
Sejak kecil, Bapak menanamkan nilai disiplin yang terus kubawa hingga kini. Beliau mengajarkanku bahwa hadir minimal tepat waktu—bahkan lebih awal—membuat tubuh tidak lelah oleh rasa terburu-buru, pikiran lebih tenang, dan kegiatan apa pun bisa dijalani dengan lebih siap. Dari beliau pula aku belajar bahwa datang lebih awal adalah bentuk menghargai waktu dan menghormati orang lain, juga diriku sendiri. Nilai sederhana itu melekat sampai aku menjadi anker—sebutan bagi pencinta kereta—yang otomatis hidup berdampingan dengan waktu dan jadwal perjalanan.
Menjadi Anker: Hidup Berdasarkan Ritme Kereta
Menggunakan transportasi umum membuatku belajar satu hal: waktu adalah mata uang yang harus dikelola dengan cermat. Bagi pengguna transportasi publik, ritme perjalanan selalu ditentukan oleh waktu. Jarak antar stasiun, waktu tunggu kereta, kepadatan penumpang, hingga durasi berjalan kaki saat transit—semuanya punya peran. Sebagai anker, aku harus paham ritme ini agar perjalanan terasa ringan dan terukur. Di sinilah tantangannya: memahami durasi berjalan kaki antar moda, jarak perpindahan stasiun, kepadatan jam sibuk, hingga estimasi waktu tunggu kendaraan. Anker yang peka pada ritme ini biasanya lebih tenang dan lebih siap menghadapi perjalanan.
Lantas, bagaimana cara mengelola kerumitan ritme tersebut agar tidak salah perhitungan?
Google Maps: Sahabat Utama Pengguna Transportasi Umum
Saat ini, Google Maps menjadi senjata andalanku untuk memantau ritme tersebut. Begitu memasukkan titik awal dan titik tujuan di Google Maps, berbagai opsi rute akan muncul—mulai dari KRL, MRT, bus TJ, Jaklingko, sampai angkot. Namun, masih banyak orang yang memakainya hanya untuk mencari rute tercepat, padahal fitur di dalamnya jauh lebih kaya. Ia bukan sekadar penunjuk arah, melainkan alat perencana perjalanan yang sangat detail. Dengan memanfaatkan pengaturan waktunya, kita bisa tahu kendaraan mana yang akan datang, jam berapa harus berangkat dari rumah, dan kapan tepatnya akan tiba di lokasi—apa pun moda yang digunakan.
Empat Opsi Waktu di Google Maps yang Sering Terlewatkan
Berikut empat fitur penting di Google Maps yang sering terlewat:
a. Berangkat sekarang
Ini opsi yang paling umum digunakan. Cocok untuk kamu yang sudah siap berangkat: tinggal memilih opsi kendaraan yang disarankan beserta estimasi waktunya.
b. Berangkat pada
Fitur ini berguna kalau kamu ingin mengatur waktu keberangkatan. Misalnya, ingin berangkat pukul 9.00 atau sedang merencanakan perjalanan untuk hari yang berbeda.
c. Tiba pada
Favoritku. Saat punya janji temu atau harus tiba di lokasi acara pada waktu tertentu, aku bisa memasukkan jam tiba yang kuinginkan. Google Maps akan menghitung mundur dan menyusun rute yang paling masuk akal—lengkap dengan waktu jalan kaki, perpindahan moda, dan jadwal kendaraan yang tersedia, juga berapa durasi transitnya.
d. Jadwal terakhir
Fitur penyelamat saat pulang malam. Ia menginformasikan kendaraan terakhir yang masih bisa kita kejar menuju arah tertentu.
Selain pengaturan waktu, ada dua fitur lain yang sering luput dari perhatian: preferred modes dan filter by. Dari sini, kita bisa memilih moda transportasi yang ingin diutamakan—misalnya kereta dan MRT—dan menyaring rute berdasarkan kebutuhan: paling cepat, paling sedikit transit, paling hemat, atau paling minim berjalan kaki. Dua fitur ini membuat rute yang ditampilkan Google Maps jauh lebih sesuai dengan gaya perjalanan kita.
Opsi "Tiba Pada": Kunci Anti-Ngaret Saat Janjian
Saat janjian pukul 11.00, biasanya aku mengisi "Tiba pada" dengan angka 10.30. Dari situ, Google Maps menampilkan jadwal perjalanan yang sangat realistis, mulai dari waktu tunggu, durasi berjalan, hingga jadwal kendaraan. Fitur ini menolongku untuk mengantisipasi hal-hal kecil yang sering bikin telat: perpindahan platform yang jauh atau berjalan kaki lebih lama dari perkiraan. Keunggulan fitur ini adalah ia tidak hanya menghitung durasi perjalanan ideal, tetapi juga menyesuaikan dengan jadwal keberangkatan kereta real-time yang tersedia. Ini penting, karena jadwal kereta bisa bergeser sewaktu-waktu. Terlebih, antrean saat tap-in di gerbang stasiun atau kerumunan di tangga berjalan sering luput dari perhitungan manual kita. Hal-hal sepele yang biasanya membuang 2-3 menit ini bisa memicu kepanikan. Dengan adanya waktu cadangan yang disajikan fitur 'Tiba pada', aku bisa melewati semua hambatan itu tanpa harus panik, memastikan langkah kakiku tetap ringan dan pikiranku tetap fokus menuju janji temu.
Studi Kasus: Perjalananku ke Kompasianival 2025
Untuk acara Kompasianival 2025 kemarin, aku ingin tiba pukul 12.00. Karena ini bukan janji temu dengan orang lain dan hanya ingin datang sedikit lebih awal, aku memasukkan jam tiba tepat sesuai keinginanku, tanpa memberi spare waktu tambahan. Setelah kuatur "Tiba pada: 12.00", Google Maps menyusun rutenya: rekomendasi naik KRL pukul 10.58, tiba di Stasiun Sudirman, berjalan menuju MRT, naik MRT pada jam yang ditentukan, turun di Stasiun Blok M BCA, lalu berjalan kaki menuju M Bloc Space. Estimasi tibanya: 11.55—dan itulah yang terjadi. Aku sampai dengan nyaman. Tidak terburu-buru, tidak panik, dan bisa melihat dulu area sekitar sebelum memutuskan masuk lokasi acara.
Mengapa Datang Lebih Awal Adalah Bentuk Respek
Datang lebih awal memberiku ruang bernapas sebelum memasuki sebuah pertemuan atau acara. Ada jeda kecil untuk menata diri, merapikan pikiran, dan hadir sepenuhnya. Ternyata, yang membantuku tetap disiplin waktu bukanlah hal besar. Hanya kombinasi antara ajaran Bapak dan fitur sederhana di Google Maps—sebuah alat kecil yang membantu menjaga ritme hidupku sebagai anker. Cobalah fitur "Tiba pada" itu. Siapa tahu kamu juga menemukan ritme perjalanan yang lebih ringan dan cara baru untuk menghargai waktu.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar