Kehidupan Baru di Tanah Poso

Kulon Progo, aiotrade — Senyum tulus menghiasi wajah Budi Prayitno (40) dan Sutriani (42) saat melihat anak-anak mereka, Nuri Alin yang masih SMP dan Valen yang duduk di bangku sekolah dasar, bermain ceria di halaman kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (10/12/2025).
Keluarga kecil asal Padukuhan Gondangan, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih ini sedang bersiap untuk memulai petualangan baru mereka sebagai transmigran menuju Desa Torire, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, yang dijadwalkan berlangsung pada hari Minggu (14/12/2025) nanti.
Keputusan untuk bertransmigrasi bukanlah hal yang diambil secara tiba-tiba. Dalam satu tahun terakhir, mereka menjalani serangkaian proses yang panjang, mulai dari pendaftaran, seleksi, pelatihan, hingga survei lapangan selama empat hari di Poso, serta pelatihan pertanian selama dua minggu di Yogyakarta. Kini, keberangkatan yang ditunggu-tunggu itu sudah di depan mata.
“Kerja saya buruh serabutan. Penghasilan tak cukup untuk makan dan biaya sekolah. Kami berniat memperbaiki ekonomi keluarga,” ungkap Budi, mantan sopir pengantar kelapa ke Solo.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Sebagai buruh serabutan, Budi mengaku pendapatannya tidak stabil. Ia sering mengantar kelapa ke Solo dua kali dalam seminggu, membantu membuat arang milik orangtua, hingga ikut bertani jagung dan kacang. Penghasilannya harian sering kali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang semakin mendesak.
Sutriani pun menyampaikan hal yang sama. “Pendapatan Rp 200.000, keluarnya lebih dari itu. Buat makan, sekolah, listrik. Boro-boro nabung…” cetus Sutriani dengan nada sedih. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor, keduanya sepakat untuk mengubah nasib melalui transmigrasi. Namun, keputusan ini sempat mengundang penolakan dari anak sulung mereka. "Namanya anak, berat meninggalkan teman. Saya cuma bisa jelaskan pelan-pelan… ini buat masa depan,” kata Sutriani.
Kini, anak mereka meskipun masih merasa takut, mulai menerima keputusan orang tua untuk bertransmigrasi. Pemerintah telah menjanjikan berbagai fasilitas untuk setiap kepala keluarga, antara lain rumah, lahan dua hektar, jatah hidup selama satu tahun, serta modal awal sebesar Rp14 juta.
Tekad Keluarga dan Komunitas Transmigran
Budi bertekad untuk bekerja keras di tahun pertama mereka di tanah yang konon subur. Ia berencana menanam kopi dan kakao karena harganya yang menjanjikan. “Kami cuma ingin hidup lebih mapan, Pak, biar anak-anak bisa sekolah dengan tenang, biar kami punya tanah sendiri. Semoga transmigrasi ini bisa mengubah nasib,” harap Sutriani dengan penuh keyakinan.
Minat masyarakat terhadap program transmigrasi di Kulon Progo meningkat tajam. Kuota yang awalnya hanya dua kepala keluarga kini bertambah menjadi lima. Farida Ariyani, Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Transmigrasi Disnaker Kulonprogo, menjelaskan bahwa rombongan keberangkatan transmigran Kulon Progo tahun 2025 ini terdiri dari lima kepala keluarga atau total 20 jiwa, dengan latar belakang yang beragam.
“Timnya cukup lengkap. Ada yang bisa bangunan, ada petani, ada keamanan. Bahkan ibu-ibunya pun ada yang bisa bikin kue, menjahit, sampai nyalon. Harapannya, di sana mereka bisa membentuk kehidupan komunitas yang utuh,” ujar Farida.
Peluang Baru Menanti di Tanah Poso
Rombongan transmigran Kulon Progo akan dilepas dalam acara resmi di Yogyakarta sebelum berangkat menuju Sulawesi Tengah pada Rabu, 17 Desember 2025. Sebelum berangkat, mereka sempat pamit kepada Bupati dan Wakil Bupati Kulon Progo. Farida pun menyampaikan pesan bagi para transmigran. “Jaga nama baik Kulon Progo. Pantang pulang sebelum sukses,” kata Farida.
Pesan inilah yang kini menjadi pegangan kuat bagi Budi dan keluarganya. Meskipun perjalanan ke Torire akan menghadirkan tantangan, seperti kondisi tanpa listrik, udara dingin pegunungan, dan akses yang jauh dari kota, tanah subur Poso menjanjikan harapan baru. Dengan lahan dua hektar yang siap digarap, harapan untuk menanam berbagai komoditas seperti kopi, jagung, dan sayuran menjadi semakin nyata.
Keberanian keluarga Prayitno untuk bertransmigrasi adalah cerminan dari tekad untuk memperbaiki nasib dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Saat mereka melangkah menuju perubahan, harapan dan mimpi akan kehidupan yang lebih baik menjadi pendorong semangat bagi mereka.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar