Deklarasi Indonesia Emas 2045, Bupati Bandung Tekankan Pendidikan Karakter Awal, Ini Konsepnya

Deklarasi Indonesia Emas 2045, Bupati Bandung Tekankan Pendidikan Karakter Awal, Ini Konsepnya

Komitmen Pemerintah Kabupaten Bandung dalam Membentuk Karakter Generasi Muda

Bupati Bandung, Dadang Supriatna, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan penguatan karakter generasi muda melalui program Deklarasi Moral Indonesia Emas 2025 di SMPN 1 Soreang, Selasa 30 Desember 2025. Program ini menjadi bagian dari upaya untuk membangun fondasi yang kuat bagi anak-anak sejak dini.

Pendidikan dasar dinilai sangat krusial dalam membentuk karakter anak. Pengalaman di fase awal sekolah akan membekas hingga dewasa. “Saya ingin membentuk karakter ini dari pendidikan dasar. Karena pada tahap dasar, semua yang dialami dan dirasakan oleh anak didik itu sangat dominan,” kata Bupati Dadang Supriatna.

Menurutnya, pendidikan menengah berfungsi sebagai tahap pengembangan kemampuan, namun pembentukan karakter harus dimulai sejak dini. Dengan demikian, pemerintah kabupaten terus menggulirkan tiga muatan lokal sebagai pilar pendidikan karakter, yaitu pendidikan Pancasila dan UUD 1945, pelestarian budaya melalui bahasa Sunda, serta pembiasaan menghafal Al-Qur’an.

“Kami menyiapkan muatan lokal ini dan terus menggulirkannya. Kami tidak akan menghentikan program tersebut,” tegasnya. Dengan adanya program ini, diharapkan siswa dapat memiliki pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai kebangsaan, budaya lokal, dan agama.

Selain kurikulum, kebijakan pendukung juga disiapkan mulai tahun 2026, termasuk kehadiran guru dan kepala sekolah sejak pagi untuk membentuk iklim sekolah yang positif. Bupati Dadang Supriatna juga menginstruksikan penerapan budaya sapa, senyum, dan salam secara konsisten di seluruh instansi dan Dinas di lingkungan Pemkab Bandung.

“Kepala sekolah dan guru harus datang lebih awal. Mereka harus menyapa siswa dengan senyum dan salam,” ucapnya. Pendekatan tersebut, kata Dadang Supriatna dinilai mampu menekan potensi perundungan dan mengurangi kenakalan peserta didik. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga juga ditekankan untuk pembiasaan nilai positif yang berkelanjutan.

Program Magrib Mengaji sebagai Bentuk Pendidikan Karakter Religius

Dadang Supriatna juga menyoroti program Magrib Mengaji sebagai bagian dari pendidikan karakter religius. Hasil survei UPI menunjukkan bahwa siswa yang lancar membaca Al-Qur’an baru mencapai 23 persen, sehingga pemerintah menargetkan peningkatan signifikan.

“Kami menargetkan minimal 80 persen anak-anak bisa membaca dan mengaji Al-Qur’an. Itu menjadi harapan seluruh orang tua,” katanya. Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak dan menyiapkan langkah penguatan secara bertahap dan terukur.

“Kami sudah melakukan komunikasi. Insya Allah penguatan ini akan kami jalankan secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Langkah-Langkah Penguatan Karakter Anak

Beberapa langkah penguatan karakter anak telah direncanakan oleh pemerintah kabupaten. Di antaranya adalah:

  • Penyediaan kurikulum yang mencakup pendidikan Pancasila dan UUD 1945
  • Pelestarian budaya melalui bahasa Sunda
  • Pembiasaan menghafal Al-Qur’an
  • Penerapan budaya sapa, senyum, dan salam di lingkungan sekolah
  • Kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat program Magrib Mengaji

Dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, diharapkan generasi muda dapat memiliki karakter yang kuat, tangguh, dan berakhlak tinggi. Pemerintah kabupaten Bandung berkomitmen untuk terus memberikan dukungan penuh dalam upaya ini.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan