Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan Pimpin Penangkapan Narkoba Dewi Astutik di Kamboja

Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan Pimpin Penangkapan Narkoba Dewi Astutik di Kamboja

Penangkapan Gembong Narkoba Dewi Astutik di Kamboja

Tim Badan Narkotika Nasional (BNN) RI berhasil menangkap buronan kasus narkotika, Dewi Astutik (42), di Kamboja. Ia adalah gembong narkoba lintas negara yang terlibat dalam penyelundupan 2 ton sabu dengan nilai mencapai Rp 5 triliun. Penangkapan ini dilakukan oleh tim BNN yang dipimpin oleh Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan.

Dewi Astutik dikenal sebagai otak dari berbagai penyelundupan narkotika skala besar. Ia juga terlibat dalam upaya penyelundupan dua ton sabu jaringan Golden Triangle yang berhasil digagalkan pada Mei 2025. Selain itu, ia juga terlibat dalam sejumlah kasus besar pada 2024 yang berhubungan dengan kelompok Golden Crescent.

Penangkapan Dewi Astutik tidak lepas dari peran penting Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan. Ia memimpin tim BNN dalam operasi penangkapan gembong narkoba paling dicari saat ini. Kepala BNN Komjen Pol. Suyudi Ario Seto mengatakan bahwa Dewi Astutik diduga merupakan aktor utama dari penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun dan kasus narkotika lainnya yang terjadi di wilayah Indonesia.

Kini, Dewi Astutik sudah dibawa ke Indonesia untuk pemeriksaan lebih lanjut. Proses penindakan tidak berhenti hanya pada penangkapan tokoh utama. Upaya pemberantasan akan berlanjut hingga seluruh struktur jaringan narkoba yang selama ini beroperasi secara luas dan terorganisasi dapat dibongkar tuntas.

Profil Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan

Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan lahir di Medan pada 16 Februari 1970. Ia kini telah berusia 55 tahun. Selama menjadi anggota Polri, ia pernah berdinas baik di dalam maupun luar Pulau Jawa. Roy sempat menjabat sebagai Kepala Unit IV Sat Ops I Direktorat Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Jawa Barat pada 2007. Kariernya kemudian berkembang menjadi Direktur Reserse Kriminal Khusus di Kepolisian Daerah Bengkulu pada 2015.

Pada 2020, Brigjen Pol Roy dipercaya duduk di kursi Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Maluku Utara. Pada 2021, ia menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Kalimantan Tengah. Kemudian, ia ditarik ke BNN pusat dan dilantik menjadi Direktur Penindakan Dan Pengejaran Deputi Bidang Pemberantasan BNN di Ruang Muhammad Hatta Gedung Tan Satrisna BNN Lt. 7, pada Kamis (8/6/2023).

Brigjen Pol Roy dimintai sumpah jabatan oleh Kepala BNN RI yang kala itu masih dijabat Komjen Pol. Dr. Petrus R. Golose. Total ada sembilan jabatan tinggi Madya dan Pratama di lingkungan BNN yang dilantik. Roy kini menyandang pangkat Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol). Simbol kepangkatan berupa bintang satu di pundaknya.

Brigjen Pol Roy telah menyandang tiga gelar akademik, yaitu Sarjana Ilmu Kepolisian (S.I.K.), Sarjana Hukum (S.H.), dan Magister Hukum (M.H.). Ia juga menerima sejumlah penghargaan atas dedikasi dan kinerja luar biasa dalam pengungkapan dan penindakan jaringan bandar narkoba di Kampung Pungutan Kota Palangkaraya pada 2021 lalu.

Sepak Terjang Dewi Astutik

Dewi Astutik, perempuan asal Ponorogo, Jawa Timur, dikenal sebagai otak dari berbagai penyelundupan narkotika skala besar. Ia terlibat dalam upaya penyelundupan dua ton sabu jaringan Golden Triangle yang berhasil digagalkan pada Mei 2025, serta sejumlah kasus besar pada 2024 yang berhubungan dengan kelompok Golden Crescent.

Menurut laporan kompas.com, Dewi Astutik berhasil dilacak dan ditangkap di Sihanoukville melalui operasi senyap lintas negara yang dipimpin Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan. Ia diamankan saat berjalan menuju lobi sebuah hotel di kawasan tersebut. Dewi juga diketahui menjadi buronan otoritas Korea Selatan.

Setelah ditangkap, Dewi langsung dibawa ke Phnom Penh, Kamboja, untuk memastikan identitasnya dan menjalani proses penyerahan resmi antarotoritas sebelum dibawa pulang ke Indonesia. Sesampainya di Tanah Air, Dewi akan diperiksa secara menyeluruh untuk mengungkap jaringan yang selama ini ia kelola mulai dari alur pendanaan, distribusi logistik, hingga para pelaku lain yang ikut terlibat.

Dewi Astutik ternyata telah merekrut ratusan orang Indonesia untuk menjadi kurir narkoba di luar negeri. Dalam kasus terakhir, penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun dari KM Sea Dragon Tarawa di perairan Karimun, Kepulauan Riau, pada 20 Mei 2025, kurir-kurir ini tiketnya juga dipesan orang yang berhubungan dengan Dewi Astutik.

Jaringan yang Dikendalikan Dewi Astutik

Menurut Marthinus Hukom yang saat itu menjabat Kepala BNN RI, Dewi Astutik memainkan peran penting dalam proses rekrutmen kurir. Ia tidak hanya menjadi master mind di kasus penyelundupan 2 ton sabu di kapal Sea Dragon Tarawa, tapi juga di kasus-kasus besar lainnya. Seperti, akhir tahun 2024, saat ada 2 orang terbang dari Kamboja, masuk ke Medan dengan menggunakan pesawat membawa narkoba, mereka juga hasil rekrutmen Dewi Astutik.

Marthinus bahkan membuka data mencengangkan, dimana ada 110 orang Indonesia (WNI) yang dianggap di luar negeri seperti Brasil, India, Kamboja hingga Korea, ternyata mereka juga hasil rekrutmen Dewi Astutik. "Itu ketika kita bertanya, mereka bagian dari Dewi Astutik," ujarnya.

Menurut Marthinus, Dewi Astutik sudah menjadi pimpinan jaringan ini. Namun, dia yakin Dewi bukan pimpinan tertinggi karena hasil analisisnya, dia terhubung dengan sindikasi di Afrika yang beroperasi di wilayah Thailand dan semenanjung Malaya.

Nama Dewi Astutik sebenarnya sudah menjadi perhatian publik sejak 2024. Saat itu, ia disebut-sebut sebagai pemasok heroin dalam kasus penyelundupan 2,76 kg yang berhasil diungkap BNN. Kasus tersebut bermula pada 24 September 2024 ketika petugas Bea Cukai Soekarno-Hatta mencurigai seorang pria berinisial ZM yang baru tiba di Terminal 3 setelah terbang dari Singapura. Pemeriksaan bagasinya menemukan 2.760 gram heroin yang disembunyikan rapi di balik dinding koper.

Dari keterangan ZM, tim BNN langsung bergerak dan menangkap SS. Pemeriksaan SS kemudian mengarah pada pelaku lain, AH, yang diduga sebagai sosok yang memberi perintah kepada ZM dan SS. AH diketahui meminta keduanya mengambil heroin dari seorang perempuan di Kamboja, yang tak lain adalah Dewi Astutik.

Bermodalkan informasi tersebut, BNN akhirnya berhasil menangkap AH di Medan, Sumatera Utara. Komjen Marthinus Hukom, menegaskan bahwa jaringan yang dikendalikan Dewi Astutik tidak berkaitan dengan kelompok Fredy Pratama yang juga tengah diburu aparat. "Sindikat heroin ini adalah sindikat yang berbeda dengan Fredy Pratama," ujar Marthinus di kantornya, Cawang, Jakarta Timur, Jumat (4/10/2024).


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan