Celah Baru Pemerintahan Teokratis Iran


Iran mengakhiri tahun 2025 dalam kondisi yang kurang prima secara politik karena ditutup dengan gelombang demonstrasi yang cukup masif di Teheran dan beberapa kota besar lainnya di Iran.

Secara sederhana bisa disimpulkan bahwa demonstrasi masif di Iran adalah ledakan eksistensial yang lahir dari rahim keputusasaan publik yang telah mengakar sekitar dua dekade di bawah bayang-bayang ideologi teokratis Iran. Kali ini, cerita bermula pada penghujung Desember 2025, momentum yang seharusnya menjadi refleksi akhir tahun justru menjadi titik pecahnya kemarahan kolektif warga di kota-kota besar Iran.

Pemicu utamanya tampak teknis, tapi berdampak fatal secara psikologis, yakni terjun bebasnya nilai tukar Rial Iran atas dolar AS hingga menyentuh angka yang tak pernah terbayangkan dalam sejarah modern Iran. Bayangkan negara di mana harga sepotong roti atau seliter susu bisa berubah drastis hanya dalam hitungan jam antara waktu sarapan dan makan malam. Kondisi ini jelas saja memicu reaksi berantai yang dimulai dari jantung ekonomi tradisional Iran yang paling konservatif sekalipun alias pendukung rezim, yakni Grand Bazaar Tehran.

Para pedagang di pasar tertua dan terbesar di jantung kota Tehran itu, yang secara historis merupakan pilar pendukung rezim dan kelompok yang selama ini sangat berhati-hati dalam berpolitik, tiba-tiba memilih untuk melakukan aksi mogok massal dan menutup toko-toko mereka secara bersamaan. Sikap ini lahir tentu bukan karena mereka tiba-tiba berubah menjadi aktivis garis keras penentang rezim, tapi justru karena aktifitas perdagangan sudah mustahil untuk dilakukan di saat hantaman hiperinflasi yang melumat habis daya beli konsumen sekaligus pedagang.

Namun tak dinyana, hanya dalam hitungan jam, mogok para pedagang yang awalnya terkesan agak sunyi itu bertransformasi menjadi gelombang aksi unjuk rasa jalanan yang sangat masif ketika kelompok mahasiswa kosmopolitan dan buruh pabrik yang juga tengah dilanda frustrasi atas upah rendah memilih untuk ikut bergabung. Tak pelak, keluhan yang awalnya kental berbau ekonomi sehari-hari berubah menjadi tuntutan politik yang akhirnya menerobos jantung kekuasaan di Teheran atau Tehran.

Akar masalah sebenarnya adalah lagu lama yang diputar berulang kali dengan volume yang semakin keras dari tahun ke tahun. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir saja, Iran telah melewati berbagai fase kemarahan publik yang tidak terlalu mirip, tapi bermuara pada satu titik kejenuhan yang sama. Misalnya gerakan monumental "Woman, Life, Freedom" pada tahun 2022 yang dipicu oleh kematian tragis Mahsa Amini atau dikenal dengan Jina Amini, protes yang sebenarnya fokus pada martabat wanita dan kerinduan pada kebebasan sipil yang paling asasi. Mahsa Amini ditangkap polisi moral pemerintah karena tidak mengenakan hijab sesuai aturan setempat, tapi meninggal di rumah sakit.

Kemudian memasuki tahun 2024, muncul protes-protes sporadis yang tidak kalah ramainya terkait krisis air yang mencekik dan kelangkaan pangan di wilayah-wilayah pinggiran yang selama ini memang terabaikan oleh pusat kekuasaan. Namun, apa yang sedang terjadi hari ini di Iran adalah konvergensi dari semua luka lama yang tak kunjung sembuh dan justru membusuk. Pemerintah Iran, di bawah nakhoda Presiden Masoud Pezeshkian yang awalnya digadang-gadang sebagai pembawa angin segar reformasi dan jembatan antara rakyat dengan elite mullah, ternyata terbukti gagal total dalam menjinakkan inflasi yang kini bertengger jauh di atas angka 50 persen.

Sehingga rakyat Iran kini berdiri di depan tembok paradoksal yang cukup menyedihkan. Di satu sisi, negara tampak begitu digdaya dalam membiayai ambisi nuklir dan memperluas pengaruh geopolitiknya melalui kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah. Sementara di dalam negeri sendiri, sistem jaminan kesehatan rakyatnya justru berantakan, obat-obatan menghilang dari apotek, dan tingkat pengangguran kaum muda yang sudah mencapai level “mengkhawatirkan” sekaligus menciptakan generasi yang sering disebut sebagai generasi hilang harapan.

Untuk membedah mengapa ketegangan antara negara Iran dan warganya yang seolah tidak pernah menemukan titik temu ini, saya akan merujuk pada analisis sosiologis-politik yang cukup tajam dari Farzin Vejdani dalam bukunya tahun 2024 lalu, “Private Sins, Public Crimes: Policing, Punishment, and Authority in Iran.” Vejdani adalah profesor dengan spesialisasi sejarah Iran, Timur Tengah, Kekaisaran Ottoman. Doktor alumni Yale University ini menyajikan kompas sejarah yang sangat relevan untuk memetakan kekalutan yang terjadi hari ini di negeri mullah itu. Ia menjelaskan dengan sangat ciamik dan piawai bagaimana otoritas di Iran memiliki kecenderungan obsesif untuk mengaburkan batas yang seharusnya jelas antara dosa pribadi dan kejahatan publik.

Di bawah arsitektur sistem teokrasi saat ini, setiap perilaku individu di ruang publik, mulai dari cara perempuan menyampirkan kain di kepalanya hingga apa yang diucapkan warga di sudut-sudut kedai kopi, diawasi dengan penuh curiga seolah-olah setiap gerak-gerik warga adalah ancaman secara langsung terhadap kedaulatan Tuhan yang diwakili oleh negara. Buku Vejdani memperlihatkan bahwa bagi rezim mullah, penegakan hukum bukan lagi instrumen untuk menciptakan keadilan sosial secara adil dan merata, tapi sebagai alat untuk menegaskan otoritas moral yang justru sangat hegemonik.

Akibatnya, ketika rakyat turun ke jalan dengan kondisi perut lapar dan nafas yang sesak untuk menuntut roti, atau pekerjaan, ataupun jaminan hidup yang layak, rezim seringkali gagal melihatnya sebagai tuntutan ekonomi yang sah dari setiap warga negara. Sebaliknya, rezim teokrasi Iran justru melihatnya melalui kacamata teologis sebagai bentuk "pembangkangan suci" atau pengkhianatan terhadap nilai-nilai revolusi yang harus diredam dengan kekerasan fisik atau pemaksaan hukum. Kata Vejdani, inilah akar utama yang menyebabkan pemerintah selalu berada pada posisi berseberangan dengan aspirasi masyarakatnya sendiri.

Pungawa rezim mullah lebih sibuk memoles moralitas publik dengan menghadirkan institusi kepolisian moral dan aparat keamanan ketimbang membenahi kebijakan fiskal yang morat-marit akibat korupsi elit kekuasaan. Lebih jauh lagi, diakui atau tidak oleh Iran, sebenarnya struktur ekonomi politik Iran sudah sejak lama menderita penyakit kronis ketimpangan sistemik. Rezim teokrasi ini, dalam perjalanannya selama empat dekade, berhasil menciptakan kelas elite baru yang dengan cerdik bersembunyi di balik jubah agama nan sakral. Kelompok-kelompok politik yang memiliki akses istimewa ke pusat kekuasaan, terutama faksi-faksi elite di dalam Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC, berhasil bertransformasi menjadi naga-naga ekonomi yang menguasai hampir seluruh urat nadi kehidupan di Iran.

IRGC bukan lagi sekadar tentara elite yang bertugas menjaga perbatasan atau melindungi ideologi, tapi sudah menjelma menjadi konglomerat raksasa yang memonopoli proyek-proyek konstruksi bernilai triliunan rial, industri perminyakan vital, hingga pada sektor perbankan dan telekomunikasi. Saat rakyat jelata dipaksa oleh para pemimpinnya untuk mengencangkan ikat pinggang dan melakukan apa yang sering disebut oleh para elite di Iran sebagai "ekonomi perlawanan" demi menghadapi sanksi berat dari dunia internasional, para elite militer dan jejaring politik berbasis agama justru seringkali tertangkap kamera menjalani gaya hidup mewah yang sangat kontras dengan nilai-nilai asketik dan kesederhanaan yang mereka khotbahkan di podium acara resmi, bahkan mimbar-mimbar masjid.

Sehingga, dalam hemat saya, rakyat Iran yang ada di jalanan hari ini sudah sampai pada kesimpulan akhir bahwa penderitaan mereka bukan hanya disebabkan oleh tekanan asing dari Washington atau Tel Aviv, tapi karena kekayaan nasional mereka sesungguhnya telah dicuri, dialihkan, dan diprivatisasi oleh segelintir orang yang memegang senjata dan tasbih di puncak-puncak kekuasaan Iran.

Sayangnya, respons Teheran atas gelombang protes kali ini masih mengikuti naskah lama alias sangat mudah ditebak. Di satu sisi, ada upaya untuk menampilkan wajah populis melalui pernyataan-pernyataan normatif Presiden Pezeshkian yang berjanji akan "mendengar suara rakyat". Namun di sisi lain, justru di lapangan kenyataannya jauh berbeda karena pasukan paramiliter Basij dan aparat keamanan tetap dikerahkan dengan mandat penuh untuk melakukan penangkapan massal dan melakukan berbagai tindakan kekerasan lainnya.

Rencana kebijakan ekonomi yang ditawarkan untuk meredam kemarahan massa, seperti kenaikan upah minimum (20 persenan) yang tidak sebanding dengan kenaikan pajak (60-an persen), justru dirasakan rakyat seperti menuangkan garam di atas luka yang masih menganga. Prospek dari kebijakan-kebijakan darurat ini nampaknya di mata rakyat Iran masih sangat suram. Bahkan dari laporan-laporan lapangan yang saya dapatkan, sudah nyaris tidak ada lagi ruang untuk mempercayai bahwa reformasi yang substansial akan lahir dari dalam sistem yang sudah terlanjur sangat rusak, menua, dan sarat dengan kepentingan sempit kelompok elite Iran.

Bagi para demonstran yang kini berhadapan dengan moncong senjata di jalanan Teheran dan kota-kota besar lainnya di Iran seperti Isfahan, Hamedan, Shiraz, Tabriz dan banyak kota lainnya, respons rezim mullah hari ini bukanlah respons untuk mencoba menyelamatkan rakyat dari derita akibat kebangkrutan ekonomi, tapi respons strategis untuk menyelamatkan rezim dari amuk massa yang semakin tak terkendali.

Lalu, ke mana muara dari kegaduhan hari ini di Iran? Apakah demonstrasi besar di awal 2026 akan berakhir dengan nasib yang sama seperti protes-protes sebelumnya yang perlahan padam oleh rasa lelah, trauma atas kekerasan, dan pemutusan jaringan internet? Dalam hemat saya, ada alasan kuat secara sosiopolitik untuk percaya bahwa kali ini situasinya jauh lebih berbahaya bagi kelangsungan rezim di Iran saat ini. Berbeda dengan protes tahun 2022 yang dimotori oleh isu identitas dan sosial, gerakan hari ini justru terlihat cukup berhasil menyatukan berbagai faksi kelas sosial yang biasanya berseberangan.

Ketika pedagang pasar tradisional yang cenderung religius, mahasiswa kosmopolitan yang progresif, dan buruh pabrik yang selama ini menderita karena menerima upah rendah, berdiri di barisan jalanan yang sama, maka ini adalah sinyal bahwa legitimasi ekonomi dan moral rezim sebenarnya mulai runtuh di hadapan rakyatnya sendiri. Namun demikian, meruntuhkan rezim teokrasi yang didukung kekuatan militer yang sangat loyal, bahkan cenderung brutal seperti IRGC tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Kelompok elite dan militer Iran sangat kokoh. Selama 40 tahun hal itu cukup terbukti. Mereka memiliki naluri kuat untuk menyelamatkan kepentingan finansialnya di satu sisi dan demi keselamatan pribadi di sisi lain. Sehingga tampuk kuasa diperkirakan akan dipertahankan hingga titik darah penghabisan. Kendati begitu, sejarah mengajarkan bahwa rezim yang telah kehilangan kepercayaan dari basis massa paling tradisionalnya sebenarnya sedang menghitung hari menuju kejatuhannya. Analisis Vejdani mengenai otoritas publik Iran mengingatkan kita bahwa ketika negara kehilangan kemampuannya untuk memaksakan "ketertiban moral" karena rakyat sudah tidak lagi memiliki rasa takut pada hukuman, maka keruntuhan otoritas hanyalah masalah momentum dan waktu.

Mungkin demonstrasi hari ini tidak akan langsung menyebabkan gedung-gedung kekuasaan di Teheran roboh pada besok pagi. Namun, setidaknya demonstrasi besar kali ini akan menjadi retakan paling dalam dan paling lebar pada fondasi teokrasi Iran sejak Revolusi 1979. Bahkan boleh dibilang bahwa Rakyat Iran saat ini sedang melakukan eksperimen keberanian politik agar ditonton oleh seluruh dunia bahwa penjara, siksaan dan intimidasi moral dalam bentuk apa pun tidak akan pernah cukup kuat untuk membungkam perut yang lapar, harga diri yang diinjak-injak, dan jiwa yang terus merindukan keadilan.

Melalui peristiwa di Iran ini, kita sedang menyaksikan prosesi di mana sebuah bangsa, secara perlahan, tapi pasti, sedang mempreteli jubah suci kekuasaan yang selama ini digunakan oleh para penguasa untuk menutupi ketidakmampuan dan ketidakjujuran mereka dalam mengurus urusan duniawi yang paling dasar bagi rakyatnya. Jika rezim tetap memilih untuk bersikap keras kepala, menutup mata pada kenyataan, dan terus mengambil jalur kekerasan sebagai solusi tunggal, boleh jadi elite-elite ini akan kembali memenangkan pertempuran di jalanan hari ini.

Namun, sebenarnya kelompok elite ini sudah kalah telak dalam perang jangka panjang dalam memperebutkan masa depan Iran. Toh pada akhirnya, tidak ada sistem teokrasi yang mampu bertahan selamanya jika "tuhan" yang mereka sembah di ruang publik ternyata adalah kekuasaan dan akumulasi harta, dan kebengisan sementara rakyatnya dibiarkan menderita, mati perlahan karena beban hidup yang kian menggunung. Dalam kacamata proyektif saya, proses delegitimasi ini sudah hampir mencapai apa yang dalam kajian sosiologi disebut sebagai “point of no return” atau titik tanpa jalan kembali.

Iran sedang bertransformasi menjadi masyarakat yang secara sosiologis sudah sangat sekuler dan rasional di tengah sistem politik yang masih dipaksakan untuk tetap religius secara simbolis. Ketegangan struktural antara masyarakat yang kian dinamis dengan sistem politik yang statis ini akan terus memicu ledakan-ledakan baru dengan frekuensi yang nampaknya akan lebih sering dan dengan intensitas yang lebih tinggi, hingga struktur politiknya benar-benar bersedia untuk menyesuaikan diri dengan realitas atau akan hancur berantakan karena benturan besar yang tidak terelakkan dengan rakyatnya sendiri.

Pesta pora di menara gading kekuasaan mungkin masih bisa berlangsung untuk beberapa waktu mendatang. Namun gema keluhan rakyat di kaki lima, mahasiswa di kampus, dan para pekerja di pabrik-pabrik, sudah semakin dekat di telinga mereka, yang secara tak langsung akan merobohkan satu demi satu pilar kepercayaan yang tersisa di antara mereka.

Pendeknya, Iran hari ini tidak sekedar berdemo agar harga roti kembali turun. Rakyat Iran sedang berjuang dengan tetesan keringat dan darah mereka untuk menemukan kembali jati dirinya sebagai bangsa bermartabat dan merdeka dari segala bentuk tirani, baik yang berbaju seragam militer maupun yang berjubah agama. Cepat atau lambat, sebagaimana saya meyakini, rakyat Iran akan merebut kembali kekuasaan yang seharusnya ada di tangan mereka.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan