
Pendekatan Komprehensif dalam Pencegahan Terorisme di Indonesia
Indonesia sedang mengambil langkah-langkah yang lebih menyeluruh dalam memerangi terorisme. Salah satu strategi utamanya adalah memberdayakan desa-desa sebagai garis pertahanan pertama. Sejak tahun 2020, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah meresmikan lebih dari 800 Desa Siapsiaga. Program ini dirancang untuk memperkuat masyarakat di tingkat dasar agar bisa menjadi pelindung terhadap ancaman ekstremisme.
Data menunjukkan bahwa sekitar 1.700 terduga teroris ditangkap di wilayah pedesaan antara tahun 2018 hingga 2024. Hal ini menunjukkan bahwa desa tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi basis bagi kelompok-kelompok ekstremis dalam hal pelatihan, rekrutmen, dan persembunyian. Dalam sejarahnya, kelompok terorisme di Indonesia sering memilih wilayah pedesaan karena ikatan sosial yang kuat, namun rentan terhadap ideologi radikal, terutama ketika kemiskinan dan ketidakberdayaan ekonomi menjadi latar belakang kehidupan masyarakat.
Peran Desa dalam Pemberdayaan Masyarakat
BNPT tidak hanya fokus pada pengamanan desa, tetapi juga berupaya memberdayakan ekonomi masyarakat. Program Desa Siapsiaga memiliki target untuk menciptakan 2.000 desa tangguh hingga tahun 2024. Dalam program ini, tokoh agama, aparat desa, dan kelompok pemuda terlibat secara aktif dalam satu gerakan bersama.
Beberapa inisiatif yang diterapkan dalam program ini meliputi pelatihan kewirausahaan, pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta digitalisasi layanan desa. Tujuan utamanya adalah agar masyarakat memiliki ekonomi yang stabil dan masa depan yang cerah, sehingga ideologi radikal kehilangan daya tarik.
Perempuan sebagai Agen Perdamaian
Perempuan juga ditempatkan sebagai agen perdamaian dalam program ini. Berdasarkan data, sebanyak 30 kasus keterlibatan perempuan dalam terorisme tercatat antara tahun 2016 hingga 2021. Peran domestik mereka dianggap sangat strategis dalam memutus rantai radikalisme dari keluarga. BNPT juga menggandeng tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh, seperti mantan narapidana Amir Fallah, agar pesan damai dapat disampaikan lebih efektif dibandingkan dengan kampanye resmi.
Program Desa Siapsiaga juga menempatkan perempuan sebagai garda terdepan dalam menyebarkan pesan kontra-narasi radikal di tingkat komunitas. Mereka menjadi jembatan antara intervensi pemerintah dan nilai-nilai lokal yang dihormati oleh masyarakat.
Kolaborasi Lintas Sektor
Kolaborasi lintas sektor menjadi ciri khas dari program ini. BNPT bekerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk memastikan pendekatan yang holistik. Pelatihan kewirausahaan tidak hanya sekadar teori, tetapi dirancang untuk menciptakan lapangan kerja nyata bagi pemuda desa.
Pendampingan UMKM membantu warga mengembangkan usaha lokal, sementara digitalisasi layanan desa membuka akses ke pasar yang lebih luas. Ekonomi yang berkembang menjadi dinding pertahanan paling efektif terhadap radikalisme.
Desa sebagai Basis Prioritas Nasional
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 20252029, Desa Siapsiaga menjadi bagian penting dari prioritas nasional. Desa dipilih sebagai basis program karena pranata sosial terdekat dengan masyarakat dinilai paling efektif untuk membangun ketahanan.
Ikatan kekerabatan dan modal sosial di desa dapat diaktifkan untuk deteksi dini ancaman ekstremisme, mulai dari perubahan perilaku individu hingga dinamika komunitas yang mencurigakan.
Buktikan Efektivitas Program
Wilayah seperti Cirebon serta berbagai wilayah di Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara telah membuktikan efektivitas program ini. Masyarakat mulai memiliki kesadaran untuk melindungi desa, dengan tokoh agama menjadi sumber terpercaya penyampai pesan damai dan kelompok pemuda aktif dalam kegiatan sosial yang mencegah keterlibatan mereka dalam ekstremisme.
Strategi ini menandai pergeseran paradigma keamanan nasional. Terorisme tidak lagi dipandang hanya sebagai urusan militer atau penegakan hukum. Desa Siapsiaga menunjukkan bahwa pencegahan terorisme berawal dari masyarakat yang bukan lagi menjadi target, melainkan subjek aktif dalam menjaga keutuhan negara.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar