Bertani di samping Stadion Internasional, petani sayur JIS raup pendapatan di atas UMR

JAKARTA, nurulamin.pro Di lahan seluas kurang lebih dua hektar tepat di samping Jakarta International Stadium (JIS), Tanjung Priok, Jakarta Utara, milik salah satu perusahaan swasta, belasan petani menggantungkan hidupnya.

Lahan yang dulunya kosong itu kini disulap menjadi pertanian sayuran hijau yang berdampingan langsung dengan stadion berskala internasional.

Para petani mendapatkan izin untuk bercocok tanam di lokasi tersebut karena pemilik lahan belum mau menggunakannya sampai saat ini.

Hendi (30), warga Indramayu, menjadi salah satu petani yang mencoba peruntungan bercocok tanam di tengah kota sejak 2016.

"Sudah lama, sejak 2016-an lah. Saya juga dulunya petani juga di kampung," kata dia saat diwawancarai nurulamin.pro di lokasi, Jumat (9/1/2026).

Hendi bilang, awal bisa bertani di samping JIS karena diajak membantu mertuanya saat itu.

Menyewa lahan

Namun kini, Hendi sudah lebih mandiri dan memiliki lahan sekitar 2.800 meter persegi untuk menanam berbagai jenis sayuran di samping JIS.

Meski sudah mendapatkan izin dari perusahaan pemilik tanah, belasan petani tetap harus membayar sewa lahan per bulannya.

"Ini kan petakan punya saya, sistemnya sewa sama keamanan atau orang sini, bukan sama PT. Saya enggak tahu uang sewanya sampai ke PT atau enggak, kan kami enggak tahu," ungkap Hendi.

Hendi bilang, setidaknya ada sekitar 15 petani yang menyewa lahan tersebut untuk bercocok tanam. Harga sewa lahan yang harus dibayarkan setiap petani berbeda-beda tergantung luasnya.

Namun, rata-rata para petani menyewa lahan sekitar Rp 800.000 - Rp 1 juta per bulan. Sementara Hendi harus membayar sewa sekitar Rp 750.000 per bulannya.

Di atas lahan yang disewa tersebut, para petani bercocok tanam berbagai jenis sayuran, mulai dari kangkung, sawi, seledri, bayam, dan lain sebagainya.

Pendapatan petani di atas UMR

Hendi mengaku bisa menjual puluhan ikat sayuran hasil yang ia tanam di samping JIS setiap harinya.

"Dalam sehari bisa jual 30-40 ikat, tapi campuran ada kemangi, bayam, jualnya ada tengkulaknya," ungkap Hendi.

Hendi mengaku menjual sayuran tersebut per 10 ikat dengan harga Rp 5.000. Jika ditotal, maka pendapatannya per bulan bisa mencapai Rp 6 juta, namun itu masih kotor.

Sebab, dalam satu bulan, modal yang harus dikeluarkan para petani untuk bercocok tanam setidaknya Rp 2 juta.

"Beli pupuk kalau yang satu kuintal aja Rp 400.000 itu satu bulan habis, kadang-kadang kurang. Belum beli bibit, belum sewa, mungkin Rp 2 juta modalnya," jelas Hendi.

Meski modalnya besar, tapi Hendi mengaku masih ada keuntungan yang ia peroleh untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah.

Petani lain bernama Cariman (28) juga mengaku setidaknya modal yang harus dikeluarkan untuk bercocok tanam sekitar Rp 2 juta per bulan.

Modal tersebut digunakan untuk membeli pupuk, urea, bibit, obat-obatan, dan lain sebagainya.

Sementara lahannya disewakan oleh bandar yang bekerjasama dengan dirinya. Nanti, hasil panen sayuran tersebut akan dibagi dengan bandar dengan pembagian lima banding satu.

Misal, hasil panen sayur Cariman lima ikat, maka satu ikatnya lagi akan diberikan ke bandar.

Biasanya, dalam satu hari ia bisa memanen sekitar 50 ikat berbagai jenis sayuran, mulai dari sawi, bayam, seledri, kangkung, dan lain sebagainya.

Satu ikat kangkung dijual dengan harga Rp500 - Rp600. Sedangkan sawi dijual per gulung dengan berat lima kilogram seharga Rp25.000.

Sementara kemangi biasanya dijual secara gabungan dengan sayur lain per 30 ikat dengan harga Rp 8.000.

Jika ditotal, rata-rata pendapatan Cariman sebagai petani di tengah kota di atas Rp 5 juta per bulannya.

"Kalau pendapatan tergantung kerja sayanya, kalau saya paling sih Rp 7 juta per bulan," beber Cariman.

Bentuk ketahanan pangan

Meski menanam di lahan swasta, para petani di samping JIS ini berada di bawah binaan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta.

Perusahaan swasta sebagai pemilik lahan memang belum menggunakan lokasi tersebut, sehingga para petani diizinkan untuk bercocok tanam.

"Dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan sebagian dijual sebagai pemasukan bagi kelompok tersebut," tutur Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok dalam keterangan tertulisnya yang diterima nurulamin.pro, Jumat.

Ke depannya, kata Hasudungan, Dinas KPKP juga akan membantu para petani dalam mendistribusikan hasil pertaniannya agar bisa terjual dengan baik.

Di sisi lain, ia juga mengimbau agar para petani di Jakarta terus mengembangkan kegiatan bercocok tanamnya, mulai dari hulu sampai hilir dalam rangka menjaga ketahanan pangan, serta mewujudkan swasembada pangan di DKI Jakarta.

Pengembangan pertanian di Jakarta bisa dilakukan dengan memanfaatkan lahan yang sudah tidak produktif menjadi produktif.

Lahan-lahan yang tidak produktif seperti depan atau belakang rumah juga bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam dengan cara yang baik.

"Budidaya pertanian yang baik dan benar serta mengolah sebagian hasil pertanian menjadi produk pertanian yang bernilai ekonomi," tutur Hasudungan.

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) Bayu Dwi Apri Nugroho juga sepakat bahwa pertanian di tengah kota menjadi salah satu pilar dalam ketahanan pangan di masyarakat.

"Harapannya dengan adanya pertanian perkotaan, ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, RT, RW maupun kelurahan bisa tercukupi tanpa bergantung dari pihak lain," tutur Apri saat dihubungi nurulamin.pro, Jumat.

Dikembangkan menjadi bisnis

Manfaat paling besar dari pertanian di tengah kota adalah ketersediaan bahan pangan di wilayah sekitar tercukupi dengan baik.

Namun, tak hanya sampai situ, pertanian di tengah kota ini juga bisa dikembangkan menjadi peluang bisnis baru untuk para masyarakat.

"Ke depannya kalau bisa dikembangkan lagi tentunya bisa menjadi bisnis baru," sambung Apri.

Artinya, jika hasil pertanian sudah mencukupi kebutuhan masyarakat di sekitar, maka bisa diperjualbelikan ke pasar yang lebih luas agar pendapatan petani bisa bertambah.

Namun, untuk mengembangkan pertanian tentu saja para petani di perkotaan tidak bisa sendiri dan perlu bantuan dari pemerintah.

Pemerintah harus hadir memberikan sosialisasi dan pendampingan secara berkelanjutan.

"Adanya sosialisasi dan pendampingan yang intens termasuk monitoring, sehingga tidak hanya jadi program jangka pendek tetapi bisa menjadi program yang sustain," kata dia.

Para petani juga perlu dikenalkan dengan berbagai teknologi budidaya baru agar bisa menghasilkan sayuran atau buah yang berkualitas.

Budidaya pertanian diperbanyak

Apri mengatakan, untuk menanam sayur tidak selalu harus di lahan yang besar, seperti di samping JIS atau wilayah lainnya.

Tapi para petani juga bisa melakukan budidaya dengan hidroponik, vertical farming, pot dengan berbagai komoditas baik sayuran atau buah-buahan yang bermanfaat dan minimal bisa dikonsumsi sendiri.

Lalu, para petani juga diminta aktif menjalin komunikasi dengan orang yang membinanya, baik itu dari Dinas Pertanian atau lainnya untuk berkonsultasi apakah budidaya yang dilakukan sudah sesuai atau belum.

"Harus sesuai dengan GAP (good agricultural practices) dan hasil panen sesuai yang diharapkan," kata dia.

Apabila petani hanya sekadar menanam dan tidak memperhatikan GAP-nya, maka dikhawatirkan budidaya sayuran atau buah mengalami gagal panen dan menyebabkan kerugian.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan