Dewi Astutik, Buron Internasional Pembawa 2 Ton Sabu dari Ponorogo

Dewi Astutik, Buron Internasional Pembawa 2 Ton Sabu dari Ponorogo

Penangkapan Dewi Astutik, Gembong Narkoba Internasional

Seorang perempuan asal Ponorogo yang diketahui memiliki keterkaitan dengan wilayah Jawa Tengah menjadi sorotan setelah ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI di Kamboja, serta Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Perempuan ini disebut sebagai gembong narkoba internasional yang terlibat dalam penyelundupan dua ton sabu jaringan Golden Triangle yang digagalkan pada Mei 2025.

Dewi Astutik, yang juga menjadi buronan otoritas Korea Selatan, ditangkap saat hendak menuju lobi sebuah hotel di Sihanoukville, Kamboja. Penangkapan ini dilakukan melalui operasi senyap lintas negara yang dipimpin oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan. Setelah ditangkap, ia dibawa ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi antar-otoritas.

Setibanya di Indonesia, Dewi akan menjalani pemeriksaan intensif guna mengungkap alur pendanaan, logistik, dan pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan narkoba yang selama ini beroperasi secara masif dan terorganisasi. Jaringan ini diketahui aktif mendistribusikan berbagai jenis narkotika, termasuk kokain, sabu, dan ketamin, ke wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara.

BNN menegaskan bahwa penindakan tidak akan berhenti pada penangkapan ini, tetapi berlanjut pada pembongkaran seluruh struktur jaringan yang selama ini beroperasi secara masif dan terorganisasi.

Identitas Asli Dewi Astutik Diperiksa

Kepolisian Resor (Polres) Ponorogo memastikan identitas asli dari Dewi Astutik, buronan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam kasus penyelundupan 2 ton sabu, bukanlah nama sebenarnya. Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo menyebut, pihaknya telah menelusuri alamat Dewi Astutik di Dukuh Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Namun, hasil pengecekan menunjukkan bahwa nama Dewi Astutik tidak tercatat sebagai warga setempat. “Kami sudah ke lokasi. Dewi Astutik itu sesuai KTP merupakan warga Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, tetapi nama aslinya bukan Dewi Astutik,” kata Andin saat ditemui di Mapolres Ponorogo, Rabu (28/5/2025).

Andin menjelaskan, identitas Dewi Astutik diduga merupakan hasil pemalsuan yang dilakukan oleh seorang perempuan berinisial PA, yang juga berasal dari Ponorogo dan pernah bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hongkong, Taiwan, dan terakhir di Kamboja. “Ibu itu (Dewi Astutik buronan BNN) memang KTP-nya Ponorogo. Identitas yang pertama dipalsukan, punya keluarganya. Orang situ (Ponorogo), tapi kartunya (KTP) dipalsukan. Sudah lama jadi PMI, disinyalir di Kamboja. Sudah jadi red notice oleh Interpol,” imbuhnya.

Fakta di Balik KTP dan Paspor

Dewi Astutik mencuat dalam konferensi pers BNN usai penggagalan penyelundupan sabu-sabu seberat 2 ton di perairan Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, pada Rabu (21/5/2025). Barang haram tersebut dibawa menggunakan kapal MT Sea Dragon Tarawa dan ditaksir senilai Rp 5 triliun.

Dalam pengungkapan itu, BNN merilis fotokopi KTP dan paspor atas nama Dewi Astutik yang menunjukkan alamat di Kabupaten Ponorogo. Berdasarkan dokumen tersebut, Dewi disebut sebagai dalang di balik penyelundupan sabu 2 ton dan telah menjadi buronan internasional dengan status red notice dari Interpol sejak 2024.

Namun, warga setempat menyatakan tidak mengenal nama Dewi Astutik. “Kalau warga di sini yang bernama Dewi Astutik tidak ada. Tetapi alamat itu memang warga sini, dan fotonya itu juga kenal,” ujar Gunawan, Kepala Dusun Sumber Agung, Selasa (27/5/2025).

Gunawan mengonfirmasi bahwa foto dalam KTP dan paspor tersebut mirip dengan salah satu warganya, yakni perempuan berinisial PA.

Penelusuran Identitas yang Tidak Terdaftar

Selain itu, pihak Polres Ponorogo juga menemukan bahwa Dewi Astutik tidak tercatat sebagai warga setempat. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya pemalsuan identitas yang dilakukan oleh seseorang yang ingin menyembunyikan identitas asli mereka.

Peristiwa ini menunjukkan betapa kompleksnya jaringan narkoba internasional yang melibatkan berbagai pihak dari berbagai negara. Penangkapan Dewi Astutik menjadi langkah penting dalam upaya BNN dan lembaga terkait lainnya untuk membersihkan wilayah Indonesia dari ancaman narkoba yang semakin merajalela.

Dengan adanya penangkapan ini, diharapkan dapat memberikan efek jera bagi pelaku-pelaku narkoba dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap upaya pemerintah dalam mengatasi masalah narkoba.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan