Cara Mengajarkan Manajemen Keuangan pada Anak, Bukan Mulai dari Menabung

Mengenalkan Konsep Uang pada Anak Melalui Aktivitas Belanja

Mengajarkan anak tentang uang sering kali dikaitkan dengan kebiasaan menabung. Namun, konsep mengatur uang justru bisa dikenalkan melalui aktivitas sehari-hari yang lebih dekat dengan kehidupan anak, seperti belanja. Pendekatan ini dinilai lebih mudah dipahami anak, terutama ketika mereka sudah mulai mengenal angka.

Annisa Stevani, seorang Financial Planner, membagikan tips mengenalkan manajemen keuangan pada anak tanpa tekanan, namun tetap sarat makna. Bukan sekadar soal uang, metode ini juga membantu anak belajar mengambil keputusan, menahan diri, dan mengelola emosi sejak dini.

Berikut adalah beberapa cara efektif untuk mengenalkan pengelolaan uang kepada anak:

1. Mengenalkan Konsep Uang Lebih Dulu Melalui Aktivitas Belanja

Alih-alih langsung mengajarkan menabung, orangtua justru bisa mengajak anak berbelanja agar mereka mengenal nilai uang secara nyata. Dengan melihat langsung label harga dan membandingkannya dengan uang yang dimiliki, anak akan belajar bahwa uang memiliki batas.

Dari sini, anak mulai memahami bahwa tidak semua keinginan bisa langsung terpenuhi, dan setiap pilihan memiliki konsekuensi. Belanja juga menjadi sarana anak untuk belajar mengambil keputusan. Anak akan dihadapkan pada pilihan barang yang diinginkan dan harus menyesuaikannya dengan jumlah uang yang dimiliki, sehingga proses belajar terasa lebih alami dan tidak menggurui.

“Step pertama ngajarin uang ke anak, ini kalau anaknya sudah ngerti angka. Ajarkan dengan cara belanja. Bukan nabung duluan, tapi belanja duluan,” ungkap Annisa Stevani.

2. Mengajarkan Batas Uang dan Membangunkan Konsep Menabung Secara Alami

Annisa memberi contoh sederhana, misalnya ketika anak memiliki uang THR sebesar Rp500 ribu. Orangtua bisa mengajak anak ke toko mainan dan menekankan bahwa ia hanya bisa membeli barang dengan harga di bawah nominal tersebut. Saat anak menginginkan mainan seharga Rp700 ribu, di situlah proses berpikir anak mulai terbentuk.

Anak akan diajak memikirkan dari mana kekurangan uang Rp200 ribu bisa diperoleh. Tanpa disadari, konsep menabung pun muncul dengan sendirinya karena anak memahami tujuan dan alasannya. Dengan cara ini, menabung tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan.

Anak juga akan belajar bahwa menunda kesenangan adalah bagian dari proses mencapai sesuatu yang diinginkan.

3. Mengatur Emosi Anak Saat Tantrum sebagai Pelajaran Finansial Awal

Pelajaran penting tentang uang ternyata juga berkaitan erat dengan pengelolaan emosi. Annisa menekankan bahwa ketika anak tantrum, orangtua sebaiknya tidak langsung memberikan apa yang anak inginkan.

“Pelajaran penting pertama tentang uang ke anak, ketika anak tantrum, orangtua jangan langsung kasih apa yang ia mau,” ungkap Annisa Stevani.

Ia menyarankan orangtua untuk membuat kesepakatan yang jelas, misalnya mainan hanya dibelikan dua kali dalam setahun. Rutinitas dan aturan yang konsisten akan membantu anak memahami batasan dan belajar menunggu.

Kemampuan menunggu ini sangat penting karena banyak orang dewasa kesulitan menahan keinginan, yang akhirnya terjebak dalam paylater, pinjaman online, atau penggunaan kartu kredit berlebihan.

4. Tidak Menggunakan Sistem Reward Uang, Tapi Menyadari Adanya Konsekuensi

Dalam mendidik anak, Annisa Stevani mengaku tidak menerapkan sistem reward atau punishment berupa uang. Ia lebih memilih menggunakan konsekuensi yang sudah disepakati bersama di rumah.

Sebagai contoh, ketika anak menumpahkan air, anak diminta untuk membersihkannya sendiri, bukan dimarahi atau dihukum. Dengan begitu, anak belajar bertanggung jawab atas tindakannya tanpa mengaitkannya dengan hadiah atau hukuman finansial.

Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki akibat, bukan karena mengharapkan imbalan. Anak pun tumbuh dengan pemahaman bahwa uang bukan alat untuk mengontrol perilaku, melainkan sumber daya yang perlu dikelola dengan bijak.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan