
nurulamin.pro, BELITUNG -- Buku puisi bertajuk Puisi Sang Pengacara resmi diluncurkan di Aula SMAN 1 Tanjungpandan, karya Kurnianto Purnama, seorang pengacara kelahiran Belitung, 25 Desember 1961 pada Senin (12/1/2026).
Peluncuran buku ini terasa istimewa karena Kurnianto merupakan alumni SMAN 1 Tanjungpandan angkatan tahun 1984.
Turut hadir dalam acara tersebut Ketua DPRD Belitung Vina Cristyn Ferani bersama anggotanya Willianto.
Ia membeberkan, puisi-puisi dalam buku tersebut ditulis dalam rentang waktu cukup panjang, yakni sejak tahun 2016 hingga 2025. Selama sembilan tahun, ia menuangkan inspirasi yang datang di berbagai kesempatan.
“Buku ini sebetulnya saya tulis saat liburan ke mana-mana. Kalau ada inspirasi, langsung saya tulis puisinya saat itu juga,” ujarnya kepada nurulamin.pro.
Dalam buku Puisi Sang Pengacara tersebut, terdapat kurang lebih 100 puisi, dengan sekitar 10 puisi ditulis saat dirinya berada di Belitung.
Menurutnya, puisi merupakan medium untuk menyimpan gagasan dan pemikiran manusia agar tidak hilang ditelan waktu.
“Mudah-mudahan sepintar-pintar orang, sehebat-hebatnya siapa pun, kalau dia tidak menulis, pemikirannya akan hilang dengan sendirinya. Kalau ada tulisan, pemikirannya masih ada,” katanya.
Ia menambahkan, peluncuran buku di SMAN 1 Tanjungpandan dilakukan secara khusus sebagai bentuk kedekatan emosional dengan sekolah tempat ia menimba ilmu.
“Saya sengaja meluncurkan buku ini di sini karena saya alumni SMA Negeri Tanjungpandan. Saya ingin buku ini bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak sekolah,” ujarnya.
Buku Puisi Sang Pengacara merupakan buku kelima yang ditulis Kurnianto Purnama. Berbeda dari karya sebelumnya yang juga memuat buku-buku hukum dengan segmentasi terbatas, buku kelima ini sepenuhnya berisi puisi.
“Kalau buku hukum segmennya terbatas. Kalau puisi, saya ingin lebih luas,” ungkapnya.
Adapun tema puisi yang diangkat berkisar pada kehidupan manusia sehari-hari, dengan penekanan pada hubungan manusia dan alam.
“Saya ingin mendorong manusia untuk menyayangi alam, mencintai alam, dan mengikuti alam. Kalau itu dilakukan, hidup pasti lebih damai,” katanya.
Melalui buku ini, Kurnianto berharap pesan-pesan kehidupan yang dituangkan dalam puisi dapat terus hidup dan menginspirasi pembacanya, khususnya generasi muda di Belitung.
(nurulamin.pro/Dede Suhendar)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar