Cahaya Isra Mi'raj di Masjid Agung: FKDT Tasikmalaya Menembus Langit dan Keadilan

Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Kota Tasikmalaya

Di bawah naungan kubah Masjid Agung Kota Tasikmalaya, sebuah pemandangan syahdu tersaji pada Sabtu pagi, 3 Januari 2026 dalam acara Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang diprakarsai oleh FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah) Kota Tasikmalaya. Ribuan pejuang literasi Al-Qur’an yakni para guru Madrasah Diniyah Takmiliyah berkumpul bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban seremonial, melainkan untuk membasuh spiritualitas sekaligus mempertautkan batin dalam bingkai ukhuwah yang kokoh.

Kehadiran para pahlawan tanpa tanda jasa ini disambut hangat oleh deretan pemangku kebijakan. Selain Wakil Walikota Tasikmalaya, Rd. Diki Chandra Negara, acara ini turut dihadiri oleh Ketua DPRD, Sekretaris Daerah, Kepala Kemenag Kota Tasikmalaya, hingga Kabag Kesra. Kehadiran mereka, berdampingan dengan para tokoh agama dan tamu kehormatan lainnya, menegaskan dukungan kolektif terhadap eksistensi pendidikan Diniyah di Kota Santri.

Antara Pengabdian dan Kesejahteraan

Dalam suasana yang khidmat, Ketua FKDT Kota Tasikmalaya, Drs. H. Ahmad Safei, M.Pd., membuka simpul aspirasi yang selama ini tersimpan di pundak 5.584 guru Diniyah. Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas atensi Pemerintah Kota yang telah konsisten memberikan insentif selama hampir dua dekade. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan hidup, sebuah harapan baru pun dilambungkan.

"Kami menyampaikan usulan agar nilai insentif yang saat ini sebesar Rp 600.000 per tahun dapat ditingkatkan menjadi Rp 1.200.000 per tahun," ujar Ahmad Safei di hadapan jajaran pejabat yang hadir. Harapan ini bukan sekadar angka, melainkan bentuk pengakuan atas dedikasi mereka membina 38.000 generasi muda. Ia juga menekankan pentingnya efisiensi administrasi melalui transfer langsung via rekening BJB guna menjamin keamanan dan ketepatan sasaran.

Tak hanya soal kesejahteraan personal, FKDT juga menatap masa depan dengan rencana pembangunan pusat edukasi seluas 3,2 hektar. Sebuah mimpi besar untuk menghadirkan fasilitas manasik haji, perkemahan santri, hingga wahana edukasi tani. "Kami berharap Pemerintah Kota dapat membantu akses jalan sepanjang 2 kilometer menuju lokasi tersebut agar mimpi kami segera terwujud," tambahnya penuh harap.

Komitmen Pemerintah Kota Tasikmalaya

Mendengar denyut nadi aspirasi tersebut, Wakil Walikota Tasikmalaya memberikan jawaban yang menyejukkan sekaligus realistis. Di hadapan jajaran pimpinan daerah dan para guru, ia memaparkan langkah diplomasi yang tengah ditempuh di tingkat pusat untuk menuntut keadilan fiskal bagi Kota Tasikmalaya. "Sangat tidak ideal jika alokasi APBD dan kebijakan pemotongan anggaran disamaratakan tanpa mempertimbangkan beban wilayah yang jauh berbeda," tegas Diki Chandra, merujuk pada beban administratif 10 kecamatan di Tasikmalaya yang jauh lebih luas dibanding kota lain.

Meski dihadapkan pada keterbatasan fiskal, Pemerintah Kota berkomitmen untuk tidak berpangku tangan. "Kami akan terus berikhtiar secara maksimal demi memperjuangkan kesejahteraan para guru Diniyah. Perjuangan bagi insentif ini adalah bagian dari khidmat kami kepada masyarakat," ucapnya seraya memohon doa dari para kiai dan tokoh agama agar para pengambil kebijakan senantiasa dijaga dari kekhilafan.

Pesan Langit: Menanam Keabsolan Allah

Puncak keteduhan acara diisi oleh siraman rohani dari KH. Ii Abdul Basith Wahab, Pengasuh Pondok Pesantren Sukahideung. Dengan narasi yang menyentuh sanubari, beliau mengingatkan bahwa esensi Isra Mi’raj adalah menanamkan ketauhidan yang murni di tengah perjuangan hidup. "Jika keyakinan ini sudah menghujam kuat, maka insya Allah, badai dunia takkan mampu menggoyahkan langkah kita," tutur KH. Ii Abdul Basith. Pesan ini seolah menjadi oase bagi para guru Diniyah agar tetap istikamah di jalan dakwah, meski tantangan kesejahteraan silih berganti menghampiri.

Acara ditutup dengan penyerahan paket sembako secara simbolis kepada para santri dari 10 kecamatan, sebuah simbol bahwa kepedulian sosial harus selalu berjalan beriringan dengan penguatan iman. Peringatan Isra Mi’raj di Masjid Agung ini bukan sekadar mengenang perjalanan Rasulullah ke Sidratul Muntaha, melainkan sebuah pesan kolektif dari Kota Tasikmalaya: bahwa pendidikan agama adalah fondasi bangsa, dan sinergi antara ulama serta umara (pemerintah) adalah kunci untuk memuliakan para penjaganya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan