
Debat Kandidat Rektor UIN Walisongo Semarang Berlangsung Seru
Debat kandidat bakal calon rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang berlangsung dengan penuh semangat pada hari Selasa, 2 Desember 2025. Acara ini diselenggarakan di Auditorium 2 Kampus III dan digagas oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW). Debat terbuka yang digelar ini menjadi salah satu wadah penting dalam proses partisipatif pemilihan rektor.
Mahasiswa memiliki kesempatan untuk menilai langsung kualitas gagasan para kandidat sebelum proses seleksi dilanjutkan ke tahap berikutnya. Agenda ini diharapkan dapat memperkuat tradisi akademik yang demokratis, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan kampus.
Terdapat sedikitnya 16 bakal calon rektor yang hadir dalam debat ini. Mereka adalah:
- Prof. Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag.
- Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag.
- Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag.
- Prof. Dr. Imam Yahya, M.Ag.
- Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag.
- Prof. Dr. Muslih, M.A.
- Prof. Dr. Rokhmadi, M.Ag.
- Prof. Dr. H. Shodiq, M.Ag.
- Prof. Dr. H. Syamsul Ma’arif, M.Ag.
- Prof. Dr. H. Abdul Ghofur Be, M.Ag.
- Prof. Dr. H. Abdul Rohman, M.Ag.
- Prof. Dr. Akhmad Arif Junaidi, M.Ag.
- Prof. Dr. H. Baidi Bukhori, S.Nb.Ag., M.Si.
- Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag.
- Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag.
- Prof. Dr. H. Moh. Fauzi, M.Ag.
Dengan adanya debat ini, mahasiswa dapat mengevaluasi visi, integritas, dan kapasitas dari keenambelas bakal calon rektor yang akan memimpin universitas tersebut pada periode mendatang.
Prof. Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag., menjadi kandidat pertama yang menyampaikan paparan visi misi selama lima menit. Setelahnya, kandidat lainnya secara berturut-turut memberikan presentasi tentang gagasan strategis mengenai arah pembangunan kampus.
Prof. Fatah Syukur menyoroti dinamika persaingan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) umum dalam menarik minat mahasiswa dari madrasah dan pesantren. Menurutnya, UIN Walisongo harus melakukan akselerasi transformasi.
“PTKIN ini sangat ketat bersaing, harus adaptif terhadap revolusi digital dan globalisasi pendidikan. Kita perlu peningkatan SDM, sarana prasarana, pengembangan teknologi baru, serta pembukaan prodi-prodi yang relevan dengan kebutuhan masa depan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya memperluas jejaring kemitraan nasional dan internasional. “Kemitraan yang dibangun para pemimpin terdahulu itu banyak, tapi sebagian belum dikembangkan maksimal. Kita harus membuka peluang seluas-luasnya,” katanya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa budaya inovasi, kolaborasi, dan keterbukaan informasi harus menjadi karakter kampus. “Tidak ada superman. Yang ada adalah superteam,” tegasnya.
Prof. Abdul Ghofur menegaskan komitmennya membangun UIN Walisongo sebagai kampus yang berbasis riset, futuristik, dan kuat pada nilai-nilai Islam. Ia menyampaikan bahwa perguruan tinggi modern harus dibangun dengan landasan akademik yang kokoh.
“Reason itu sekarang menjadi basis dari semua kebijakan. Manakala keputusan diambil tanpa riset, maka akar dan fondasinya tidak kuat. Karena itu sejak semester awal, mahasiswa harus dibiasakan berhadapan dengan tradisi ilmiah,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi informasi, budaya akademik berbasis riset, tata kelola profesional, peningkatan kompetensi SDM, penguatan jejaring kerja sama dalam dan luar negeri, serta pelibatan alumni.
Menurutnya, kampus yang maju harus ditopang oleh ekosistem akademik yang kolaboratif dan berorientasi masa depan.
Sementara itu, Prof. Imam Yahya membawa gagasan “unggul, inovatif, dan mendunia” sebagai fokus pembangunan kampus. Ia menyoroti pentingnya menjaga akreditasi institusi dan program studi.
“Tahun 2025 ini UIN Walisongo sudah unggul institusinya, dan hampir 60 persen prodinya unggul. Tapi ke depan standar itu naik. Kalau kita mau tetap unggul, minimal 60 persen prodi harus berstatus unggul,” tuturnya.
Ia juga menekankan urgensi transformasi digital dan kesiapan menghadapi era kecerdasan buatan. “Tanpa mengikuti perkembangan AI, kita akan tertinggal. Sistem akademik dari rektorat sampai mahasiswa harus adaptif,” katanya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa UIN Walisongo harus semakin terhubung dengan dunia global. “Semangatnya adalah kampus ini tidak hanya untuk Semarang, tapi juga untuk dunia,” terangnya.
Prof. Mansur mengusung visi pengembangan kampus berbasis kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan kebudayaan. Ia menawarkan empat fokus utama: penguatan pembelajaran, penelitian dan pengabdian, perluasan kerja sama, serta perbaikan tata kelola.
“Saya ingin pembelajaran di UIN Walisongo itu berbasis ilmu dan kebugaran. Semua karyawan, dosen, dan mahasiswa harus punya budaya belajar yang sehat, adaptif, dan berlandaskan Pancasila serta UUD 1945,” ujarnya.
Ia menambahkan pentingnya penelitian yang relevan dengan konteks lokal. “Kita ini bangsa Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang hidup di Indonesia. Maka penelitian harus dekat dengan konteks sosial masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan peningkatan sarana prasarana, percepatan kenaikan pangkat dosen, dukungan studi lanjut, penguatan koordinasi internal, serta integritas dalam tata kelola. “Yang kita utamakan adalah kepentingan lembaga, bukan kepentingan pribadi,” tegasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar