Catatan reflektif wajah kusam RSUD Larantuka, melayani Flores Timur selama seabad

Sejarah dan Tantangan RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka

RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka, yang telah berdiri sejak tahun 1932, kini genap berusia 94 tahun. Rumah sakit ini menjadi simbol kehidupan bagi lebih dari 291.412 jiwa masyarakat di Kabupaten Flores Timur, termasuk penduduk dari dua pulau yaitu Adonara dan Solor. Namun, meskipun memiliki peran penting dalam pelayanan kesehatan, rumah sakit ini menghadapi berbagai tantangan.

Jumlah tenaga kesehatan dan dokter spesialis tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang layaknya membutuhkan layanan medis berkualitas. Selain itu, bangunan rumah sakit yang sudah tua dan anggaran yang terbatas semakin memperparah kondisi yang ada. Hal ini menjadikan RSUD sebagai tempat yang sering dikunjungi oleh masyarakat untuk menyampaikan apresiasi, kritik, atau bahkan satire melalui media sosial.

Meski begitu, rumah sakit ini tetap menjadi tempat lahirnya ratusan bayi setiap tahun. Berdasarkan data BPS tahun 2024, sekitar 5.472 jiwa lahir dengan selamat di RSUD ini. Namun, proses kelahiran tersebut sering kali dilakukan dalam situasi yang sangat memprihatinkan.

Kondisi yang Memprihatinkan

Dalam satu hari, tercatat sekitar 3 hingga 5 ibu hamil yang bersalin, baik secara normal maupun operasi. Keterbatasan dokter spesialis seperti anestesi dan dokter OBGIN membuat situasi semakin sulit. Bahkan, salah satu mantan pasien mengungkapkan bahwa seorang dokter anestesi pernah pingsan akibat kelelahan selama operasi.

Plt Direktur RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka, Gregorius Bato Koten, mengatakan bahwa dokter-dokter di sini bekerja ekstra keras sepanjang hari sampai malam. Hal ini tentu tidak ideal dan dapat memengaruhi kesehatan para tenaga medis serta kualitas pelayanan kepada pasien.

Selain itu, belum adanya direktur defenitif juga menjadi kendala. Saat ini hanya ada Pelaksana Tugas (Plt) yang memiliki kewenangan terbatas dalam pengambilan kebijakan. Masalah lainnya adalah kesulitan dalam mencari dokter anestesi luar daerah yang bisa dikontrak. Gregorius berharap putra-putri daerah yang menempuh studi spesialis dapat kembali ke daerah untuk membantu mengatasi kekurangan tenaga medis.

Kekurangan Sarana dan Fasilitas

RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka berstatus BLUD dengan pendapatan sekitar Rp25 miliar. Namun, sebagian besar dana digunakan untuk kebutuhan operasional, seperti pembelian obat, bahan habis pakai, makanan pasien, dan oksigen. Total pengeluaran mencapai Rp13–14 miliar.

Gregorius menjelaskan bahwa sekitar 40 persen dari dana digunakan untuk jasa tenaga medis, sedangkan 60 persen untuk operasional. Dana DAU hampir tidak ada, sehingga rehabilitasi fasilitas harus dilakukan bertahap.

Upaya Perbaikan yang Dilakukan

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, pihak rumah sakit tetap berkomitmen untuk melakukan pembenahan. Beberapa program peningkatan pelayanan telah direncanakan, termasuk perluasan Instalasi Gawat Darurat (IGD) melalui bantuan yayasan internasional dan pembangunan poliklinik baru.

“Harapan kami, pembangunan poliklinik bisa sampai atap pada 31 Desember agar dapat dilanjutkan pada 2026 untuk penyelesaiannya,” ujarnya.

Kondisi Ruang Tunggu dan Pengunjung

Fakta lain yang terjadi adalah banyak keluarga pasien yang tidur di emperan atau selasar karena minimnya jumlah ruang tunggu. Saat ini, hanya ada satu ruang tunggu di belakang rumah sakit, namun kondisinya rusak berat dan sering digunakan hanya untuk memasak.

Belum lagi, keluarga pasien sering terganggu oleh hewan liar seperti kucing, tikus, dan anjing yang berkeliaran. Selain itu, ketidakadaan pengawasan yang ketat oleh pihak rumah sakit membuat ruang kontrol pasien menjadi padat.

Gregorius menjelaskan bahwa saat ini akses masuk ke ruangan perawatan belum bisa diperketat karena adanya pembangunan fisik di RSUD. Oleh karena itu, keluarga pasien masih bebas masuk dengan jumlah yang banyak. Jika sesuai aturan RSUD, kuota pengunjung hanya 2 orang.

Kedepannya, pihak rumah sakit berencana menutup pintu-pintu menuju area ruangan perawatan secara permanen. Mereka juga berharap masyarakat dapat taat dan tidak memarahi petugas ketika melarang pengunjung yang masuk ke ruangan perawatan di luar jam berkunjung pasien.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan