Cinta yang Tak Terbatas

Kehilangan dan Kepercayaan dalam Perjalanan Cinta

Tuhan membuka hati dan mengajarkan hal-hal yang bertolak belakang agar kau punya dua sayap untuk terbang, bukan hanya satu. Ini adalah pesan dari Jalaludin Rumi yang menggambarkan perjalanan cinta yang penuh makna. Aku menulis ini dalam keadaan yang tidak sepenuhnya kehilangan, juga tidak sepenuhnya memiliki. Aku berada di ruang antara—ruang yang hanya bisa dipahami oleh jiwa yang pernah mencintai dengan sungguh-sungguh lalu diminta Tuhan untuk belajar melepaskan tanpa membenci.

Ada cinta yang tidak berakhir dengan pertengkaran, tidak juga ditutup dengan kata selamat tinggal. Ia hanya berhenti berjalan berdampingan, lalu berbelok ke jalan sunyi masing-masing, dengan doa sebagai penunjuk arah. Aku dan engkau pernah saling percaya bahwa kedekatan adalah puncak cinta. Namun Tuhan, dengan cara-Nya yang lembut sekaligus tegas, menyingkap satu pelajaran lain: bahwa jarak pun bisa menjadi bentuk kasih sayang jika ia menyelamatkan iman dan niat.

Kita tidak berpisah karena cinta mengering. Justru karena cinta masih basah, kita takut ia membusuk oleh ego, oleh rasa memiliki yang berlebihan, oleh keinginan manusia untuk menggenggam apa pun yang membuatnya tenang. Di titik itu aku belajar satu ayat kehidupan yang tidak tertulis di mushaf, tetapi hidup di dada: bahwa segala yang dicintai manusia tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ia hanya dititipkan, dan setiap titipan punya waktu untuk dikembalikan atau disucikan.

Pergi ini bukan kekalahan. Ia adalah bentuk lain dari taat yang tidak selalu terlihat seperti ibadah. Kadang ia hadir sebagai keberanian untuk tidak melanggar batas demi mempertahankan rasa. Aku pernah ingin menahanmu. Pernah ingin berkata, "Bukankah cinta seharusnya berjuang?" Namun dalam diam, aku mendengar jawaban yang lebih dalam: tidak semua yang diperjuangkan harus dimenangkan sekarang. Sebagian diminta untuk dilepaskan agar tidak menjadi berhala halus di dalam hati.

Tasawuf mengajarkanku satu hal: bahwa cinta sejati tidak berhenti pada makhluk. Ia harus mengalir, melewati makhluk, menuju Sang Pencipta. Jika cintaku kepadamu membuatku lalai, maka cinta itu belum suci. Dan jika penyuciannya adalah jarak, maka jarak itu adalah karunia yang dibungkus rasa perih.

Aku mulai memahami makna ayat tentang hati yang dibolak-balik. Bahwa Tuhan berhak memindahkan rasa tanpa meminta izin logika manusia. Hari ini dekat, esok terasa jauh, bukan karena Tuhan kejam, melainkan karena manusia perlu diajar bahwa sandaran sejati tidak pernah berubah. Di saat itulah aku mengerti, bahwa hati sengaja digerakkan ke arah yang berlawanan. Bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk meluaskan cara terbang.

Agar aku tidak hanya bergantung pada satu sisi, tidak hanya percaya pada satu rasa, melainkan memiliki keseimbangan untuk naik tanpa terjatuh. Tuhan membiarkan cinta datang dan pergi, mendekat lalu menjauh, bukan untuk mempermainkan jiwa, melainkan agar aku belajar bahwa hidup tidak ditopang oleh satu arah saja. Bahwa terbang membutuhkan dua sayap: yang satu bernama menerima, yang lain bernama melepaskan.

Maka aku berhenti melawan perubahan. Aku tidak lagi memaksa cinta agar selalu berjalan lurus sesuai rencanaku. Aku membiarkan Tuhan mengajariku melalui hal-hal yang tampak bertolak belakang, sebab di sanalah keseimbangan ditemukan, dan kedewasaan dilahirkan.

Dalam kesendirian yang datang setelah kepergianmu, aku belajar duduk lebih lama dalam doa. Bukan doa yang penuh permintaan, melainkan doa yang berisi penyerahan. Aku tidak lagi memohon agar engkau kembali segera. Aku hanya berdoa, "Jika ia baik untuk jalanku menuju-Mu, dekatkanlah. Jika ia menjauhkan aku dari-Mu, maka jauhkanlah meski aku mencintainya."

Doa itu tidak heroik. Ia sunyi. Namun di situlah aku merasa paling jujur. Aku belajar bahwa menunggu tidak selalu berarti berharap kepada manusia. Kadang menunggu adalah latihan percaya kepada waktu Tuhan. Aku tetap berjalan. Tetap bertumbuh. Tetap belajar menata niat. Aku tidak membekukan hidupku di titik kepergianmu. Sebab cinta yang sehat tidak menjadikan kehilangan sebagai pusat semesta.

Jika suatu hari engkau kembali, aku ingin bertemu denganmu sebagai seseorang yang telah selesai berdamai dengan dirinya. Bukan sebagai jiwa yang menggantungkan bahagia pada kehadiranmu. Dan jika engkau tidak kembali, aku ingin kisah ini tetap bersih di hadapan Tuhan. Tanpa dendam. Tanpa tuduhan. Tanpa luka yang dipelihara sebagai identitas.

Tasawuf mengajarkanku, bahwa segala sesuatu yang tidak sampai bukan berarti gagal, melainkan telah selesai tugasnya. Mungkin engkau hadir hanya untuk mengajariku cara mencintai tanpa memiliki. Atau mungkin aku hadir di hidupmu hanya sebagai persinggahan sebelum kau menemukan rumahmu. Apa pun itu, aku tidak ingin merusaknya dengan penyesalan.

Aku ingin mencintaimu dengan cara yang tidak membuat Tuhan cemburu. Aku ingin melepaskanmu tanpa menghapus jejak syukur. Kini aku percaya, apa pun yang dititipkan kepada Tuhan akan kembali dalam bentuk paling tepat. Jika bukan kembali sebagai manusia, maka kembali sebagai pelajaran. Jika bukan kembali sebagai kebersamaan, maka kembali sebagai ketenangan.

Dan di titik ini, aku tidak lagi bertanya apakah kita akan bersama lagi. Aku hanya memastikan satu hal: bahwa apa pun akhirnya, aku pulang kepada Tuhan dengan hati yang lebih lapang daripada saat aku mencintaimu tanpa tahu arah. Pergi ini bukan akhir. Ia adalah jeda agar cinta menemukan bentuknya yang paling suci—entah sebagai pertemuan kembali, atau sebagai keikhlasan yang tidak lagi membutuhkan jawaban.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan