan samping JIS adalah Hendi (30), warga asal Indramayu. Ia telah hampir 10 tahun bertani di kawasan tersebut.

"Sudah lama, sejak tahun 2016-an lah. Saya juga dulunya petani juga di kampung. Dulunya saya ke sini karena ikut mertua ke sini, dia lebih dulu," kata Hendi saat diwawancarai nurulamin.pro di lokasi, Jumat.

Selain dirinya, terdapat 14 petani lain yang menggarap lahan milik perusahaan tersebut. Total luas lahan pertanian mencapai sekitar dua hektare dan telah dibagi sesuai batas masing-masing petani.

Besaran lahan yang dikelola bergantung pada biaya sewa yang dikeluarkan setiap bulan. Rata-rata petani membayar sewa sekitar Rp750.000 hingga Rp 1 juta per bulan yang dibayarkan kepada salah satu warga sekitar.

Hendi sendiri menyewa lahan seluas kurang lebih 2.800 meter persegi dengan biaya Rp750.000 per bulan. Di atas lahan itu, ia menanam berbagai jenis sayuran seperti kangkung, bayam, seledri, dan sawi.

Dalam sebulan, Hendi mengaku bisa meraup pendapatan sekitar Rp 6 juta dari hasil bertani. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 2 juta digunakan untuk modal, seperti biaya sewa lahan, pembelian pupuk, urea, dan obat-obatan tanaman.

Banjir jadi kendala utama

Namun, bertani di tengah kota bukan perkara mudah. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi para petani adalah banjir yang kerap melanda kawasan sekitar JIS.

"Ada lah suka dan dukanya kalau musim banjir suka kena. Itu kerugiannya bisa Rp 5 juta lebih karena enggak bisa diambil (sayurannya), kadang-kadang dalam satu tahun, ada satu kali musim banjir," ucap Hendi.

Ia menegaskan,banjir yang merendam lahan pertaniannya bukan berasal dari laut atau banjir rob yang sering terjadi di Jalan RE Martadinata.

Meski demikian, pada akhir 2025 lalu, lahan pertanian di sekitar JIS relatif aman dari banjir meski hujan lebat kerap mengguyur Jakarta.

Tantangan Tanah Asin

Kedekatan wilayah Jakarta Utara dengan laut juga memunculkan persoalan lain, yakni tanah yang cenderung asin. Kondisi ini kerap menyulitkan petani dalam bercocok tanam.

"Tanah asin dekat laut memengaruhi terutama saat musim kemarau, ada yang jadi, ada yang enggak," ungkap Hendi.

Meski tanah di kampung halamannya lebih subur, Hendi memilih bertahan bertani di Jakarta karena persaingan yang lebih ketat di daerah asal. Ia dan petani lain terus beradaptasi dengan kondisi tanah asin demi tetap bisa panen.

Hal serupa dirasakan Cariman (28), petani lain di lahan samping JIS.

"Kalau subur mah suburan di kampung beda, karena di sini tanahnya asin dan mudah bikin mati kalau ditambah terendam banjir," jelas dia.

Jika banjir besar datang, tanaman Cariman kerap terendam dan mati. Padahal, dalam kondisi normal, sayuran seperti seledri, sawi, kangkung, dan bayam bisa dipanen dalam waktu 18–20 hari.

Cariman biasanya memanen sayur sesuai permintaan tengkulak setiap hari, dengan rata-rata penjualan mencapai 50 ikat per hari.

"Kalau kangkung per iketnya ada yang Rp 500 - 600, kalau sawi gulungan satu gulung lima kilogram itu jualnya Rp 25.000, kemangi per ikat karena kalau dijual gabungan ama sayur lain 30 ikat itu Rp 8.000," tutur Cariman.

Dalam sebulan, pendapatan kotor Cariman bisa mencapai Rp 7 juta. Namun, dari jumlah tersebut masih harus dipotong modal sekitar Rp 2 juta untuk sewa lahan dan biaya produksi.

Kualitas sayur di tanah asin

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan bahwa kualitas sayuran yang ditanam di tanah asin memang berbeda dibandingkan tanah normal.

"Kualitas sayuran yang dihasilkan sangat berbeda, antara lain pada tanah asin kurang berkualitas karena menghambat penyerapan air dan nutrisi," ucap Apri saat dihubungi nurulamin.pro, Jumat.

Menurut dia, hambatan penyerapan air dan nutrisi dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, daun menguning, serta rasa sayur menjadi lebih pahit atau hambar.

Kandungan antioksidan juga cenderung lebih rendah dibandingkan sayuran yang ditanam di tanah normal atau menggunakan media lain seperti pot dan sistem hidroponik yang tentunya lebih subur, bernutrisi tinggi seperti vitamin C dan zat besi.

Solusi urban farming

Untuk wilayah perkotaan yang rawan banjir dan memiliki tingkat salinitas tanah tinggi, Apri menyarankan pengembangan pertanian perkotaan berbasis teknologi.

Pertanian dapat dilakukan melalui hidroponik, penggunaan pot atau polybag, serta sistem vertikal atau vertical farming guna meminimalkan dampak banjir dan tanah asin.

"Di mana ini juga menjadi salah satu cara mensiasati adanya banjir maupun salinitas di tanah yang tinggi," ungkap Apri.

Ia juga merekomendasikan jenis tanaman yang cocok untuk ditanam di perkotaan, seperti selada, bayam, kangkung, sawi, tomat, cabai, serta tanaman herbal seperti mint, basil, seledri, dan jahe.

Untuk buah, jenis mini seperti stroberi, melon kecil, dan tomat ceri dinilai cocok untuk lahan terbatas.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan