
Musim hujan datang seperti tamu yang selalu hadir setiap tahun, tapi tetap saja sering membuat kita kewalahan. Angin kencang, hujan deras yang tiba-tiba, dan perubahan suhu yang memaksa tubuh bekerja lebih keras. Di tengah situasi ini, setiap keluarga biasanya memiliki cara sendiri untuk menjaga kesehatan. Keluarga saya punya rutinitas khusus agar tetap sehat, meskipun kadang lebih kreatif dalam menghindar daripada disiplin.
Setiap awal musim hujan, ada ritual kecil di rumah: lemari obat dibongkar, vitamin dicek, dan stok madu ditambah. Ibu saya memiliki prinsip yang mirip dengan ibu orang lain: lebih baik mencegah daripada terus-menerus masuk angin. "Musim hujan itu bukan musuh, Nak. Yang musuh itu rasa malasmu mandi sore," katanya sambil melirik tajam. Dan entah kenapa, tatapan itu selalu berhasil membuat saya mendadak rajin.
Setiap anggota keluarga punya vitamin masing-masing. Bapak lebih senang vitamin C tablet hisap karena mengingatkannya pada masa sekolah. Ibu mengandalkan minyak ikan yang aromanya... ya, khas minyak ikan. Adik saya, si paling modern, memilih multivitamin kekinian yang katanya bisa "boost mood" selain daya tahan tubuh. Sementara saya? Saya mengonsumsi vitamin yang paling mudah: buah potong yang selalu muncul seperti sihir setiap pagi.
Di rumah, vitamin bukan hanya sekadar suplemen. Jadwalnya ditempel di samping kalender, lengkap dengan kotak checklist kecil. Kalau ada yang kosong tiga hari berturut-turut, artinya siap-siap mendengar ceramah singkat dari ibu. Intinya: sehat itu pilihan, tapi memilih mengabaikan vitamin adalah tindakan bunuh diri pelan-pelan --- versi beliau.
Saat musim hujan, kulkas kami tidak pernah sepi dari warna hijau. Bayam, brokoli, daun kelor, pokcoy, sampai jeruk dan apel. Ibu percaya bahwa kalau kulkas penuh sayur dan buah, otomatis tubuh ikut bahagia. Kami juga punya satu tradisi unik: "semangkuk sehari". Entah itu sop bening, sayur asem, atau sup krim, keluarga saya percaya semangkuk yang hangat bisa memperkuat imun sekaligus memperbaiki mood yang suka mendung mengikuti cuaca.
Oh ya, jahe, sereh, dan madu tak pernah absen. Resep warisan dari nenek: kalau hujan mulai sering turun, minumlah minuman hangat tiga kali seminggu. Dalam praktiknya, kami minum ketika ingat saja, tapi minimal aturan itu membuat kami kembali ke dapur untuk membuat wedang jahe setiap kali merasa "agak-agak meriang tapi belum mau ke dokter".
Keluarga saya sering bepergian naik motor, jadi jas hujan adalah perlengkapan wajib. Kami punya satu rak khusus yang isinya jas hujan warna-warni, dari yang model kelelawar sampai yang dua potong. Ada yang kedodoran, ada yang robek sedikit di pinggir, tapi semuanya tetap dipakai karena menurut bapak, "robek dikit itu karakter."
Selain jas hujan, masing-masing dari kami punya handuk kecil yang selalu dibawa. Fungsinya sederhana: mengeringkan rambut atau tangan begitu turun dari motor. Kecil, tapi penyelamat flu yang sering menyerang diam-diam setelah terkena hujan.
Salah satu kebiasaan yang paling terasa manfaatnya adalah aturan wajib ganti baju setelah kehujanan. Bapak selalu mengingatkan, "Yang bikin sakit bukan hujannya, tapi kamu yang betah pakai baju basah." Dan benar saja, dulu saya sering masuk angin hanya karena malas mengganti baju setelah pulang sekolah.
Ada juga kebiasaan cuci tangan ekstra sering. Terdengar sederhana, tapi inilah yang membuat kami jarang terkena flu bergantian seperti domino. Bahkan di musim hujan, botol hand sanitizer mendadak jadi barang yang banyak diperebutkan. Bukan karena virusnya menakutkan, tetapi karena adik saya suka mengambil botol favorit saya dan menyembunyikannya.
Musim hujan itu menggoda, terutama saat malam: udara dingin, suara rintik yang menenangkan, suasana kamar yang nyaman. Tapi godaan terbesar adalah... scroll medsos sampai jam 2 pagi. Keluarga saya akhirnya membuat satu kesepakatan: jam gadget berhenti pukul 22.30. Setelah itu, lampu remang dinyalakan, dan kami mencoba tidur lebih cepat demi imun yang lebih kuat.
Sesekali aturan dilanggar juga, terutama kalau ada pertandingan bola atau drama Korea yang klimaksnya tak bisa ditunda. Yang penting besok paginya tetap sarapan dan tetap minum vitamin. Itu kompromi yang cukup adil.
Keluarga kami termasuk tipe "mager tapi olahraga juga perlu". Jadi ketika musim hujan datang, pilihan olahraga dialihkan dari luar ruangan ke dalam rumah. Mulai dari senam kecil, stretching bareng, sampai mengikuti video workout 10 menit yang ujungnya membuat kami hanya berolahraga tiga menit dan mengeluh tujuh menit.
Tetapi aturannya jelas: minimal tiga kali seminggu tubuh harus berkeringat. Karena kata bapak, "Kalau keringatnya tidak keluar, nanti penyakitnya bingung mau keluar lewat mana."
Pada Akhirnya... Healthy Checklist Adalah Cerminan Kebiasaan Keluarga
Yang menarik dari musim hujan adalah bagaimana ia memaksa kita lebih peduli dengan kesehatan. Setiap keluarga punya checklist-nya sendiri, mulai dari yang rapi seperti tabel vitamin di kulkas hingga yang lebih santai seperti kami yang mengandalkan jadwal di kepala dan teguran spontan dari ibu.
Namun satu hal yang selalu sama: kesehatan adalah kerja tim. Musim hujan bukan hanya soal cuaca, tapi soal bagaimana keluarga saling menjaga, saling mengingatkan, dan saling memperbaiki kebiasaan kecil agar tetap kuat menghadapi hari-hari yang basah, dingin, dan mendung.
Dan Anda, Kompasianer... bagaimana "Healthy Checklist" versi keluargamu? Siapa tahu, tips sederhana dari rumahmu bisa jadi inspirasi bagi keluarga lainnya untuk tetap sehat sepanjang musim hujan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar