DBD Tewaskan Warga, Dinkes Kuansing Himbau Waspada Ancaman Meningkat

DBD Tewaskan Warga, Dinkes Kuansing Himbau Waspada Ancaman Meningkat

Kasus DBD di Kuansing Meningkat Tajam, Satu Warga Desa Logas Meninggal Dunia

Pasca meninggalnya satu pasien yang merupakan warga Desa Logas, Kecamatan Singingi, berusia 52 tahun, masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Demam Berdarah Dengue (DBD). Pasien tersebut sempat menjalani perawatan di RSUD Teluk Kuantan setelah mengalami demam tinggi selama tiga hari. Namun, nyawa pasien tidak tertolong.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kuansing, Helma Muliani, menjelaskan bahwa kondisi pasien diperparah oleh penyakit penyerta yang dideritanya. "Memang trombosit pasien menurun, namun pasien juga didiagnosis pneumonia, jumlah leukosit juga tinggi, serta kehilangan banyak cairan tubuh. Komorbid inilah yang memperparah kondisi pasien hingga akhirnya meninggal," jelas Helma.

Sebagai tindak lanjut, pihak Puskesmas Muara Lembu langsung melakukan PE (Penyelidikan Epidemiologi), PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), dan fogging di lokasi tempat tinggal pasien. Pemerintah Desa Logas juga bergerak cepat dengan menggelar gotong royong membersihkan lingkungan pada hari pasien dinyatakan meninggal dunia.

Lonjakan Kasus DBD di Kuansing

Helma Muliani menyampaikan bahwa kasus DBD di Kabupaten Kuantan Singingi mengalami lonjakan signifikan. Hingga pekan pertama Desember 2025, tercatat sebanyak 242 kasus DBD, jauh meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada tahun 2023 tercatat 150 kasus, kemudian menurun menjadi 115 kasus pada tahun 2024. Namun, jumlah tersebut kembali melonjak tajam pada tahun 2025.

Wilayah kerja Puskesmas Muara Lembu termasuk daerah dengan jumlah kasus DBD yang tinggi. Pada pekan pertama Desember 2025, ditemukan 34 kasus DBD. "Jumlah kasusnya sama dengan wilayah Puskesmas Gunung Toar, 34 kasus. Sementara kasus DBD tertinggi pada pekan pertama Desember 2025 ini adalah Puskesmas Lubuk Jambi dengan 49 kasus," ujar Helma.

Meski mengalami peningkatan tajam secara kumulatif, Dinas Kesehatan Kuansing belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). "Memang setiap minggunya ada kasus DBD dan secara kumulatif memang ada kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Tetapi tidak ada kenaikan kasus setiap minggunya," ujarnya.

Dinkes Minta Masyarakat Waspada

Dinas Kesehatan Kabupaten Kuantan Singingi mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap DBD, terutama di musim penghujan. Helma mengatakan, pihaknya meningkatkan kewaspadaan menjelang puncak musim hujan yang menjadi masa rawan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi lebih dari dua hari.

"Kami juga mengimbau agar masyarakat mewaspadai lonjakan kasus DBD ini dengan rutin melakukan 3M Plus, Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang tempat penampungan air serta barang bekas, ditambah Plus langkah tambahan seperti pakai lotion anti nyamuk, pelihara ikan pemakan jentik, pasang kawat kasa, pakai kelambu saat tidur dan hindari menggantung pakaian," bebernya.

Mengenal DBD dan Gejalanya

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue. Virus tersebut masuk ke dalam tubuh manusia saat nyamuk menggigit. Warga diminta menerapkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus sebagai langkah pencegahan utama.

Gejala utama DBD adalah demam tinggi mendadak hingga mencapai suhu 39 derajat Celsius yang berlangsung selama 2–7 hari, kemudian turun secara cepat. Gejala lain yang sering menyertai antara lain nyeri kepala, menggigil, lemas, nyeri di belakang mata, otot dan tulang, ruam kemerahan pada kulit, kesulitan menelan makanan dan minuman, mual, muntah, gusi berdarah, mimisan, muncul bintik merah pada kulit, muntah darah, serta buang air besar berwarna hitam.

Pada fase kritis, suhu tubuh penderita dapat menurun dan tubuh terasa dingin, meskipun terlihat seperti telah membaik. Namun, pada fase ini perlu kewaspadaan tinggi karena berisiko terjadi sindrom syok dengue yang dapat mengancam jiwa.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan