
Transformasi Dewan Kesenian Kota Batu Menjadi Dewan Kebudayaan
Kota Batu kini memasuki babak baru dalam tata kelola kebudayaannya. Sebagai realisasi dari Kongres Kebudayaan Kota Batu III Tahun 2025, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu secara resmi memulai transformasi fundamental Dewan Kesenian Kota Batu (DKKB) menjadi Dewan Kebudayaan Kota Batu. Perubahan ini merupakan langkah strategis untuk menjadikan kebudayaan sebagai arus utama pembangunan daerah.
Transformasi ini diawali dengan penyelenggaraan 'Rembug Kebudayaan Desa se Kecamatan Bumiaji' di Pendopo Kecamatan setempat pada Kamis, (3/12/2025). Acara ini menandai komitmen kuat Pemkot Batu dalam mengembangkan dan melestarikan kebudayaan lokal. Hal ini didukung penuh oleh Wali Kota Batu, Nurochman, dan diinisiasi oleh DKKB selaku pelaksana kongres.
Perubahan ini tidak hanya sekadar pergantian nama, tetapi juga perluasan mandat kelembagaan dalam merangkul ekosistem kebudayaan lokal. Termasuk adat istiadat, tradisi, warisan sejarah, dan kearifan lokal yang selama ini belum tercakup secara optimal.
Rekomendasi Utama Kongres Kebudayaan III
Dalam Kongres Kebudayaan III Kota Batu 2025, lima rekomendasi kunci dihasilkan dengan tema Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah sebagai Akselerasi Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Kota Batu. Berikut adalah beberapa rekomendasi tersebut:
- Internalisasi Kebudayaan dalam Pembangunan: Memasukkan peran kebudayaan dalam program kerja seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
- Pendirian Museum Kebudayaan Daerah: Mendesak Pemkot menghadirkan museum untuk melestarikan sejarah, mengingat jejak sejarah Batu telah ada sejak Prasasti Sangguran tahun 928 M.
- Penggalangan Pendanaan Alternatif: Mendiversifikasi sumber pendanaan kebudayaan tidak hanya dari APBD, tetapi juga melibatkan swasta dan perguruan tinggi.
- Penyusunan Perda Pemajuan Kebudayaan: Mempercepat pengesahan Peraturan Daerah (Perda) yang memayungi pemajuan kebudayaan.
- Penguatan Kelembagaan Kebudayaan: Termasuk transformasi DKKB menjadi Dewan Kebudayaan untuk memperkuat dasar hukum dan soliditas kelembagaan.
Rembug Kebudayaan sebagai Ruang Dialog Strategis
'Rembug Kebudayaan Desa se Kecamatan Bumiaji' difungsikan sebagai ruang dialog strategis yang vital. Turut hadir Dinas Pariwisata Kota Batu serta perwakilan Lembaga Adat, Kebudayaan, dan Kesenian dari semua desa di Bumiaji. Tujuannya adalah memetakan potensi, tantangan, dan menyerap aspirasi masyarakat tingkat desa.
"Ini adalah langkah konkret untuk mewujudkan rekomendasi kongres. Keputusan strategis yang diamini langsung oleh Wali Kota Batu ini menandai komitmen serius pemerintah daerah untuk memajukan kebudayaan sebagai arus utama pembangunan," jelas Sunarto, Ketua DKKB yang akan memimpin Dewan Kebudayaan.
Camat Bumiaji, Thomas Maydo, menyambut baik dan mendukung penuh langkah inisiatif ini. Ia berharap hal ini dapat menjadi model bagi kecamatan lain.
Sinergi dan Apresiasi dari Pemerintah Pusat
Sinergi antara pemerintah, komunitas budaya, dan akademisi ini sejalan dengan semangat yang digaungkan dalam berbagai forum pembangunan berkelanjutan. Kolaborasi multi-pihak dianggap kunci untuk menciptakan dampak inklusif dan berkelanjutan.
Komitmen Pemkot Batu terhadap pemajuan kebudayaan telah mendapatkan perhatian dan apresiasi dari pemerintah pusat. Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha, secara khusus datang ke Batu pada November 2025 guna meresmikan Taman Rekreasi Selecta sebagai Living Museum sekaligus berdialog tentang integrasi kebudayaan dan pariwisata.
Cak Nur, sapaan akrab Wali Kota Batu, menegaskan komitmennya. "Ketika kita bicara jati diri, kita juga harus percaya diri. Kreativitas tidak bisa diinstruksikan oleh pemerintah, tapi tumbuh dari lingkungan yang mendukung," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan kelembagaan untuk sektor kreatif dan kebudayaan sedang dikaji, termasuk melalui program Batu Artpreneur.
Visi Masa Depan Kota Batu
Langkah ini diharapkan mampu mengukuhkan warisan leluhur sekaligus menjawab tantangan di era modern, mewujudkan visi Batu sebagai kota wisata yang tak hanya indah secara alamiah, tetapi juga kaya dan berkarakter secara budaya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar