
TEHERAN, nurulamin.pro– Gelombang demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir kembali mengguncang Iran, dipicu krisis ekonomi yang kian memburuk.
Di tengah situasi tersebut, Reza Pahlavi, putra shah terakhir Iran, tampil sebagai salah satu suara oposisi paling vokal dari luar negeri.
Meski telah hidup di pengasingan sebelum Revolusi 1979, Pahlavi berupaya memposisikan diri sebagai figur nasional di tengah oposisi yang selama ini terpecah.
Ia secara terbuka menyatakan kesiapan untuk memimpin transisi politik menuju perubahan di Iran.
Reza Pahlavi serukan akhiri rezim
Dari kediamannya di Amerika Serikat, Reza Pahlavi secara rutin mengirimkan pesan kepada masyarakat Iran melalui media sosial.
Dalam salah satu video yang diunggah di platform X, ia memuji para demonstran dan menyerukan perlawanan terhadap pemerintahan yang berkuasa.
“Kita akan sepenuhnya membuat Republik Islam dan perangkat represinya yang rapuh dan usang itu bertekuk lutut,” kata Pahlavi dalam pesannya, sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (11/1/2026).
Ia juga menyamakan tuntutan para demonstran saat ini dengan gerakan yang dahulu menggulingkan kekuasaan ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, pada 1979.
Dukungan di dalam negeri masih sulit diukur
Besarnya dukungan Reza Pahlavi di dalam Iran sulit dipastikan, mengingat ia telah puluhan tahun tidak kembali ke negaranya.
Namun, sejumlah video yang terverifikasi di media sosial menunjukkan sebagian demonstran meneriakkan slogan “Hidup shah”, menandakan adanya simpati terhadap figur monarki.
Di sisi lain, banyak demonstran lebih memilih slogan umum seperti “Matilah diktator”, yang merujuk pada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, tanpa secara spesifik mendukung Pahlavi.
“Semua yang dipelajari Reza Pahlavi tentang memerintah negara berasal dari ayahnya yang gagal karena suatu alasan. Kami sudah pernah dipimpin keluarga Pahlavi, sekarang saatnya negara demokratis,” ujar Azadeh, 27 tahun, dalam pesan dari wilayah utara Iran.
Meski demikian, mayoritas demonstran menyoroti penderitaan ekonomi akibat sanksi internasional dan dampak perang udara selama 12 hari pada Juni lalu, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke wilayah Iran.
Siap pimpin transisi politik
Berbeda dengan Revolusi 1979 yang memiliki satu figur pemersatu, protes kali ini berlangsung tanpa satu pemimpin utama.
Saat itu, Ayatollah Ruhollah Khomeini menjadi simbol perlawanan melalui pidato-pidatonya yang diselundupkan dari pengasingan.
Dalam pesan-pesan terbarunya yang sebagian terhambat akibat pembatasan internet oleh pemerintah Iran, Reza Pahlavi menyatakan kesiapannya memimpin masa transisi.
Ia menegaskan ingin mengakhiri sistem pemerintahan teokratis dan menyerahkan penentuan bentuk negara kepada rakyat.
“Satu-satunya jalan menuju perdamaian adalah Iran yang sekuler dan demokratis. Hari ini saya hadir untuk menyerahkan diri kepada sesama warga negara saya, guna memimpin mereka menuju perdamaian dan transisi demokratis,” ujar Pahlavi dalam pidato yang diunggah pada 23 Juni, menjelang berakhirnya konflik bersenjata tahun lalu.
Basis kuat di diaspora Iran
Lahir pada 1960, Reza Pahlavi dinobatkan sebagai putra mahkota pada 1967 saat penobatan ayahnya.
Gaya hidup monarki yang mewah kala itu, ditambah kesenjangan ekonomi dan represi aparat keamanan SAVAK, menjadi salah satu faktor yang memicu kemarahan rakyat dan kejatuhan dinasti Pahlavi.
Reza Pahlavi meninggalkan Iran sebelum ayahnya terguling dan menetap di Amerika Serikat, tempat ia menempuh pendidikan sebagai pilot tempur dan mempelajari ilmu politik. Dari pengasingan, ia memperoleh dukungan signifikan dari diaspora Iran, khususnya di AS.
Pada 2023, ia mengunjungi Israel dan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu serta pejabat lainnya.
Ia juga mendukung serangan Israel dan AS pada Juni lalu yang menargetkan fasilitas nuklir Iran, meski menyatakan bahwa langkah lebih lanjut diperlukan untuk mendukung rakyat Iran.
Namun demikian, dukungan resmi dari pemerintah Barat terhadap dirinya masih terbatas. Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mendukung rakyat Iran jika aparat keamanan menembaki demonstran, tetapi mengaku tidak yakin pantas bertemu langsung dengan Reza Pahlavi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar