Cermin yang retak di tengah kota

" Cermin yang Retak di Tengah Kota "

( Gambaran kehidupan yang egois, etika yang semakin buruk, hilangnya rasa sopan santun dan  empati ).

Pagi ini kota terbangun bukan oleh suara burung, melainkan oleh deru mesin yang memekakkan telinga dan klakson yang saling memotong. Seakan kesabaran pun harus berebut ruang dan waktu. Udara yang terasa berat oleh ketergesa-gesaan, ambisi yang dipacu sejak mata terbuka. Orang-orang yang berjalan cepat, kepala yang tertunduk, mata menempel pada layar, seolah dunia hanya seluas genggaman tangan. Langkah kaki bergerak tanpa saling menyapa, bahu bersenggolan tanpa kata maaf, wajah-wajah hadir, namun jiwa-jiwa tenggelam pada jari yang bergerak.

Setiap orang sibuk mengejar tujuan, namun lupa menoleh pada sekitar, yang perlahan menghilangkan nuansa keakraban dan kehangatannya. Di tengah hiruk-pikuk itu, waktu terasa berjalan cepat namun hampa. Kita terhubung oleh jaringan, tetapi terputus oleh rasa. Kita tahu banyak hal, namun semakin jarang benar-benar memahami. Kita berbagi kabar, tetapi lupa berbagi perhatian.

Padahal pagi selalu datang membawa kesempatan baru, untuk berjalan sedikit lebih pelan, mengangkat kepala, melihat bahwa di samping kita ada manusia lain yang hidup bersama kita. Dalam satu senyum kecil, satu anggukan, satu tindakan sederhana, yang bisa mengubah pagi yang bising menjadi awal yang lebih manusiawi. Karena dunia tidak selalu membutuhkan lebih banyak kecepatan, kadang ia hanya butuh seseorang yang mau hadir sepenuhnya.

Di trotoar yang sempit, seorang lelaki tua tersandung. Lututnya gemetar, tas kainnya terjatuh, isinya berserakan. Ada yang di sana, hanya diam, memandang saja, tanpa tergerak sedikitpun hatinya. Bahkan ada juga yang mempercepat langkah, memutar badan agar tak perlu menatap wajah renta itu. Ini bukan karena tidak melihat, tetapi karena tidak ingin merasa direpotkan.

Aku pun ada di sana. Aku melihatnya. Dan aku memilih untuk terus berjalan. Dengan berbagai alasan yang kubuat untuk melawan hatiku dan membenarkan kelakuanku. Waktu yang tidak cukup, keperluan yang mendesak, ada orang lain yang menolong nanti, dan lain sebagainya. Perlahan lelaki tua itu mulai memunguti isi tasnya sendiri, tanpa ada yang peduli.

Di lampu merah, seseorang membunyikan klakson panjang-panjang, wajahnya merah oleh amarah. Karena di depannya, seorang ibu berusaha menyeberang sambil menggandeng tangan seorang anak kecil, yang terlihat kesulitan dengan kaki kecilnya. Ia berusaha menyesuaikan kecepatannya dengan ibunya. "Cepat sedikit!" teriak seseorang dari balik kaca mobil. Tak ada kata maaf, tak ada senyum. Jalan raya menjadi panggung ego, tempat siapa yang paling keras suaranya dialah yang merasa paling benar.

Di kantor, kata-kata tajam dilontarkan seperti senjata. Tidak ada lagi kalimat yang diawali dengan "mohon" atau "tolong." Yang ada hanya perintah dan pembelaan diri. Salah selalu milik orang lain, kebenaran dan keberhasilan selalu milik sendiri. Jika ada yang jatuh, itu bukan urusan kita. Jika ada yang tertinggal, biarlah. Dunia, kata mereka, memang kejam. Aku pun mengikuti hal itu, di mana sesuatu yang dulu pernah peka, kini memilih aman dengan ikut arus.

Aku ikut tertawa saat seseorang diejek. Sepertinya ku menikmati itu, sebagai hiburan atas pelepasan lelahku juga atau ketidakpedulianku. Lelah dunia yang kurasakan tapi tak pernah benar-benar kupahami asalnya. Tawaku mungkin terdengar ringan, tapi di dalamnya ada sesuatu yang runtuh sedikit demi sedikit. Aku hanya ikut diam saat ketidakadilan terjadi. Diam ini yang kuanggap bijak, padahal sering kali hanya bentuk ketakutanku, takut dianggap berlebihan dan berbeda, bahkan aku takut kehilangan kenyamanan yang sudah kuatur rapi.

Aku menyebutnya netral, padahal sejatinya aku sedang berpihak pada yang lebih kuat. Lalu aku berkata dalam hati, "Bukan urusanku." Kalimat yang terdengar aman, seperti dinding yang melindungi diri dari rasa bersalah. Namun aku tak sadar, setiap kali kalimat itu terucap, ada bagian nuraniku yang terkikis, pelan-pelan, tanpa suara, hingga suatu hari aku tak lagi merasakan apa pun dari suara hati kecilku sendiri, yang ternyata telah kubunuh sendiri.

Diam ternyata bukan selalu kebijaksanaan. Tawa ternyata tidak selalu kebahagiaan. Ada saatnya keduanya menjadi bentuk pengkhianatan pada nilai yang dulu kupegang. Aku lupa bahwa membela yang dilemahkan tidak selalu membutuhkan keberanian besar, kadang hanya perlu tidak ikut menertawakan, tidak ikut membenarkan, dan berani berkata, "Ini tidak benar."

Hingga sore hari tiba, hujan turun dengan deras. Sampah-sampah mengapung di selokan, air meluap ke jalan. Orang-orang hanya mengeluh, banjir, macet, kota ini akan tenggelam. Tapi tangan-tangan yang sama pernah membuang sampah sembarangan. Mulut-mulut yang sama pernah berkata, "Ah, cuma satu bungkus kecil," tidak akan meruntuhkan dunia.

Di halte bus, dua orang bertengkar memperebutkan kursi. Tak ada yang mau mengalah. Tubuh muda duduk nyaman dengan laptop di pangkuannya, pura-pura sibuk atau memang tidak menggubris segala keadaan. Sementara seorang nenek-nenek dan ibu hamil berdiri menahan lelah. Semua tahu, semua melihat. Tapi tak satu pun bergerak. Hingga terdengar suara di telingaku. Apakah kamu akan diam saja.

Hingga malam datang, dan aku pulang membawa lelah yang aneh. Bukan lelah tubuh, melainkan lelah hati. Di kamar yang sunyi, aku menatap cermin yang baik-baik saja, tetapi mengapa tampak retak di tengahnya. Wajahku tergambar di antaranya, tetapi rasanya hari ini ada yang berbeda, semesta berteriak menunjuk pada mukaku. Kenapa kamu jadi ikut-ikutan tidak peduli. Itu bukan kamu, kamu tidak seperti itu.

Hatiku pun mulai bertanya pelan, di sanalah aku tersadar, kejadian ini bukan tentang kota, bukan tentang mereka, tetapi tentang hati nuraniku, dan hati nuranimu. Kita yang sibuk membela diri hingga lupa memperbaiki diri. Kita yang menuntut dimengerti, tapi enggan memahami. Kita yang ingin ditolong, tapi tak mau menolong. Kita yang marah pada dunia, tanpa sadar telah menjadi bagian dari luka dunia itu sendiri.

Di mana kita mengganggap rasa empati telah hilang karena dunia terlalu tak bersimpati, tetapi kenyataannya ia tidak hilang, hanya kita yang terlalu sering memilih nyaman. Nyaman untuk tidak terlibat, nyaman untuk tidak peduli, nyaman untuk menutup mata saat hati seharusnya terbuka. Karena empati terdiam dan terkubur di bawah ego kita, di balik kesibukan dan ambisi mengejar keinginan. Di sini kita juga menyebutnya menjaga diri, padahal sering kali itu hanya alasan.

Maka Jika aku terus diam hari ini,apa yang akan kuajarkan pada diriku sendiri esok hari? Karena  menjadi manusia bukan soal selalu benar atau selalu menang, melainkan tentang keberanian kecil untuk tetap menjadi manusia yang berprinsip baik di saat mudah sekali memilih kata tidak peduli. Maka ketahuilah, nurani tidak akan mati dalam satu keputusan besar, ia mati dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus kita benarkan.

Sedangkan kata sopan santun yang di gaungkan sebagai kata sakral untuk menjaga kepatutan antar generasi, kini hanya dianggap punah karena zaman telah berubah. Tetapi sebenarnya ia tidak juga benar-benar punah, hanya kitanya yang telah berhenti merawatnya. Kita menganggapnya usang, tak relevan, terlalu lambat di dunia yang serba cepat ini. Padahal, sopan santun bukan sebagai rutinitas yang membosankan bahkan sebagai kelemahan, tetapi penghormatan kepada yang patut dihormati.

Sebagai kekuatan dalam diri untuk menjaga martabat, batas yang membuat kita tetap manusia di tengah hiruk-pikuk keinginan dan keegoisan kita untuk menang sendiri. Karena kebaikan, empati, dan etika tidak membutuhkan panggung besar. Ia hidup dari hal-hal sederhana. Cara kita berbicara, cara kita mengalah tanpa merasa kalah, cara kita berbagi tanpa menunggu berlebih. Di sinilah seorang manusia benar-benar menjadi manusia seutuhnya dalam raga dan batin yang sejati.

Dan malam ini aku belajar satu hal, perubahan besar tidak selalu dimulai dari teriakan di jalan atau tulisan panjang di media sosial, apalagi kalimat motivasi yang memenuhi isi kepala. Ia bisa dimulai dari hal kecil, berhenti sejenak, bertindak untuk peduli pada lingkungan sekitar, kesadaran melihat dan memperhatikan semuanya dangan hati yang lebih dalam, jernih, dan hening.

Maka jika hari ini dunia terasa dingin, barangkali bukan karena kurang cahaya, melainkan karena terlalu banyak hati yang lupa menyalakan kehangatannya sendiri. Dan jika kita ingin perubahan,

ia tidak perlu dimulai dari orang lain. Cukup dari diri kita, dari pilihan kecil untuk peduli, dari keberanian untuk bersikap lembut di dunia yang terus mengajarkan kata "keras". Di mana hanya dengan satu langkah kecil untuk mendekat, satu detik untuk mendengarkan, ini cukup menghidupkan kembali jiwa kemanusiaan yang nyaris kita lupakan.

Kau hanya perlu lebih baik dalam berpikir, dan lebih berani berkata, "Terima kasih", "Maaf", "Aku mungkin salah," dan sebagainya. Hingga jika esok aku kembali berjalan di kota ini, aku berharap tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat berbuat lebih peduli. Karena aku harus berubah lebih baik, bukan hanya terus memilih diam. Karena diam akan membuat cerita ini terus berulang, dan tokohnya...akan selalu aku dan kamu, itulah kita.

Selesai, terima kasih

Mojokerto, 11 Januari 2026

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan