Bulukumba Jadi 'Jogja Kedua': 30 Perajin Dibimbing Ahli Selama 12 Hari

Bulukumba Jadi 'Jogja Kedua': 30 Perajin Dibimbing Ahli Selama 12 Hari

Inisiatif Baru Mengembangkan Batik Bulukumba

Bukan hanya ombak yang berbisik di garis pantai Bulukumba, bukan pula hanya kokohnya tiang-tiang pinisi yang menjulang gagah. Kini, ada melodi lain yang mulai meramaikan identitas budaya daerah ini: desain batik yang hidup, menceritakan kembali laut, budaya, dan kearifan lokal di atas selembar kain. Selama ini, motif-motif lokal Sulawesi Selatan seringkali harus diproduksi jauh di Jawa, meninggalkan Bulukumba tanpa identitas wastra yang kuat. Namun, itu akan segera berubah.

Pemerintah Kabupaten Bulukumba, melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin), telah mengambil langkah berani. Sebanyak 30 perajin lokal kini digembleng oleh instruktur ahli dari Yogyakarta. Bulukumba diharapkan bangkit, bukan hanya sebagai magnet pariwisata, tetapi juga sebagai sentra batik baru yang menuliskan kisahnya sendiri.

Pelatihan Membatik Intensif

Sebuah langkah akseleratif dan ambisius diluncurkan:

Pelatihan Membatik Intensif
selama
12 hari
,
mulai dari
8 hingga 20 Desember 2025
,
bertempat di Gedung PKK Kabupaten Bulukumba.
Tujuannya tegas:
meningkatkan kualitas produk dan mendorong posisi Bulukumba sebagai sentra batik di luar Pulau Jawa.

Sebanyak
30 pelaku industri batik
,
yang mayoritas berasal dari UMKM Batik Mawar,
Kecamatan Bontomanai,
sebagai sentra awal,
kini digembleng langsung oleh tiga instruktur ahli dari Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri dan Kerajinan Batik (BBSPJIKB) Yogyakarta.

Menulis Kisah Laut, Pinisi, dan Kearsipan Lokal

Acara yang dibuka secara resmi oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Bulukumba, Andi Herfida Muchtar, ini menyoroti visi besar di balik pelatihan tersebut. Herfida Muchtar memaparkan bahwa selama ini, meskipun masyarakat Sulawesi Selatan sering menggunakan wastra bermotif lokal, proses produksinya masih harus dipesan ke Jawa.

"Kita melihat peluang besar dengan menghadirkan identitas Bulukumba melalui batik sebagai produk budaya, produk ekonomi, dan produk kebanggaan daerah," tegas Herfida Muchtar. "Ketika kita membuat batik Bulukumba, maka kita sedang menuliskan kisah tentang lautnya, budayanya, pinisinya, dan kearifan lokalnya."

Ketua Dekranasda juga menekankan bahwa pengembangan batik adalah langkah strategis untuk memberdayakan ekonomi daerah, mengubah UMKM dari sekadar usaha sampingan menjadi sumber pendapatan yang kuat. Dekranasda siap menjadi jembatan komunikasi antara pelaku UMKM, pemerintah, dan mitra untuk memastikan produk batik memiliki kualitas, standar, dan pasar yang lebih luas.

Visi Besar: Menjadikan Bulukumba sebagai "Jogja Kedua"

Visi besar pun dilontarkan: pelatihan ini diharapkan dapat menjadikan Bulukumba sebagai "Jogja Kedua" penghasil batik yang bisa diandalkan secara kualitas. Mengingat anggaran yang cukup besar dialokasikan, Herfida meminta agar hasil pelatihan harus optimal dan menghasilkan pembatik-pembatik handal, bahkan meminta adanya rapor harian untuk mengukur progres peserta.

Dukungan Strategis dari Pemerintah Daerah

Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Daud Kahal, yang mewakili Bupati Bulukumba, menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif ini. Dia menekankan nilai strategis kegiatan ini, terutama karena posisi Bulukumba sebagai daerah tujuan wisata di Sulawesi Selatan.

"Dalam lima tahun terakhir, rata-rata terdapat 500 sampai 700 ribu kunjungan wisatawan per tahun. Perputaran ekonomi dalam dunia pariwisata ini perlu didukung dengan hadirnya cinderamata khas seperti batik bagi wisatawan," ujar Daud Kahal.

Pelatihan yang melibatkan para ahli teknis seperti Masiswo, Djoko Aryudar Romadhona, dan Tika Sulistyaningsih dari BBSPJIKB Yogyakarta ini fokus pada peningkatan teknis membatik. Melalui sinergi antara Disdagperin, Dekranasda, dan instruktur ahli, pelatihan ini adalah investasi jangka panjang dalam membangun kualitas produk, memperluas pasar, dan menjadikan batik Bulukumba sebagai manifestasi visual dari kekayaan budaya yang mampu bersaing di tingkat nasional.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan