JAKARTA, aiotrade
Di tengah semakin padatnya pembangunan di perkotaan, di mana rumah-rumah berdiri berimpitan tanpa menyisakan celah, muncul berbagai permasalahan yang tak jarang memicu konflik antar-tetangga. Dari sekadar tampias air hujan hingga dinding retak akibat renovasi, konflik-konflik kecil ini seringkali berakar pada absennya satu elemen penting dalam desain perumahan: brandgang.
Brandgang, yang dikenal juga sebagai jalan setapak atau gang kecil di bagian samping dan belakang rumah, berfungsi sebagai pemisah esensial antara satu rumah dengan yang lainnya. Namun, keberadaan brandgang kini semakin sulit ditemukan, terutama di kawasan padat penduduk, karena alasan keterbatasan lahan.
Menurut CEO Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono, fungsi brandgang jauh lebih krusial dari sekadar pemisah visual. "Ada setidaknya tiga fungsi utama yang menjelaskan mengapa kehadiran brandgang sangat penting dan diperlukan dalam perumahan modern," ujar Hendra kepada aiotrade, Rabu (3/12/2025).
Cegah Keretakan dan Patahan Bangunan
Fungsi pertama dan paling fundamental dari brandgang adalah mencegah keretakan (crack) atau patahan pada bangunan secara konstruksi. Wakil Ketua Umum REI, Bambang Ekajaya, menjelaskan bahwa setiap rumah memiliki kedalaman fondasi yang berbeda-beda. "Jadi fungsinya itu secara teknis untuk menghindari agar bangunan tidak retak atau patah," kata Bambang.
Jika rumah dibangun secara berimpitan, pada saat terjadi penurunan permukaan tanah (settlement), risiko keretakan atau patahan pada struktur bangunan di samping kanan dan kirinya akan sangat tinggi. Bayangkan satu rumah memiliki kedalaman fondasi 10 meter, sementara di sebelahnya 15 meter. Ketika terjadi penurunan tanah pada salah satu rumah, tegangan yang timbul dapat menyebabkan retak pada struktur bangunan tetangganya.
Brandgang menciptakan jarak aman yang vital, memungkinkan setiap bangunan untuk "bernapas" dan menopang diri sendiri tanpa mempengaruhi struktur tetangga. Namun, dalam praktiknya, brandgang kerap diabaikan. Bahkan, ada pengembang yang membangun rumah secara berderet panjang dan hanya membuat brandgang setiap jarak 100 meter, bukan di setiap rumah.
"Jadi ada juga pengembang yang bangun 30 rumah secara berderet, nah di setiap lima rumah itu biasanya dia buat brandgang," tutur Bambang. Pendekatan ini, meskipun menghemat lahan, berpotensi menciptakan masalah struktural jangka panjang.
Jalur Evakuasi Darurat: Akses Vital Saat Bencana
Fungsi kedua dari brandgang adalah sebagai jalur evakuasi darurat, terutama pada saat terjadi kebakaran. Jalur setapak ini dapat digunakan sebagai akses yang memudahkan petugas pemadam kebakaran ketika melakukan evakuasi dan memadamkan api. "Ini sangat berguna bagi penghuni rumah untuk melakukan evakuasi jadi semacam short cut, lalu memudahkan petugas pemadam biar pipa semprotnya itu bisa masuk," terang Hendra.
Dalam situasi darurat seperti kebakaran, setiap detik sangat berharga. Brandgang menyediakan rute alternatif yang aman bagi penghuni untuk melarikan diri dan juga mempermudah tim penyelamat untuk menjangkau titik api atau area yang terdampak tanpa harus menembus bangunan lain. Absennya brandgang dapat menghambat upaya pemadaman dan evakuasi, berpotensi memperbesar kerugian jiwa dan materi.
Sodetan Air dan Saluran Pembuangan (Selokan)
Fungsi ketiga dari brandgang adalah sebagai sodetan air atau selokan. Pada umumnya, brandgang dijadikan dalam bentuk dua hal: jalan setapak yang bisa dilalui atau saluran pembuangan air. "Brandgang juga dapat difungsikan sebagai sodetan air dan juga selokan, nah ini tergantung kebutuhan," tuntas Bambang.
Di wilayah padat penduduk, manajemen air hujan dan limbah rumah tangga menjadi tantangan besar. Brandgang dapat menjadi saluran vital untuk mengalirkan air, mencegah genangan, dan meminimalkan risiko banjir lokal. Tanpa brandgang yang berfungsi sebagai selokan, air hujan dari atap rumah-rumah yang berimpitan bisa langsung meluber ke properti tetangga, menyebabkan erosi, kerusakan fondasi, bahkan konflik karena "tampias" air.
Hilangnya brandgang di pembangunan perumahan modern, terutama di kawasan perkotaan, tidak hanya meningkatkan risiko konflik antar-tetangga akibat masalah sepele, tetapi juga membawa konsekuensi serius terhadap stabilitas struktural sehingga berpotensi terjadinya kerusakan bangunan dalam jangka panjang. Selain itu, juga mengurangi opsi evakuasi darurat dan mempersulit akses bagi petugas penyelamat, menyebabkan masalah genangan dan drainase yang buruk, dan menciptakan lingkungan yang rentan konflik dan kurang nyaman.
Meskipun lahan terbatas menjadi alasan klasik, penting untuk diingat bahwa mengabaikan fungsi brandgang adalah mengorbankan keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan permukiman dalam jangka panjang. Konsep brandgang bukan lagi sekadar warisan desain lama, melainkan solusi holistik yang esensial untuk membangun perumahan yang lebih resilien, aman, dan harmonis di tengah tantangan urbanisasi modern. Mengintegrasikan kembali brandgang ke dalam perencanaan pembangunan, bahkan dengan modifikasi yang efisien lahan, adalah investasi berharga demi menciptakan lingkungan hunian yang lebih baik.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar