Bintang Kala Kembangkan Aplikasi Keuneunong, Perjuangan di Tengah Bencana

Bintang Kala Kembangkan Aplikasi Keuneunong, Perjuangan di Tengah Bencana

Kisah Perjuangan Tim Bintang Kala di Tengah Bencana

Di tengah hujan deras dan longsoran yang menghancurkan Aceh, sekelompok inovator muda dari daerah tersebut memilih untuk tidak menyerah. Mereka adalah anggota Tim Bintang Kala, yang berhasil lolos hingga grand final ajang Budaya GO 2025. Meskipun menghadapi tantangan luar biasa seperti banjir besar, kehilangan listrik, dan isolasi total, mereka tetap berjuang untuk menyelesaikan demo aplikasi mereka.

Aplikasi yang dikembangkan oleh Tim Bintang Kala adalah Smart Keuneunong, sebuah karya berbasis kearifan lokal yang dirancang untuk membantu para petani dan nelayan memahami alam, cuaca, serta siklus kehidupan yang selama ini hanya diwariskan secara lisan.

Anggota Tim Bintang Kala

Tim Bintang Kala terdiri dari beberapa anggota dengan latar belakang berbeda:

  • Nanta Es – Lhokseumawe
    Programmer dan operator SMAN Mosa Arun Lhokseumawe.

  • Syahrul Hamdi – Aceh Selatan
    Ahli Data Sains & Programmer, SMAN Mosa Arun Lhokseumawe.

  • Reny Fharina – Aceh Tengah
    Pegiat Seni & Guru Seni SMPN 3 Bireuen.

  • Abu Rahmat – Aceh Utara
    Pegiat Seni & Guru SMAN 1 Baktiya.

  • Nyakman Lamjamee – Banda Aceh
    Seniman.

Tantangan Berat dalam Proses Pengembangan Aplikasi

Pada tanggal 26 November 2025, setelah pengumuman tahap dua, tim masih berdiskusi melalui grup WhatsApp untuk menyempurnakan demo aplikasi. Namun, hujan yang turun tanpa henti membuat situasi semakin sulit. Listrik padam di hampir seluruh Aceh, dan jaringan komunikasi ikut terputus. Beberapa anggota tim bahkan harus berjuang keras untuk mencari sinyal.

Dalam kondisi gelap dan ketakutan, mereka tetap berusaha menyelesaikan demo aplikasi. Dengan daya baterai seadanya dan cahaya seadanya, akhirnya demo aplikasi itu berhasil dikirim. Namun, bagi sebagian anggota, yang ada saat itu hanya satu tujuan: bertahan hidup.

Empat Hari Tanpa Cahaya

Empat hari berlalu tanpa listrik dan sinyal. Ketika hujan akhirnya reda, mereka berjalan kaki menyusuri tempat-tempat tinggi hanya untuk mencari seberkas sinyal. Di sanalah mereka menemukan kabar yang menggetarkan: nama “Bintang Kala” tercantum dalam daftar undangan grand final.

Perasaan campur aduk meliputi bahagia, takut, sedih, dan bimbang. Bagaimana bisa berangkat jika jalan terputus? Bagaimana bisa berpikir tentang lomba saat perut lapar dan rumah hancur? Bagaimana meninggalkan keluarga yang masih bertahan di lumpur?

Perjalanan Menuju Jakarta

Mereka berasal dari daerah yang terpisah: Lhokseumawe, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Tengah, dan Banda Aceh. Semua jalur darat terputus. Tiga anggota dari Lhokseumawe dan Aceh Utara terpaksa menyeberangi sungai berarus deras menggunakan perahu kecil milik nelayan. Hampir terbalik. Jembatan telah hancur. Mereka meninggalkan keluarga dan rumah yang masih berlumpur.

Satu anggota dari Bireuen berangkat setelah menelepon orang tua, memohon izin, sambil menahan tangis. Anggota tim di Banda Aceh menunggu mereka dengan berjalan kaki berkilometer hanya untuk menemukan jaringan internet demi memastikan komunikasi tetap hidup.

Tiba di Jakarta

Tanggal 3 Desember 2025, mereka akhirnya tiba di Banda Aceh dalam keadaan selamat. Mereka menumpang di kantor BPK Wilayah I, satu dari sedikit tempat yang masih memiliki listrik. Di sanalah mereka, untuk pertama kalinya, duduk bersama. Tatap muka. Bukan hanya sebagai tim, tapi sebagai saudara seperjuangan.

Malam itu mereka belajar, berdiskusi, dan mempersiapkan diri untuk Jakarta. Paginya, pukul 10.00 WIB, mereka berangkat ke bandara. Sore hari, pukul 18.00 WIB, mereka akhirnya tiba di lokasi Budaya GO Jakarta dan bertemu para finalis lain dari seluruh Indonesia.

Pesan dari Tim Bintang Kala

Mereka datang bukan dengan pakaian terbaik, tapi dengan luka, air mata, dan tekad yang tak pernah padam. Dari 627 peserta, menjadi 100, lalu 50, hingga akhirnya Bintang Kala menjadi 10 besar grand finalis nasional.

Bintang Kala tidak hanya membawa aplikasi. Mereka membawa kisah tentang ketahanan manusia. Tentang mimpi yang bertahan meski dunia runtuh. Tentang cahaya yang tetap hidup di tengah bencana.

Kaki harus menyelesaikan mapan yang sudah kami mulai, " Kata Abu Rahmat saat menerima apresiasi pada malam penutupan. Mereka hadir semua di panggung diiringi latar benacana banjir dan longsor di Aceh. Kampung meteka.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan