Diplomasi yang mengubah Nusa Tenggara Barat

nurulamin.pro.CO.ID, JAKARTA -- Di awal dekade ini, dunia bergerak semakin cepat. Negara dan daerah tak lagi hanya berpacu dalam kompetisi domestik, tetapi telah terlibat dalam jaringan global yang kompleks. Bagi Nusa Tenggara Barat (NTB), fenomena ini memaksa lahirnya sebuah kesadaran strategis: untuk maju dan sejahtera, ketergantungan pada bantuan atau kolonisasi pasar saja tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah kerja sama yang setara dan saling menguntungkan, yang menempatkan NTB sebagai subjek aktif, bukan sekadar objek.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Provinsi NTB pun mulai secara aktif memperluas jangkauan diplomasi daerahnya. Kerja sama internasional dimaknai bukan sebagai acara seremonial, melainkan sebagai instrumen strategis pembangunan. Langkah awal dimulai pada 2023 melalui program pengiriman tenaga kerja terampil ke Jepang. Kerja sama dengan sejumlah perusahaan Jepang ini membuka akses formal bagi pekerja migran asal NTB dengan skema specified skilled worker mulai Januari 2024.

Inisiatif ini bukan sekadar membuka lapangan kerja, tetapi merupakan komitmen untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) berstandar global. Bagi tenaga kerja NTB, program ini menjadi peluang berharga untuk mengasah keterampilan, sebuah investasi manusia yang berdampak jangka panjang. Namun, implementasinya juga menghadirkan tantangan, seperti kebutuhan akan pembekalan psikososial yang memadai dan strategi pasca-program untuk memastikan keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan optimal setelah kembali ke daerah.

Pelajaran penting dari pionir hubungan bilateral ini adalah bahwa kerja sama internasional harus dibangun dengan perencanaan jangka panjang dan terintegrasi. Artinya, program semacam ini perlu menjadi bagian dari peta jalan pengembangan SDM daerah, bukan merupakan kegiatan yang berdiri sendiri.

Memasuki periode 2024–2025, fokus diplomasi NTB berkembang mencakup dimensi ekonomi dan pariwisata. Sebagai contoh, pada Februari 2024, NTB menjalin kerja sama dengan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya dalam bidang pengembangan ekspor. Kolaborasi ini memfasilitasi pelatihan bagi pelaku usaha lokal dan pertemuan dengan pembeli internasional, sebagai upaya konkret memperluas akses pasar global.

Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks rekonfigurasi rantai pasok global pasca pandemi. NTB, dengan keunggulan komparatif di sektor agraris dan pariwisata, berusaha masuk ke dalam jaringan perdagangan global. Data pada akhir 2025 menunjukkan ekspor NTB telah menjangkau banyak negara, termasuk Jepang, Tiongkok, dan negara-negara Eropa seperti Swiss, yang mencerminkan integrasi ekonominya yang kian mendalam.

Di bidang pariwisata, diplomasi aktif dijalankan dengan menetapkan pasar prioritas seperti Australia, Malaysia, dan Singapura. Ini menunjukkan ambisi NTB tidak sekadar ingin dikenal, tetapi menjadi destinasi utama dalam persaingan pariwisata regional. Kolaborasi dengan perusahaan global seperti Warner Bros Discovery untuk promosi semakin memperkuat positioning ini. Namun, diplomasi ekonomi-pariwisata harus disertai strategi inklusif agar manfaatnya benar-benar dirasakan UMKM dan komunitas lokal, bukan hanya dinikmati oleh pemain besar atau modal asing.

 

Tahun 2026 menandai babak baru dengan dibukanya kemitraan strategis dengan Pemerintah Kanada. Kunjungan Menteri Pembangunan Internasional Kanada ke NTB difokuskan pada penciptaan hubungan kemitraan yang setara dan saling menguntungkan, mencakup bidang UMKM, energi bersih, hingga pengelolaan mineral.

Yang signifikan, Kanada secara resmi menyatakan NTB sebagai mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik, khususnya untuk kerja sama investasi di bidang energi terbarukan dan ketahanan iklim. Pernyataan ini bersifat strategis, menegaskan bahwa NTB dipandang sebagai mitra aktif dalam menjawab tantangan global, bukan sekadar penerima proyek. Kerja sama semacam ini membuka peluang transfer teknologi dan percepatan transisi energi, namun membutuhkan cetak biru yang jelas dengan indikator kinerja dan mekanisme evaluasi yang transparan.

Meski peluang terbuka lebar, tantangan tetap ada. Lokasi geografis yang jauh dari pusat ekonomi global, keterbatasan anggaran daerah, serta kebutuhan menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan serta budaya lokal adalah hal-hal yang perlu diantisipasi. Tanpa strategi mitigasi risiko, kerja sama berpotensi berubah menjadi eksploitasi yang tidak seimbang.

Perjalanan dari 2020 hingga 2026 menunjukkan transformasi NTB dari wilayah yang reaktif menjadi provinsi yang proaktif merancang posisinya di peta global. Ke depan, strategi NTB perlu mengkonsolidasi tiga pilar utama: penguatan kapasitas SDM berkelanjutan, integrasi UMKM ke dalam rantai nilai global, dan kemitraan strategis dengan KPI yang terukur.

Untuk itu, pemerintah daerah perlu memperkuat kelembagaan yang menangani kerja sama internasional, membangun pusat data yang transparan, serta meningkatkan kapasitas negosiasi birokrasinya. Penting juga untuk membentuk forum multi-pihak yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat sipil dalam perencanaan.

Pada akhirnya, NTB sedang membangun lebih dari sekadar jaringan hubungan luar negeri. Provinsi ini sedang mengkonstruksi kapasitasnya untuk menjadi entitas yang berdaya saing global tanpa kehilangan jati diri lokalnya. Dengan diplomasi yang matang dan perencanaan yang inklusif, NTB tidak hanya beraspirasi untuk dikenal, tetapi untuk dihormati dan diandalkan di panggung internasional.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan