
Kritik Pedas Cinta Laura terhadap Penanganan Bencana di Sumatera
Cinta Laura, seorang aktris ternama di Indonesia, memberikan kritik tajam terhadap pemerintah dan narasi yang digunakan dalam menangani bencana banjir di Sumatera. Dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, ia menyampaikan kekecewaannya terhadap respons pemerintah dan narasi yang dinilainya tidak sesuai dengan realitas yang dialami masyarakat.
Narasi yang Menggambarkan Kelapa Sawit sebagai "Karunia"
Salah satu hal yang disoroti oleh Cinta Laura adalah narasi yang menggambarkan industri kelapa sawit sebagai karunia di tengah situasi bencana. Ia menilai bahwa pandangan ini justru menunjukkan kontras yang tajam antara potensi kekayaan sumber daya alam dengan realitas penderitaan warga yang terdampak bencana.
Ia mempertanyakan kepekaan sebagian pihak terhadap skala krisis yang sedang berlangsung. Apa mereka yang hidup jauh dari realita rakyat sudah terlalu lama nggak ngerasain tanah dan udara yang jadi kenyataan sehari-hari bagi kita ya? Sampai-sampai saat rakyat tenggelam, yang keluar bukan empati, tapi kalimat manis tentang 'karunia sawit', ujar Cinta Laura.
Pertanyaan tentang Distribusi Manfaat Industri Sawit
Cinta Laura juga mempertanyakan distribusi manfaat dari komoditas sawit yang sering diklaim sebagai berkah. Ia menegaskan bahwa keuntungan besar dari industri ini dinikmati oleh pemilik modal dan perantara, sementara masyarakat kecil justru menerima dampak paling berat.
Kalau komoditas seperti sawit dianggap 'karunia', kenapa yang nikmatin hanya segelintir? Siapa yang sebenarnya menang saat hutan hilang, sistem air rusak, bumi panas, dan banjir makin besar? tanyanya.
Menurutnya, ketimpangan struktural semakin terlihat jelas di saat bencana. Pemilik modal tentu dapat margin, middleman dapat insentif. Tapi gimana dengan pekerja lapangan dan rakyat kecil lainnya? Mereka yang selalu nanggung harga termahal, menghirup asap, menerima upah minimum, dan tinggal di wilayah rawan bencana.
Sindiran terhadap Pejabat yang Melakukan Pencitraan
Selain itu, Cinta Laura juga menyinggung fenomena pejabat yang sekadar melakukan pencitraan di tengah krisis. Ia menilai bahwa masyarakat membutuhkan kebijakan nyata, bukan sekadar kedatangan simbolis.
Turun ke lapangan, mikul beras, salam-salaman dengan warga, semua orang bisa ngelakuin itu. Tapi nggak semua orang punya otoritas untuk bikin kebijakan publik yang bisa menghentikan kerusakan ini. Hanya yang berkuasa yang bisa, dan mereka belum ngelakuin hal krusial ini, ungkapnya.
Peran Media dan Tanggung Jawab Sosial
Meski tidak secara eksplisit menyebutkan media, Cinta Laura melalui pernyataannya menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial harus diambil oleh semua pihak, termasuk para tokoh publik dan media. Ia menekankan pentingnya kepedulian terhadap isu lingkungan dan keadilan sosial, terutama dalam konteks bencana alam yang semakin sering terjadi.
Kesimpulan
Kritik yang disampaikan oleh Cinta Laura menjadi pengingat bahwa masalah bencana banjir di Sumatera tidak hanya soal penanganan darurat, tetapi juga tentang kebijakan jangka panjang dan kesadaran akan dampak lingkungan. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak hanya butuh simpati, tetapi juga aksi nyata dari pihak yang memiliki kewenangan untuk mengubah kondisi yang ada.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar