
Perjanjian Indonesia-Kanada CEPA Diharapkan Tingkatkan Ekspor Industri Makanan dan Minuman
Perjanjian Ekonomi dan Perdagangan Sama-sama (CEPA) antara Indonesia dan Kanada diharapkan menjadi momentum penting bagi industri makanan dan minuman (Mamin) nasional. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman, menyambut baik implementasi CEPA ini dan optimis bahwa perjanjian tersebut akan menjadi katalis kuat untuk peningkatan ekspor produk Mamin ke pasar Kanada.
Adhi mengakui bahwa secara neraca perdagangan agrikultur, Indonesia masih mengalami defisit karena tingginya impor bahan baku dari Kanada, seperti gandum, kentang, dan produk daging. Namun, ia menegaskan bahwa impor ini tidak sepenuhnya negatif. Bahan baku yang diimpor ini sebagian besar tidak dapat diproduksi secara massal di dalam negeri, sehingga menjadi komponen penting dalam proses produksi.
"Walaupun demikian, kita tetap bagus karena kita impor itu bahan baku, kebanyakan bahan baku ya, mulai gandum, kentang, dan kita memproduksi di sini sebagai produk jadi," ujar Adhi. Produk-produk olahan dari bahan baku impor ini kemudian diekspor kembali ke berbagai negara, menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi perekonomian nasional.
Target Peningkatan Ekspor yang Realistis
Menjawab pertanyaan terkait target ekspor, Adhi menyatakan optimisme yang tinggi. Dengan nilai ekspor makanan-minuman Indonesia ke Kanada tahun lalu sekitar $100 juta, ia yakin target peningkatan dua kali lipat adalah hal yang realistis.
"Harapan saya sih harusnya bisa (dua kali lipat). Mudah-mudahan dengan CEPA ini kita bisa double itu, menurut saya tidak sulit, seperti itu," katanya. Ia menilai bahwa penghapusan tarif 85% produk Kanada yang masuk ke Indonesia, yang mencakup bahan baku utama, menjadi kunci utama optimisme ini.
Dampak langsung dari penghapusan tarif ini adalah bahan baku seperti kentang jenis tertentu (untuk french fries atau keripik) yang diimpor dari Kanada akan menjadi lebih kompetitif. Hal ini akan membuat produk jadi yang dihasilkan industri Mamin menjadi lebih murah dan berkualitas, membantu daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Peluang Pasar Amerika Utara
Selain pasar domestik Kanada yang berpopulasi 41 juta, Adhi Lukman melihat peluang strategis lain. Ia menilai Kanada sebagai pintu gerbang masuk ke pasar Amerika Utara yang lebih luas.
"Kanada itu sebenarnya punya peluang masuk ke Amerika. Jadi, makanya kita selalu bilang Amerika Utara ini termasuk Kanada sama Amerika, sebenarnya ini peluang," jelasnya, menyoroti pentingnya segera meratifikasi perjanjian ini.
Strategi Ekspor yang Lebih Efektif
Dengan adanya CEPA, industri Mamin diharapkan dapat memperluas pasar ekspornya ke Kanada dan negara-negara lain di kawasan Amerika Utara. Kebijakan yang lebih progresif dan fleksibel dalam perdagangan akan memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkuat posisi mereka di pasar internasional.
Adhi juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam memastikan implementasi CEPA berjalan efektif. Dengan koordinasi yang baik, ekspor Mamin Indonesia ke Kanada dapat meningkat secara signifikan, yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap perekonomian nasional.
Tantangan dan Peluang Bersama
Meskipun ada tantangan dalam proses adaptasi terhadap aturan baru, Adhi yakin bahwa pelaku industri Mamin memiliki kapasitas dan kompetensi untuk menghadapi hal ini. Dengan dukungan pemerintah dan kebijakan yang mendukung, industri Mamin dapat menjadikan CEPA sebagai pintu masuk menuju pasar global yang lebih luas.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar