China Tingkatkan Status Perak Jadi Bahan Strategis, Ekspor Diperketat


Di tengah perubahan dinamis dalam pasar global, China telah mengumumkan kebijakan baru yang akan memperketat pengawasan ekspor perak mulai 1 Januari 2026. Langkah ini menunjukkan peningkatan perhatian terhadap peran logam ini dalam industri dan pertahanan. Perak, yang sebelumnya dianggap sebagai komoditas biasa, kini ditempatkan sebagai bahan strategis yang penting bagi rantai pasok dunia.

Beberapa pihak menilai kebijakan ini memiliki dampak signifikan. Salah satunya adalah Elon Musk, CEO Tesla, yang melalui platform media sosial X menyampaikan pendapatnya. Ia menulis bahwa perak sangat dibutuhkan dalam berbagai proses industri. Meski demikian, kebijakan ini bukanlah hal baru. Pada Oktober 2025, Kementerian Perdagangan China sudah mengumumkan rencana penguatan pengawasan ekspor logam. Keputusan ini diambil saat Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Korea Selatan.

Selain itu, China juga sepakat untuk menunda pembatasan ekspor tanah jarang selama satu tahun, sementara AS menurunkan tarif. Di awal Desember 2025, China merilis daftar 44 perusahaan yang diizinkan mengekspor perak pada 2026 dan 2027. Selain perak, aturan baru juga mencakup pembatasan ekspor tungsten dan antimon, dua material yang digunakan dalam sektor pertahanan dan teknologi maju.

Meski belum ada pengumuman resmi tentang larangan total ekspor perak, laporan dari media pemerintah Securities Times menyebutkan bahwa status perak secara resmi dinaikkan menjadi material strategis. Hal ini membuat pengaturan ekspornya disamakan dengan tanah jarang. Kamar Dagang Uni Eropa di China mencatat bahwa mayoritas anggotanya menyatakan telah atau berpotensi terdampak oleh pembatasan ekspor tersebut.

Amerika Serikat sendiri telah memasukkan perak ke dalam daftar mineral kritis nasional pada November 2025. Penilaian ini didasarkan pada penggunaannya dalam rangkaian listrik, baterai, sel surya, serta peralatan medis antibakteri. Analisis lain menunjukkan bahwa China merupakan produsen perak terbesar di dunia pada 2024, dengan cadangan yang signifikan. Data Wind Information mencatat bahwa China mengekspor lebih dari 4.600 ton perak dalam 11 bulan pertama tahun ini, jauh melampaui impor yang hanya sekitar 220 ton.

Pembatasan ekspor ini muncul di tengah meningkatnya minat terhadap perak. CEO Kuya Silver, David Stein, mengatakan kepada CNBC bahwa dua perusahaan China menghubungi perusahaannya untuk menawarkan pembelian perak fisik dengan harga sekitar 8 dollar AS di atas harga pasar. Ia menjelaskan bahwa salah satu perusahaan adalah produsen, sedangkan yang lainnya adalah perusahaan perdagangan besar. Selain itu, seorang pembeli dari India juga mengajukan tawaran pada Senin dengan harga 10 dollar AS di atas harga pasar.

Media digital konservatif The Free Press pada Selasa memuat kolom profesor ekonomi Universitas George Mason, Tyler Cowen, yang menilai lonjakan harga perak dan emas mencerminkan pergeseran investor menjauh dari dolar AS. Ia menyebut kenaikan harga tersebut sebagai “peringatan keras bagi perekonomian AS”.

Sepanjang 2025, indeks dolar AS turun hampir 9,5 persen, menjadi kinerja terburuk sejak 2017. Sebaliknya, harga perak telah melonjak lebih dari dua kali lipat dan berada di jalur menuju tahun terbaik sejak 1979, ketika harganya melonjak hampir 470 persen. Meski sempat melemah pada Rabu setelah menyentuh rekor tertinggi di atas 80 dollar AS per ons, harga spot terakhir diperdagangkan di kisaran 73 dollar AS per ons.

Sementara itu, harga emas telah naik lebih dari 60 persen sepanjang tahun ini dan juga berada di jalur menuju kinerja tahunan terbaik sejak 1979. Adapun Bitcoin, yang kerap dipromosikan sebagai alternatif emas sebagai penyimpan nilai, diperdagangkan di sekitar 88.000 dollar AS pada Rabu pagi waktu Beijing, turun lebih dari 5 persen sepanjang tahun ini.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan