Cahaya di Ujung Perbatasan


KUPANG, aiotrade
— Pagi mulai beranjak ketika suara ayam berkokok bersahutan di Desa Nunmafo, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.
Udara masih lembab setelah hujan deras mengguyur wilayah yang berbatasan dengan Distrik Oecusse, Timor Leste itu sekitar 45 menit sebelumnya.
Dalam keheningan yang hanya ditemani embusan angin dingin sisa malam, Ignasius Neno Naisau (59) bangkit dari tidurnya.
Lelaki berperawakan kecil itu mengenakan sweater putih berkelir hitam, celana pendek, serta caping anyaman bambu.
Tangannya menggenggam senter kecil, satu-satunya penerang menuju kebunnya yang berada di Desa Fatoin, sekitar satu kilometer dari rumah. Masih gelap, masih sunyi, tetapi itulah jam kerja terbaik versi Ignasius.
“Kalau pagi begini, saya lebih senang jalan. Angin tenang dan bisa dengar semua suara alam,” tuturnya kepada aiotrade, Minggu (30/11/2025).
Jalan yang ia tempuh bukan jalan rata. Sepanjang rute itu dipenuhi batu karang tajam, tikungan kecil, dan jalur setapak yang terkadang hanya selebar telapak kaki.
Namun baginya, itu bagian dari perjalanan menuju sumber rezeki keluarga.
Tepat pukul 05.00 Wita, Ignasius tiba. Dari kejauhan, kebunnya tampak tidak biasa.
Terang, menyala, seperti pulau cahaya di tengah daratan berbatu. Lebih dari 1.400 pohon buah naga berdiri rapi di hamparan satu hektar lebih lahan karang.
Masing-masing diterangi lampu 20 watt yang membuat kebun itu tampak seperti desa kecil yang tak pernah tidur.
Ribuan lampu itu merupakan bantuan program electrifying agriculture dari PLN Unit Induk Wilayah NTT yang diterima Ignasius pada Juni 2021.
Program ini merupakan salah satu upaya PLN mendorong kemandirian energi berbasis listrik di sektor produktif NTT.
Dengan demikian, petani tidak lagi bergantung pada pola tanam musiman dan dapat meningkatkan nilai ekonomi melalui pemanfaatan energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Dan Ignasius, dari ribuan petani di TTU, menjadi satu-satunya penerima bantuan lampu tersebut.
“Saya sempat tanya, kenapa saya? Mereka bilang, habis keliling lihat kebun-kebun warga lainnya, saya yang paling siap,” katanya.
Pilihan itu tepat. Sebab setelah lampu menyala, semua berubah.
Sebelumnya, Ignasius hanya bisa panen buah naga saat musim hujan. Itu pun harganya turun karena semua petani panen bersamaan.
Namun, dengan pencahayaan, ia bisa memancing produktivitas tanaman pada musim kemarau, saat petani lain tidak panen.
“Musim hujan harga buah sekitar Rp 5.000. Tapi musim panas, saya jual Rp 15.000 sampai Rp 20.000. Karena saya sendiri yang panen,” ujarnya tersenyum.
Produktivitas melonjak drastis. Sebelum ada lampu, satu pohon hanya menghasilkan 20–30 buah.
Setelah terpasang lampu, hasilnya membengkak menjadi 50–60 buah. Sekali panen, ia mengantongi keuntungan hingga Rp 30 juta, naik signifikan dari sebelum program, yang hanya berkisar Rp 17–20 juta.
“Lampu itu seperti buka pintu rezeki,” katanya lirih.
Kisah Ignasius menjadi bukti electrifying lifestyle tidak harus dimulai dari kota besar.
Di wilayah perbatasan yang kerap disebut tertinggal, listrik justru menciptakan peluang baru, mendorong inovasi lokal dan membuka jalan menuju ketahanan energi berbasis pemanfaatan listrik untuk produksi.
Awal yang penuh keraguan
Perjalanan buah naga Ignasius tidak diraih dalam sekejap. Ia memulai pada 2016 setelah melihat sejumlah rekannya sukses di Kecamatan Insana Tengah.
Tanpa banyak modal, ia mendapatkan 300 anakan dari seorang teman dan menanamnya di kebun yang berada tepat di belakang Kantor Desa Fatoin.
Tahun 2017, ia mendapat tambahan 300 anakan. Tahun 2018 dan 2019, ia menanam 200 anakan lagi. Total 800 pohon.
Namun, jumlah itu belum cukup untuk membuat hidupnya berubah.
Sampai suatu hari, beberapa petugas PLN ULP Kefamenanu datang bersama Kepala Desa Nunmafo. Mereka menawarkan pemasangan instalasi listrik dan lampu kebun.
Bagi sebagian petani, tawaran seperti itu mungkin terdengar mewah. Bahkan menakutkan, termasuk Ignasius.
"Awalnya saya ragu. Takut salah, takut rugi. Tapi mereka bilang saya tidak bayar. Hanya harus jaga kebun dan ikuti cara pemeliharaan,” ujarnya.
Ia setuju. Setelah instalasi terpasang, Ignasius memutuskan tidur di kebun hampir setiap malam untuk memastikan lampu-lampu itu bekerja.
Dua minggu pertama menjadi momen yang tak pernah ia lupakan.
“Bunga muncul di hampir semua tangkai. Banyak sekali. Saya sampai telepon petugas PLN, bilang terima kasih,” katanya.
Rasa manis dari tanah karang
Salah satu keunggulan buah naga Ignasius adalah rasanya. Lebih manis, lebih padat, lebih segar.
Ia tidak menggunakan pupuk kimia yang berlebihan. Semua masih mengandalkan pupuk organik.
“Buah naga itu kalau terlalu banyak kimia, cepat besar tapi tidak manis,” jelasnya.
Rasa manis inilah yang menarik pembeli dari berbagai daerah, Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kota Kupang, hingga Timor Leste.
Pembeli dari negara tetangga bahkan kerap datang langsung ke kebunnya.
“Saya biasa kasih mereka makan dulu satu bokor (mangkuk besar). Mereka makan, senyum, lalu beli banyak,” katanya sambil tertawa.
Pelanggannya memanggilnya “Bos Naga”, julukan yang kini melekat erat dengan identitasnya sebagai petani produktif di perbatasan.
Meski pendapatan Ignasius kini mencapai ratusan juta rupiah per tahun, ia tetap enggan membeli sepeda motor apalagi mobil. Semua uang disimpannya untuk rencana besar, menambah lahan dan memperluas usaha.
“Untuk apa beli motor? Jalan kaki juga sehat,” ujarnya sambil berjalan santai di sela tanaman.
Ia berencana membeli lahan berdekatan dengan kebunnya, menambah 3.000 anakan baru, serta merekrut enam orang pekerja tetap.
Lelaki yang hanya bersekolah sampai kelas II SD itu ingin menunjukkan bahwa rendahnya pendidikan tidak boleh menjadi penghalang.
“Yang penting kemauan. Kita tidak bisa tunggu orang bantu terus,” katanya.
Electrifying lifestyle dari daerah perbatasan
Di tengah wilayah pedalaman yang kerap terkendala infrastruktur, Ignasius menjadi contoh bagaimana listrik mampu mengubah pola pertanian.
Ia menerapkan electrifying lifestyle tanpa banyak teori, hanya melalui penerapan yang sederhana namun konsisten.
Baginya, lampu bukan sekadar cahaya. Lampu adalah tenaga untuk memaksa bunga keluar, memanjangkan musim panen, mengangkat harga jual dan akhirnya mengubah ekonomi keluarga.
“Dulu orang bilang tanah karang itu tidak bisa jadi apa-apa,” ucapnya sambil menatap kebunnya yang terang.
“Tapi sekarang tanah ini kasih makan banyak keluarga.”
Ignasius bukan hanya petani. Ia adalah cerminan ketekunan. Cerminan bagaimana perubahan kecil, satu sakelar lampu yang dinyalakan, bisa membuka jalan baru di daerah perbatasan.
Di antara ribuan lampu yang menggantung di ladangnya, ada satu cahaya yang paling terang: harapan.
Manager PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Kefamenanu, Anak Agung Ngurah Maha Adisurya, menyaksikan sendiri bagaimana kebun Ignasius yang dulu gelap perlahan menjelma menjadi sentra kecil cahaya di Fatoin.
Ia menuturkan bahwa program electrifying agriculture di kebun milik Ignasius memang lahir dari kebutuhan nyata petani di Kecamatan Insana, salah satu kantong produksi buah naga terbesar di TTU.
“Kami melihat potensi yang sangat besar di sini,” ujarnya dengan nada pelan tetapi mantap.
“Pak Ignasius ini punya ratusan pohon yang sudah siap panen dan ratusan lagi masih berkembang. Mereka hanya membutuhkan sentuhan teknologi yang tepat agar produktivitasnya bisa melonjak," tambahnya.
Buka ruang baru petani TTU naik kelas
Menurut Adisurya, alasan PLN memilih lokasi itu bukan sekadar karena jumlah tanaman yang banyak, tetapi karena kebun tersebut dinilai layak teknis untuk disambungkan dengan listrik dan memiliki petani yang benar-benar siap mengelola bantuan.
“Kalau produktivitas mereka naik, bukan hanya petaninya yang untung, tapi ekonomi desa ikut bergerak,” katanya.
“Listrik membuat semuanya lebih mudah, dari pompa air, penerangan, sampai pemeliharaan malam hari.”
Ia menjelaskan, teknologi penyinaran bukan hal baru dalam budidaya buah naga, tetapi praktiknya masih jarang diadopsi petani perbatasan.
“Sinar lampu itu memicu fotosintesis pada malam hari dan merangsang pembungaan. Jadi tanaman punya waktu tumbuh yang lebih panjang,” ujarnya.
PLN, kata dia, ingin memastikan bahwa listrik bukan hanya sampai ke rumah-rumah, tetapi ikut menyalakan sektor produktif desa.
“Kalau petani semakin berdaya, itulah keberhasilan paling nyata dari elektrifikasi,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Timor Tengah Utara, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, menyambut program ini dengan antusias.
Baginya, inisiatif PLN tak hanya menghadirkan cahaya di kebun, tetapi juga membuka ruang baru bagi petani untuk naik kelas.
“Program seperti ini sangat kami apresiasi,” ujarnya.
“Ini langsung menyentuh masyarakat, terutama petani yang selama ini bekerja dengan kondisi terbatas. Bantuan seperti ini membuat mereka bisa mengembangkan produksi, bukan hanya mempertahankannya.”
Falentinus menilai perubahan yang dialami Ignasius hanyalah salah satu contoh dari banyak potensi yang bisa diraih jika teknologi dan pendampingan hadir secara konsisten di pedesaan.
Ia berharap PLN terus berada di garis depan dalam mendorong kemandirian petani.
“Semoga PLN tetap hadir dan mendampingi masyarakat,” katanya.
“Tugas kami di pemerintah adalah memastikan warga yang menerima bantuan benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Kalau mereka bisa menggunakan cahaya ini untuk meningkatkan ekonomi keluarga, maka itulah keberhasilan bersama.”
Dengan suara yang tenang, ia menutup pesannya, “Cahaya lampu itu kecil, tetapi dampaknya bisa menerangi masa depan banyak orang.”
Terang untuk kesehatan
Dari Kabupaten Timor Tengah Utara, pelayanan kelistrikan PLN bergeser ke wilayah selatan, tepatnya di Kota Betun, ibu kota Kabupaten Malaka yang berjarak sekitar 75 kilometer.
Wilayah itu berbatasan langsung dengan Distrik Covalima, Timor Leste.
Di halaman Rumah Sakit Penyangga Perbatasan (RSPP) Betun, suasana tampak lebih sibuk dari biasanya.
Para tenaga medis lalu-lalang membawa perlengkapan, sementara teknisi PLN menandai titik-titik ruangan yang akan dipasangi alat kesehatan modern.
Namun di antara kesibukan itu, ada satu hal yang menjadi sumber senyum banyak orang, listrik yang lebih kuat akhirnya datang.
Selama bertahun-tahun RSPP Betun menjadi benteng pelayanan kesehatan di garis batas Indonesia–Timor Leste.
Tetapi keterbatasan daya listrik membuat berbagai peralatan canggih bantuan pemerintah tidak bisa berfungsi maksimal.
Kondisi itu berubah ketika PT PLN (Persero) UP3 Kupang resmi meningkatkan suplai daya dari 197 kVA menjadi 555 kVA, lonjakan yang membuka jalan bagi transformasi layanan kesehatan.
Momentum itu ditandai dengan penandatanganan SPJBTL, Selasa (18/11/2025), dan sekaligus menandai masuknya RSPP Betun dalam peta electrifying lifestyle sektor kesehatan.
Bagi masyarakat Malaka yang selama ini harus menempuh perjalanan berjam-jam ke ibu kota provinsi untuk layanan medis lanjutan, peningkatan daya ini adalah babak baru menuju masa depan yang lebih sehat, bahkan lebih berdaulat secara energi.
Mendorong electrifying lifestyle untuk masa depan berkelanjutan
Langkah PLN menghadirkan listrik lebih kuat bukan hanya untuk kebutuhan teknis rumah sakit, tetapi merupakan bagian dari upaya mendorong electrifying lifestyle, gaya hidup yang memaksimalkan pemanfaatan energi listrik bersih untuk mendukung layanan publik, efisiensi, dan keberlanjutan.
Dengan suplai daya baru, rumah sakit kini dapat mengoperasikan peralatan yang sepenuhnya bergantung pada energi listrik, seperti CT Scan, Cath Lab, X-ray, Hemodialisa, hingga Mamografi.
Semua teknologi itu ramah lingkungan, efisien, dan mendukung transformasi layanan kesehatan menuju operasional yang lebih rendah emisi.
Electrifying lifestyle bukan hanya tentang kendaraan listrik atau peralatan rumah tangga modern, tetapi juga tentang bagaimana energi listrik mendorong peningkatan kualitas hidup, layanan kesehatan dan penguatan perbatasan sebagai wajah terdepan Indonesia.
Direktur RSPP Betun, dr Oktelin Kurniawati Kaswadie, tampak lega ketika menggambarkan panjangnya perjalanan menuju peningkatan daya ini.
“Rencana peningkatan daya ini sudah kami susun sejak lima tahun lalu,” ujarnya kepada aiotrade.
“Dengan listrik yang lebih kuat, tahun 2025 kami targetkan semua alat canggih bisa beroperasi. Listrik yang andal adalah nyawa bagi alat-alat ini, dan nyawa bagi pasien kami," tambahnya.
Peralatan seperti CT Scan dan Cath Lab membutuhkan daya besar, masing-masing sekitar 200 kVA. Tanpa listrik stabil, alat-alat ini tak ubahnya benda mahal yang tidak bisa dimanfaatkan.
Dengan daya baru, alat-alat itu akan mulai didatangkan bertahap hingga tahun 2027 mendatang.
CT Scan akan mempercepat diagnosis, Cath Lab memungkinkan tindakan jantung dan pembuluh darah, sementara Mamografi menjadi benteng deteksi dini kanker payudara.
Etalase Indonesia di perbatasan
Oktelin memandang RSPP Betun sebagai simbol martabat negara di garis batas.
“Jangan karena kami di perbatasan lalu fasilitas kami juga ikut terbatas. Kami harus menunjukkan standar Indonesia,” tegasnya.
Ia menargetkan RSPP Betun menjadi rumah sakit rujukan internasional.
Selain melayani masyarakat Malaka dan NTT, ia berharap warga Timor Leste juga bisa berobat ke Betun, membawa manfaat kesehatan, ekonomi, sekaligus memperkuat diplomasi antarnegara.
Electrifying Lifestyle: Energi bersih untuk masa depan berkelanjutan
Peningkatan daya di RSPP Betun tidak hanya persoalan teknis kabel dan panel.
Ia adalah bukti bahwa elektrifikasi sektor publik, terutama layanan kesehatan, mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis fosil.
Manager PLN UP3 Kupang, Nikolas Denis Adrian, menyebutkan bahwa rumah sakit membutuhkan energi yang konsisten dan stabil.
“Dengan peningkatan daya ini, kami ingin memastikan seluruh peralatan berteknologi tinggi bisa berjalan 24 jam sehari.”
General Manager PLN UIW NTT, F Eko Sulistyono, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan komitmen PLN menghadirkan energi bersih dan andal di wilayah perbatasan.
“Kami ingin masyarakat di sini mendapatkan layanan kesehatan yang modern dan setara dengan daerah lain,”kata Eko.
Investasi ini menunjukkan bahwa electrifying lifestyle bukan hanya berlaku pada kendaraan listrik atau rumah tangga rendah emisi, tetapi juga infrastruktur kesehatan. Sektor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia dan masa depan suatu wilayah.
Dengan daya baru, RSPP Betun mulai menata ulang ruang-ruang pelayanan. Instalasi alat kesehatan telah dijadwalkan, dan tenaga medis menerima pelatihan untuk mengoperasikan mesin berteknologi tinggi.
Dampaknya bukan hanya pada peningkatan layanan, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi lokal, karena rumah sakit akan menarik kunjungan lebih banyak pasien.
Pengurangan biaya perjalanan pasien, yang sebelumnya harus ke Kupang untuk layanan diagnosis lanjutan.
Peluang medical tourism perbatasan, karena RSPP Betun menargetkan pasien dari Timor Leste.
Di wilayah yang selama ini jauh dari sorotan, elektrifikasi membuka ruang baru bagi masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Sinergi antara PLN, pemerintah daerah dan RSPP Betun menghadirkan lebih dari sekadar peningkatan daya listrik.
Ini adalah wujud nyata electrifying lifestyle untuk masa depan berkelanjutan, bahwa energi listrik yang bersih, kuat, dan stabil dapat menjadi pendorong kemajuan manusia hingga ke wilayah paling pinggir Indonesia.
Bagi masyarakat Malaka, terang yang kini hadir bukan hanya lampu yang menyala lebih terang.
Ini adalah harapan yang menyala lebih besar, harapan bahwa energi listrik dapat mengubah masa depan kesehatan, ekonomi dan kehidupan di perbatasan.
Dan dari Betun, di garis batas Indonesia, electrifying lifestyle itu kini mulai benar-benar terasa.
Perkuat pendidikan
Pelayanan PLN selanjutnya bergeser ke wilayah barat laut, atau tepatnya di Oepoli, Desa Netemnanu Utara, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Betun, Kabupaten Malaka.
Di wilayah yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari Distrik Oecusse, Timor Leste, berdiri sebuah bangunan sederhana yang selama bertahun-tahun disebut sekolah. Namun kondisinya jauh dari kata layak.
Dindingnya dari pelepah kayu, kondisinya bolong-bolong. Atapnya dari daun gewang yang mudah diterjang angin dan kerap bocor. Lantainya tanah, yang setiap musim hujan berubah menjadi karpet lumpur.
Meja kursinya banyak yang patah dan tak ada cahaya listrik yang pernah menyala di sini.
Itulah wajah SMP Negeri Oepoli sejak dibangun darurat pada 2017.
“Kalau hujan, air masuk semua. Anak-anak basah, kelas jadi lumpur. Kami terpaksa berhenti mengajar sambil menunggu reda,” tutur Kepala Sekolah, Hermanus Manggar kepada aiotrade, mengenang kondisi bangunan yang ia sebut “lebih mirip kandang ternak daripada sekolah”.
Namun semangat 28 murid dan empat guru tak pernah padam. Di tengah serba keterbatasan, mereka tetap belajar. Dengan papan tulis kecil, kursi reyot, dan tanpa satu pun fasilitas elektronik.
“Kami hanya mengandalkan spidol dan papan tulis. Tidak ada listrik, jadi semua serba manual,” lanjut Hermanus.
Harapan itu mulai berubah pada Kamis (23/10/2025) . Di tengah terik matahari perbatasan, PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT bersama TNI AD Kodim 1604/Kupang memulai pembangunan gedung baru SMP Negeri Oepoli melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN.
Acara peletakan batu pertama itu dihadiri Senior Manager Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN UIW NTT Bonifasius Indra Girindra Wardhana, Dandim 1604/Kupang Letkol Inf Kadek Apriawan, anggota DPRD Kabupaten Kupang Octovianus La’a, dan sejumlah pejabat kecamatan.
PLN tak hanya membangun gedung baru, tetapi juga menghadirkan perubahan yang paling dirindukan, jaringan listrik PLN dan sumur bor untuk kebutuhan air bersih.
Gedung baru itu dibangun permanen, tiga ruang kelas, satu ruang guru, tiga toilet lengkap dengan MCK, serta meubel baru untuk semua ruangan.
Kini, murid-murid SMP Oepoli tak perlu lagi berjalan jauh menimba air dan untuk pertama kalinya, mereka bersiap belajar menggunakan perangkat elektronik.
Hermanus tak bisa menyembunyikan rasa haru saat melihat tiang-tiang fondasi mulai berdiri. Hingga akhir November 2025, progres pembanguan gedung telah mencapai 50 persen.
Direncanakan awal tahun 2026, kegiatan belajar mengajar sudah bisa digelar dalam ruangan baru.
“Terima kasih PLN. Kini kami sudah bisa sama seperti sekolah lain. Walaupun tinggal di perbatasan dan jauh dari kota, kami tetap semangat,” ujarnya.
Selama bertahun-tahun hidup dengan keterbatasan energi kini mereka juga ingin mengenal dan merasakan gaya hidup baru electrifying lifestyle.
"Kami ingin nantinya dalam kegiatan belajar mengajar bisa menggunakan proyektor dan di ruang guru juga ada dispenser untuk panaskan air buat minum kopi dan teh buat para guru nanti," kata Hermanus.
Ketua Komite SMP Oepoli, Nimbrot Sivi, merasakan hal sama.
“Selama ini kami rindu memiliki sekolah permanen. Anak-anak mau belajar, tapi gedungnya tidak mendukung. Kini ada titik terang. Semoga jumlah siswa bertambah dan semangat mereka makin tinggi,” ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Camat Amfoang Timur, Manase Sajam, menyebut pembangunan ini sebagai “hadirnya negara” di wilayah yang selama ini tertinggal.
“PLN dan TNI sudah menunjukkan perhatian besar bagi anak-anak kami. Pendidikan yang layak ini penting untuk masa depan mereka,” kata Manase.
PLN: Pendidikan perbatasan adalah penjaga kedaulatan
Menurut Bonifasius Indra Girindra Wardhana, pembangunan sekolah ini merupakan komitmen PLN menghadirkan pemerataan infrastruktur di wilayah 3T.
“Ini langkah konkret PLN dalam menghadirkan akses pendidikan yang layak, khususnya di daerah perbatasan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penguatan sektor pendidikan di perbatasan tak hanya soal kesejahteraan, tetapi juga bagian dari strategi ketahanan nasional.
“Di sini negara berhadapan langsung dengan negara tetangga. Ketika anak-anak di perbatasan mendapat pendidikan yang baik, itu juga berarti menjaga kedaulatan dan masa depan bangsa,” katanya.
Ia berharap, pembangunan sekolah selesai tepat waktu dan segera digunakan oleh para guru serta siswa.
Harapan yang menyala dari perbatasan
Pada malam pertama ketika listrik PLN menyala di sekitar area sekolah, beberapa warga berkumpul dan memandang lampu-lampu itu dengan kagum.
Bagi mereka, listrik bukan sekadar cahaya, tetapi simbol perubahan.
Perubahan bahwa pendidikan anak-anak perbatasan tak lagi harus berjalan dalam gelap.
Bahwa suara spidol di papan tulis akan segera ditemani cahaya lampu dan penggunaan perangkat serba elektrik yang lebih modern untuk masa depan berkelanjutan.
Ahwa Oepoli, wilayah terpencil yang selama ini identik dengan keterbatasan, kini perlahan menyongsong masa depan baru.
Semuanya dimulai dari sebuah batu yang diletakkan, dan sebuah niat untuk menghadirkan terang hingga ke ujung batas negara.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan